Beranda / Mobil Baru / Katalog / Mitsubishi Destinator

Mitsubishi Destinator

Rp 385 Juta - Rp 495 Juta
Kapasitas Mesin
4 CC
Mesin
1.5L Petrol Engine, 4 Cylinder 16 Valve DOHC
Roda Penggerak
FWD, AWC
Jenis Bahan Bakar
Bensin
Pintu
5
Tempat Duduk
7
Foto Interior
Foto Eksterior
Pilihan Warna
Ciptakan gayamu dengan berbagai pilihan warna
5 Pilihan Warna
Blade Silver
Quartz White
Graphite Grey
Lunar Blue
Jet Black
Tipe Kendaraan
Mitsubishi Destinator Ultimate
Rp 465 Juta
Dapatkan Ekslusif Promo
Mitsubishi Destinator Exceed
Rp 405 Juta
Dapatkan Ekslusif Promo
Mitsubishi Destinator GLS
Rp 385 Juta
Dapatkan Ekslusif Promo
Mitsubishi Destinator Ultimate Premium
Rp 495 Juta
Dapatkan Ekslusif Promo
Fitur Kendaraan
Mitsubishi Destinator Ultimate
Mitsubishi Destinator Exceed
Mitsubishi Destinator GLS
Mitsubishi Destinator Ultimate Premium
Kapasitas Mesin
4 CC
Jenis Bahan Bakar
Bensin
Mesin
1.5L Petrol Engine, 4 Cylinder 16 Valve DOHC
Pintu
5
Roda Penggerak
FWD, AWC
Tempat Duduk
7
Power Steering
AUX
USB
Engine On
Camera Back
Parking Sensor
Bluetooth
ABS EBD
Airbag
Alarm
Side Airbag
Blind Spot Monitor
Collision Avoidance System
Stability Control
Brake Assist
Emergency Stop Signal
Central Lock
Power Door Lock
Cruise Control
Reading Lamp
Heater
Stereo Am Fm
Apple Carplay
Android Auto
Touch Screen
Rear Ac
Sunroof
Headrest Adjust
Wiper Auto
Led Daytime
Electric Foldable Mirror
Seat Belt Warning
Lihat Semua

MITSUBISHI DESTINATOR
Artikel Terkait
Lihat Semua
Toyota Ungkap Alasan Tolak Pesanan Mobil Murah dari Agrinas
09 Mar 2026
Toyota Ungkap Alasan Tolak Pesanan Mobil Murah dari Agrinas 09 Mar 2026 Jakarta, Goodcar.id - PT Agrinas Pangan Nusantara memang menawarkan pembelian pick up ke sejumlah Agen Pemegang Merek (APM) di Indonesia. Langkah ini dilakukan untuk mendukung program operasional koperasi desa dan distribusi pangan nasional. Namun, beberapa APM, termasuk Toyota, menyatakan tidak dapat memenuhi permintaan tersebut karena perbedaan harga dan jenis kendaraan yang diminta. "Kenapa keputusannya kita nggak bisa fulfill, ya mohon maaf salah satunya contohnya jenis kendaraan, harga, itu kita nggak ketemu. Nah kalau masalah production capacity ya tentunya kita bisa secara bertahap nanti mendiskusikan," ujar Direktur Marketing PT Toyota Astra Motor, Jap Ernando Demily, saat ditemui media, dalam acara Iftar Ramadhan di Senayan, Jakarta, Jumat (6/3/2026). Tawaran Harga Pick Up Toyota Hilux 4x4 Tidak Cocok Menjadi Faktor Ernando menjelaskan bahwa harga yang diajukan Agrinas lebih rendah daripada harga pasar pick up 4x4 Toyota saat ini. Menurutnya, harga tinggi pada kendaraan jenis ini di Indonesia disebabkan oleh faktor pajak dan struktur biaya yang berbeda dari mobil penumpang. "Contoh Hilux Double Cabin itu harganya Rp 456 juta, tapi teman-teman juga perlu cermatin kalau teman-teman lihat di cost structure," ujar Ernando. Ia menambahkan, harga mobil termasuk harga kendaraan itu sendiri, luxury tax, Bea Balik Nama (BBN), dan pajak lainnya. Hal ini membuat harga pick up 4x4 di Indonesia relatif tinggi dibandingkan pasar global, karena mobil jenis ini dianggap memiliki kemungkinan