Beranda / Mobil Baru / Katalog / KIA EV 4

KIA EV 4

Rp 380 Juta - Rp 580 Juta
Jarak Tempuh
430 KM
Mesin
Permanent Magnet Synchronous Motor (PMSM)
Roda Penggerak
FWD
Jenis Bahan Bakar
Listrik
Pintu
5
Tempat Duduk
5
Foto Interior
Foto Eksterior
Pilihan Warna
Ciptakan gayamu dengan berbagai pilihan warna
9 Pilihan Warna
Wolf Grey
Black Pearl
Cassa White
Morning Haze
Blue Flame
Penta Metal
Deluxe White
Ivory Silver
Magma Red
Tipe Kendaraan
KIA EV 4 Air
Rp 380 Juta
Dapatkan Ekslusif Promo
KIA EV 4 Long Range Air
Rp 513 Juta
Dapatkan Ekslusif Promo
KIA EV 4 Long Range GT Line
Rp 580 Juta
Dapatkan Ekslusif Promo
Fitur Kendaraan
KIA EV 4 Air
KIA EV 4 Long Range Air
KIA EV 4 Long Range GT Line
Jarak Tempuh
430 KM
Jenis Bahan Bakar
Listrik
Mesin
Permanent Magnet Synchronous Motor (PMSM)
Pintu
5
Roda Penggerak
FWD
Tempat Duduk
5
Power Steering
USB
Engine On
Camera Back
Parking Sensor
Bluetooth
ABS EBD
Airbag
Alarm
Immobilizer
Side Airbag
Collision Avoidance System
Stability Control
Brake Assist
Tire Pressure Monitor
Child Safety Lock
Emergency Stop Signal
Isofix Child Seat
Central Lock
Power Door Lock
Cruise Control
Navigation
Heater
Apple Carplay
Android Auto
Touch Screen
Headrest Adjust
Wiper Auto
Led Daytime
Electric Foldable Mirror
Seat Belt Warning
Welcome Light
Lihat Semua

KIA EV 4
Artikel Terkait
Lihat Semua
Wacana Pembayaran Parkir Tahunan Bersama STNK Masih Dikaji
23 Feb 2026
Wacana Pembayaran Parkir Tahunan Bersama STNK Masih Dikaji 23 Feb 2026 Jakarta, Goodcar.id - Belakangan, wacana pembayaran biaya parkir tahunan bersamaan dengan perpanjangan STNK ramai dibicarakan di media sosial dan portal berita otomotif. Gagasan ini muncul sebagai langkah untuk menyederhanakan administrasi pembayaran parkir sekaligus pajak kendaraan bagi masyarakat. Sejumlah pemerintah daerah, terutama di Sulawesi Selatan, tengah meneliti kemungkinan penerapan sistem ini. Kajian yang dilakukan mencakup revisi aturan perparkiran, mekanisme integrasi dengan STNK, serta evaluasi dampak bagi warga pengguna kendaraan. Wacana ini menimbulkan perhatian publik karena menyentuh langsung pengeluaran rutin pengguna kendaraan bermotor. Tujuan Integrasi Parkir dan STNK Sistem ini direncanakan agar masyarakat tidak perlu membayar parkir berulang kali setiap kali menggunakan kendaraan. Dengan integrasi tersebut, pembayaran parkir bisa dilakukan sekali setahun bersamaan dengan perpanjangan STNK. Selain mempermudah masyarakat, sistem ini juga diharapkan dapat meningkatkan pencatatan pembayaran parkir secara resmi. Catatan yang lebih rapi memungkinkan pemerintah daerah memantau penerimaan dari sektor parkir secara lebih akurat, serta menekan praktik parkir liar yang masih ditemui di beberapa wilayah. Tarif yang Beredar Masih Sebatas Wacana Informasi yang beredar menyebutkan perkiraan tarif tahunan bagi kendaraan yang mengikuti sistem ini. Kendaraan roda dua diperkirakan sekitar Rp 365 ribu per tahun, sementara kendaraan roda empat sekitar Rp 730 ribu per tahun. Namun, angka ini belum resmi dan masih dalam tahap wacana. Masyarakat belum diwajibkan membayar parkir tahunan bersamaan dengan STNK. Tarif resmi akan bergantung pada keputusan pemerintah daerah setelah kajian selesai. Sampai saat ini, semua informasi terkait nominal pembayaran dan mekanisme sistem masih bersifat indikatif. Hingga kini, sistem pembayaran parkir tahunan bersamaan dengan STNK belum berlaku secara nasional. Pemerintah daerah yang mengkaji wacana ini masih menilai berbagai faktor, termasuk kelayakan administrasi, dampak finansial bagi masyarakat, serta prosedur teknis untuk integrasi sistem pembayaran. Masyarakat diimbau untuk mengikuti informasi resmi dari instansi terkait sebelum melakukan pembayaran tambahan. Wacana ini menjadi perhatian publik karena menyentuh pengguna kendaraan secara langsung, terutama di wilayah dengan volume parkir tinggi. Pemerintah daerah menekankan bahwa seluruh proses masih dalam tahap kajian dan belum ada keputusan final mengenai mekanisme atau tarif yang akan diterapkan. Wacana integrasi biaya parkir ke STNK menimbulkan berbagai reaksi dari masyarakat. Beberapa pihak menilai sistem ini berpotensi menambah beban pengeluaran, sementara sebagian lainnya melihat kemudahan administrasi sebagai nilai tambah. Meski demikian, hingga saat ini, semua perhitungan tarif dan mekanisme implementasi masih berupa kajian dan belum ditetapkan resmi. Lihat Selengkapnya