penggunaan lebih banyak untuk personal dibandingkan kendaraan operasional. Toyota menegaskan bahwa meskipun kesepakatan belum tercapai, ruang diskusi tetap terbuka. Jika permintaan Agrinas disesuaikan dengan harga pasar dan jenis kendaraan yang tersedia, negosiasi bisa dilakukan secara bertahap. Pernyataan ini menunjukkan bahwa ketidakcocokan harga menjadi faktor utama yang menghambat proses pengadaan mobil untuk program koperasi desa. Beberapa APM lain di Indonesia juga menghadapi kendala serupa saat dimintai penawaran harga mobil oleh Agrinas. Penawaran harga yang jauh di bawah pasar membuat beberapa brand menunda atau menolak, karena perbedaan harga ini tidak sesuai dengan struktur biaya dan strategi penjualan masing-masing APM. Struktur Harga Pick Up di Indonesia Harga pick up 4x4 di Indonesia berbeda dibandingkan mobil penumpang karena beberapa faktor: Harga kendaraan – biaya produksi dan distribusi dari pabrik ke dealer. Luxury tax – pajak tambahan untuk kendaraan yang dikategorikan mewah atau penggunaan pribadi. Bea Balik Nama (BBN) – biaya administrasi saat kendaraan didaftarkan. Pajak lain – termasuk pajak daerah dan pajak penjualan kendaraan bermotor. Kombinasi faktor ini membuat harga Hilux Double Cabin mencapai Rp 456 juta, sehingga tawaran harga Agrinas yang lebih rendah tidak memenuhi standar APM. Pengadaan kendaraan untuk koperasi desa menjadi bagian dari program pemerintah untuk memperkuat distribusi hasil pertanian. Namun, perbedaan harga antara permintaan Agrinas dan harga pasar APM menimbulkan tantangan dalam implementasi program. Meski Toyota dan beberapa APM lain siap mendukung secara bertahap, negosiasi harga menjadi poin kunci sebelum pengadaan bisa terealisasi. Lihat Selengkapnya
Siap Meluncur: Mitsubishi Xpander Hybrid atau Mitsubishi Xforce Hybrid?
05 Mar 2026
Siap Meluncur: Mitsubishi Xpander Hybrid atau Mitsubishi Xforce Hybrid? 05 Mar 2026 Jakarta, Goodcar.id - Mitsubishi Motors memastikan langkah besarnya di pasar otomotif nasional dengan rencana meluncurkan mobil hybrid pertama di Indonesia pada tahun ini. Informasi tersebut disampaikan oleh PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) sebagai bagian dari strategi menghadirkan produk-produk baru berkualitas tinggi sepanjang 2026. Teknologi hybrid dipilih sebagai pijakan awal Mitsubishi untuk memperluas pilihan elektrifikasi sekaligus memperkuat kinerja penjualan di Tanah Air. Kehadiran mobil hybrid ini bukan sekadar menambah varian produk, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi konsumen Indonesia mengenai teknologi ramah lingkungan yang dikembangkan Mitsubishi. Model hybrid perdana ini diharapkan mampu menjembatani transisi dari kendaraan konvensional menuju elektrifikasi penuh, tanpa mengorbankan kenyamanan dan karakter berkendara yang sudah dikenal. Meski belum mengungkapkan model secara resmi, pihak Mitsubishi memberi sinyal kuat bahwa kendaraan hybrid yang akan dipasarkan di Indonesia berasal dari jajaran yang lebih dulu meluncur di Thailand. Dua nama yang sudah beredar di Negeri Gajah Putih adalah Mitsubishi Xpander Hybrid dan Mitsubishi Xforce Hybrid. Salah satunya dipastikan akan dijual sekaligus diproduksi di Indonesia, menegaskan komitmen Mitsubishi terhadap pasar domestik. Teknologi Hybrid pada Mitsubishi Xpander Hybrid Di Thailand, Xpander Hybrid dan Xpander Cross HEV mengusung pembaruan signifikan pada sektor mesin. Jika versi konvensional menggunakan mesin 1.500 cc, varian hybrid kini mengandalkan mesin 1.600 cc yang dipadukan motor listrik serta baterai khusus. Mitsubishi mengklaim sistem ini menghadirkan akselerasi yang halus namun responsif, karakter yang identik dengan kendaraan listrik. Generator dan motor listrik berdaya 85 kW bekerja bersama mesin bensin 1.600 cc, menghasilkan torsi instan hingga 255 Nm saat start. Respons pedal gas pun diklaim lebih sigap, terutama pada kondisi stop and go di perkotaan. Mesin bensin yang digunakan adalah unit MIVEC 4-silinder 16-katup 1,6 liter DOHC terbaru yang mengadopsi siklus Atkinson untuk efisiensi pembakaran lebih optimal. Mitsubishi juga menyematkan water pump elektrik—pertama kalinya digunakan pabrikan ini—untuk menekan mechanical loss. Hasilnya, konsumsi bahan bakar diklaim lebih efisien hingga 34 persen di rute perkotaan berdasarkan pengujian NEDC, serta sekitar 15 persen pada rute kombinasi. Mitsubishi Xforce Hybrid dengan Mode EV Selain Xpander Hybrid, Mitsubishi Xforce Hybrid juga mencuri perhatian. Model ini menawarkan Mode EV yang memungkinkan mobil melaju murni dengan tenaga listrik dari baterai tanpa menyalakan mesin. Ketika daya baterai menipis, sistem akan otomatis beralih ke mode Charge tanpa perlu mengisi daya di SPKLU. Di balik kap, Xforce Hybrid mengandalkan mesin 1.6 liter berkode 4A92 dengan teknologi katup variabel MIVEC. Mesin ini menghasilkan daya 79 PS dan torsi 134 Nm, yang kemudian dipadukan motor listrik sehingga total output mencapai 116 tenaga kuda dan torsi 255 Nm, disalurkan ke roda depan. Mitsubishi juga melakukan penyempurnaan pada sistem transaxle Xforce HEV dibanding Xpander HEV. Optimalisasi ini membuat aliran energi lebih efisien dan meminimalkan kehilangan daya. Hasilnya, konsumsi bahan bakar Xforce HEV diklaim mampu mencapai 24,4 km per liter. Lihat Selengkapnya
Perbedaan DP dan TDP dalam Kredit Mobil yang Harus Kamu Tahu
03 Mar 2026
Perbedaan DP dan TDP dalam Kredit Mobil yang Harus Kamu Tahu 03 Mar 2026 Jakarta, Goodcar.id - Banyak calon pembeli mobil sering bingung soal istilah DP dan TDP saat ingin membeli mobil secara kredit. Kedua istilah ini memang terdengar mirip, tetapi memiliki arti dan fungsi yang berbeda, serta berpengaruh besar pada jumlah cicilan yang harus dibayar setiap bulan. Memahami perbedaan keduanya penting agar kamu bisa menyiapkan dana dengan tepat dan menghindari kebingungan saat proses kredit. Mengutip laman resmi Mitsubishi motors, disebutkan DP, atau Down Payment, adalah uang muka pokok yang dibayarkan di awal sebagai bagian dari harga mobil. DP Mengurangi Jumlah OTR “DP langsung mengurangi jumlah harga mobil yang dikredit, sehingga semakin besar DP, cicilan per bulan akan semakin ringan,” tulis Mitsubishi Motors dikutip 2 Maret 2026. Sebaliknya, DP kecil berarti cicilan per bulan