Spesifikasi Mobil Pick up dari India yang akan Diimpor untuk Koperasi Merah Putih
23 Feb 2026
Spesifikasi Mobil Pick up dari India yang akan Diimpor untuk Koperasi Merah Putih 23 Feb 2026 Jakarta, Goodcar.id - Indonesia berencana mendatangkan sekitar 105.000 unit kendaraan pikap dari India untuk mendukung operasional Koperasi Merah Putih. Pengadaan kendaraan tersebut akan dilakukan oleh PT Agrinas Pangan Nusantara dengan melibatkan dua produsen utama asal India, yakni Mahindra & Mahindra dan Tata Motors. Mahindra akan memasok sekitar 35.000 unit pikap Scorpio, sementara Tata Motors menyediakan 70.000 unit kendaraan yang terdiri dari 35.000 pikap Yodha dan 35.000 unit truk ringan Ultra T.7. Kendaraan-kendaraan tersebut dirancang untuk menunjang aktivitas koperasi, termasuk distribusi logistik hingga operasional di wilayah pedesaan. Spesifikasi Mahindra Scorpio Pikap Mahindra Scorpio pikap diproduksi di pabrik Nashik, India, dan dikenal memiliki ketahanan tinggi serta biaya operasional yang relatif rendah. Kendaraan ini dinilai sesuai untuk kebutuhan operasional koperasi, terutama di medan pedesaan hingga area pertanian dengan kondisi jalan yang berat. Di Indonesia, pikap Scorpio sebenarnya sudah pernah dipasarkan sejak 2019 dalam varian Single Cab dan Double Cab. Kendaraan ini menggunakan mesin 2.2 liter mHawk berstandar emisi Euro 4 yang menghasilkan tenaga 140 PS dan torsi 320 Nm. Mesin tersebut dipadukan dengan transmisi manual 6 percepatan. Fitur yang tersedia antara lain AC, audio 2DIN, power window, follow-me headlamps, serta cruise control steering switch. Dari sisi keselamatan tersedia dua airbag, ABS, central locking dengan remote, serta boltable crash bar. Spesifikasi Tata Yodha Pikap Model berikutnya adalah Tata Yodha yang tersedia dalam beberapa varian dengan pilihan bahan bakar diesel maupun CNG. Varian Yodha CNG menggunakan mesin Tata 4SP SGI NA CNG dengan tenaga 74 hp pada 3.000 rpm dan torsi 200 Nm pada 1.400–1.600 rpm. Transmisinya menggunakan tipe GBS-76-5/4.1 dengan kecepatan maksimum sekitar 80 km/jam. Selain itu terdapat varian Yodha 1700 yang dibekali mesin 2.2 liter Varicor turbo dengan tenaga 100 hp pada 3.750 rpm dan torsi 250 Nm pada 1.000–2.500 rpm. Mesin serupa juga digunakan pada varian Yodha 2.0 dan Yodha 1200 dengan karakter tenaga yang tidak jauh berbeda. Spesifikasi Tata Ultra T.7 Light Truck Kendaraan lainnya adalah truk ringan Ultra T.7 yang dirancang untuk kebutuhan distribusi barang. Model ini mengusung mesin 4SP BS6 Phase 2 TCIC berkapasitas 2.956 cc. Versi light truck menghasilkan tenaga 100 PS pada 2.800 rpm dengan torsi maksimum 300 Nm pada 1.000–2.000 rpm. Kendaraan ini dilengkapi setir tilt dan telescopic serta kapasitas tangki bahan bakar 90 liter. Impor Pikap Jadi Sorotan Rencana impor kendaraan pikap dalam jumlah besar ini memunculkan perdebatan karena industri otomotif nasional sebenarnya memiliki kapasitas produksi pikap yang cukup besar, mencapai sekitar 1 juta unit per tahun. Sejumlah pabrikan yang memproduksi kendaraan pikap di dalam negeri antara lain Astra Daihatsu Motor, Isuzu Astra Motor Indonesia, Mitsubishi Motors Krama Yudha Indonesia, Suzuki Indomobil Motor, SGMW Motor Indonesia, serta Sokonindo Automobile. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menilai pemenuhan kebutuhan kendaraan melalui impor berpotensi mengurangi manfaat ekonomi yang seharusnya bisa dinikmati industri dalam negeri. "Apabila seluruh kebutuhan kendaraan pikap dipenuhi melalui impor, maka nilai tambah ekonomi dan penyerapan tenaga kerja akan dinikmati oleh industri di luar negeri. Namun, apabila kebutuhan tersebut dapat dipenuhi oleh industri dalam negeri, maka manfaat ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan industri nasional juga akan dirasakan di dalam negeri," ujar Agus Gumiwang Kartasasmita dalam siaran persnya. Meski demikian, pemerintah mengakui bahwa industri otomotif nasional belum memproduksi kendaraan pikap berpenggerak empat roda (4x4) yang dirancang khusus untuk medan sangat berat seperti area tambang dan perkebunan. Bahkan menurut Kementerian Perindustrian, jika kebutuhan kendaraan pikap tersebut dapat dipenuhi oleh produsen dalam negeri, potensi dampak ekonomi yang dihasilkan diperkirakan bisa mencapai sekitar Rp27 triliun. Lihat Selengkapnya