akan lebih tinggi karena nominal yang dikredit lebih besar. Misalnya, jika harga mobil Rp300 juta dan kamu membayar DP sebesar Rp60 juta atau 20%, maka sisa yang dikredit adalah Rp240 juta. Cicilan per bulan akan dihitung dari angka Rp240 juta tersebut, bukan dari harga penuh mobil. Dengan kata lain, DP murni hanya untuk menekan nominal kredit dan belum termasuk biaya tambahan lainnya. Sementara itu, TDP, atau Total Down Payment, adalah total uang yang harus disiapkan di muka saat mulai kredit. TDP mencakup DP itu sendiri ditambah berbagai biaya tambahan, seperti biaya administrasi dan provisi, asuransi kendaraan, biaya fidusia, biaya STNK dan BPKB, serta kadang termasuk angsuran pertama. Misalnya, jika DP sebesar Rp60 juta, biaya administrasi dan provisi Rp5 juta, asuransi Rp7 juta, dan biaya lain-lain Rp3 juta, maka TDP yang harus dibayarkan di awal adalah Rp75 juta. Dengan kata lain, TDP memberi gambaran total uang yang harus keluar di muka, bukan hanya pokok DP. Perbedaan utama antara DP dan TDP adalah bahwa DP hanya mengurangi harga mobil yang dikredit, sedangkan TDP merupakan jumlah total uang di awal yang meliputi DP dan semua biaya tambahan. DP berfokus pada besaran kredit dan cicilan per bulan, sementara TDP menunjukkan kesiapan finansial kamu untuk membayar semua biaya di muka sebelum mobil resmi bisa dibawa pulang. Karena itu, banyak iklan mobil menampilkan angka TDP yang terlihat kecil agar menarik, padahal DP sebenarnya mungkin lebih tinggi, dan cicilan per bulan tetap tergantung pada nominal kredit dan tenor. Supaya tidak salah perhitungan, sebaiknya calon pembeli selalu mengecek DP yang ditawarkan, menghitung semua biaya tambahan yang termasuk dalam TDP, menyesuaikan DP dengan kemampuan membayar cicilan, serta memahami tenor dan bunga yang berlaku. Semakin besar DP yang dibayar, semakin ringan cicilan bulanan, tetapi tetap harus diperhitungkan apakah dana awal tersebut sesuai dengan kondisi keuangan. Dengan memahami perbedaan DP dan TDP, kamu bisa menyiapkan dana dengan tepat, menghindari cicilan berat yang membebani, dan mengambil keputusan kredit mobil yang lebih cerdas. Lihat Selengkapnya
Hino Pasok 10.000 Truk untuk Kopdes Merah Putih, Produksi Nasional Ditingkatkan Bertahap
01 Mar 2026
Hino Pasok 10.000 Truk untuk Kopdes Merah Putih, Produksi Nasional Ditingkatkan Bertahap 01 Mar 2026 Jakarta, Goodcar.id – Penjualan truk Hino kini melonjak tajam. PT Hino Motors Sales Indonesia (HMSI) mengakui berdampak pada masa tunggu pembelian unit untuk konsumen retail meningkat signifikan setelah perusahaan memfokuskan kapasitas produksi pada pengadaan 10.000 unit truk ringan untuk program Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih. Biasanya, konsumen hanya menunggu satu hingga dua bulan. Namun sekarang, durasinya bisa mencapai empat hingga lima bulan. "Waktu tunggunya jadi lebih lama. Mungkin bisa 4-5 bulan (inden), biasanya satu sampai dua bulan," kata Wibowo Santoso, Supply Chain and Marketing Communication (SCMC) Division Head HMSI, kepada media di dealer Hino, Wisma Indomobil Jakarta Timur, Jumat (27/2/2028). Produksi Difokuskan ke Program Pemerintah HMSI menegaskan bahwa lonjakan inden truk Hino terjadi karena perusahaan mendukung program strategis pemerintah melalui pengadaan kendaraan niaga untuk Kopdes Merah Putih. Model yang diminta adalah light duty truck (LDT) roda enam penggerak 4x2 tipe 136HD. Unit ini diproduksi secara lokal untuk memenuhi kebutuhan proyek tersebut. Menurut Wibowo, peningkatan produksi dalam waktu singkat bukan perkara mudah. Pabrikan harus menyiapkan rantai pasok secara bertahap. "Terus terang untuk naik sekonyong-konyong itu butuh waktu gradually. Delivery pelan-pelan. Untuk kami memaksimalkan total kapasitas produksi itu kita harus persiapkan bahan baku, kita punya supplier-supplier," jelasnya. Beberapa tantangan yang dihadapi antara lain kesiapan supplier, ketersediaan bahan baku, rekrutmen sumber daya manusia, serta optimalisasi kapasitas lini produksi. Kebutuhan Agrinas Capai 80 Ribu Unit LDT Program ini digarap oleh PT Agrinas Pangan Nusantara yang membutuhkan sekitar 80.000 unit light duty truck sepanjang 2026. Dari sisi produksi dalam negeri, total kapasitas maksimal pabrikan lokal hanya mampu memasok 45.000 unit. Rinciannya: Mitsubishi Fuso: 20.600 unit Foton Aumark: 13.500 unit Hino: 10.000 unit Isuzu: 900 unit Dengan angka tersebut, kekurangan pasokan akhirnya dipenuhi melalui jalur impor. Impor 35 Ribu Truk dari India Agrinas memutuskan mengimpor 35.000 unit truk Ultra T.7 dari Tata Motors untuk melengkapi kebutuhan Kopdes Merah Putih. Direktur Utama Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota, menegaskan bahwa pihaknya telah membuka tender kepada berbagai produsen kendaraan niaga dalam negeri sebelum memutuskan impor. “Klarifikasi terkait isu bahwa kami tidak memberikan kesempatan kepada produsen lokal, itu tidak benar. Dalam bisnis, wajar jika tidak terjadi kesepakatan,” ujar Joao di Jakarta, Selasa (24/2/2026). Menurut Joao, persoalan utama terletak pada harga dan kapasitas produksi. Agrinas membeli dalam jumlah besar dengan skema bulk, namun sejumlah produsen tetap menawarkan harga seperti pasar reguler. “Seharusnya, kami diberikan harga lebih ekonomis dan efektif sesuai anggaran. Namun, hingga akhir, sebagian besar produsen lokal tetap menghitung harga per unit seperti di pasar reguler, jadi menurut saya tidak fair,” jelasnya. Total Impor 105 Ribu Unit Pikap dan Truk Secara keseluruhan, Agrinas mengimpor 105.000 unit kendaraan niaga dalam kondisi completely built up (CBU) dari India. Rinciannya meliputi: 35.000 unit pikap Scorpio dari Mahindra 35.000 unit Tata Yodha Pick Up 35.000 unit truk Ultra T.7 dari Tata Motors Langkah ini diklaim mampu menghemat anggaran hingga Rp46,5 triliun dibandingkan skema lain yang ditawarkan. Dampak ke Konsumen Retail Di tengah fokus besar pada proyek Kopdes Merah Putih, HMSI memastikan produksi tetap berjalan, namun distribusi dilakukan secara bertahap menyesuaikan prioritas proyek nasional. Lihat Selengkapnya

TANYA LEBIH JAUH TENTANG UNIT

Goodfriends bisa bertanya lebih jauh tentang ketersediaan unit, promo & benefit menarik, negosiasi harga ataupun simulasi kredit yang sesuai dengan kebutuhan Anda.