Kapasitas Produksi Pick-Up Indonesia Bisa Dioptimalkan, GAIKINDO Siap Penuhi Kebutuhan
20 Feb 2026
Kapasitas Produksi Pick-Up Indonesia Bisa Dioptimalkan, GAIKINDO Siap Penuhi Kebutuhan 20 Feb 2026 Jakarta, Goodcar.id – Industri otomotif Indonesia sedang menghadapi tekanan penjualan dalam negeri, namun potensi produksi tetap besar. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) saat ini menaungi 61 perusahaan otomotif dengan total kapasitas produksi mencapai 2,5 juta unit kendaraan bermotor roda empat atau lebih per tahun. Dari jumlah tersebut, produksi kendaraan komersial kelas menengah ke-bawah, terutama pick-up, masih belum dimanfaatkan secara optimal. Anggota GAIKINDO yang memproduksi kendaraan jenis ini antara lain: PT Suzuki Indomobil Motor PT Isuzu Astra Motor Indonesia PT Krama Yudha Tiga Berlian Motor PT SGMW Motor Indonesia (Wuling Motors) PT Sokonindo Automobile (DFSK) PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) PT Astra Daihatsu Motor Secara keseluruhan, kapasitas produksi pick-up anggota GAIKINDO bisa mencapai lebih dari 400.000 unit per tahun, namun pemanfaatannya belum maksimal. Kendaraan ini umumnya mengadopsi sistem penggerak 4x2 dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) lebih dari 40%, menjadikannya andalan untuk kebutuhan masyarakat di seluruh pelosok Indonesia. “Jaringan servis dan layanan purna jual yang luas membuat kendaraan komersial 4x2 ini mampu memenuhi kebutuhan konsumen secara merata,” kata Putu Juli Ardika, Ketua Umum GAIKINDO. Ia menambahkan, “Kendaraan penggerak 4x4 memang bisa diproduksi, tetapi membutuhkan waktu untuk persiapan produksi yang matang.” Industri otomotif nasional juga menjadi penyumbang besar lapangan kerja, dengan total 1,5 juta pekerja yang terlibat di seluruh ekosistemnya. Meski penjualan domestik sempat tertekan di bawah 1 juta unit per tahun, Indonesia tetap mencatat capaian ekspor kendaraan yang signifikan, mencapai lebih dari 518.000 unit ke 93 negara. Menanggapi rencana impor kendaraan dari India, Putu Juli Ardika menegaskan keyakinannya terhadap kemampuan industri lokal. “Sebenarnya anggota GAIKINDO dan juga industri pendukungnya, termasuk industri komponen otomotif yang tergabung dalam GIAMM, memiliki kapasitas untuk memenuhi kebutuhan domestik. Hanya diperlukan waktu agar jumlah dan kriterianya sesuai,” jelas Putu Juli. Ia menekankan bahwa dengan kesempatan dan waktu yang cukup, anggota GAIKINDO dan GIAMM dapat ikut memenuhi permintaan kendaraan komersial, sekaligus mengoptimalkan kapasitas produksi dalam negeri dan mencegah potensi pengurangan tenaga kerja akibat penurunan permintaan domestik. Namun, di tengah kapasitas lokal yang masih dapat dioptimalkan, PT Agrinas Pangan Nusantara memilih untuk mengimpor kendaraan pick-up dari India guna mendukung program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Perseroan mengimpor sebanyak 70.000 unit mobil pick-up Tata Motors, terdiri dari Yodha Pick Up dan truk ringan Ultra T.7, masing-masing 35.000 unit. Sebelumnya, Agrinas juga mengimpor 35.000 unit pick-up Scorpio dari Mahindra, sehingga total kendaraan niaga impor dari India mencapai 105.000 unit. Direktur PT Tata Motors Distribusi Indonesia, Asif Shamim, menuturkan, “Pesanan untuk Kopdes Merah Putih ini mencerminkan semakin meningkatnya penerimaan kendaraan komersial asal India di pasar global. Penggunaannya akan mendukung logistik pertanian di Indonesia dengan meningkatkan konektivitas, memungkinkan pergerakan barang yang lebih efisien di seluruh jaringan pedesaan dan regional.” Kedua kendaraan ini dirancang untuk kinerja berkelanjutan dan efisiensi operasional. Tata Yodha Pick Up tersedia dalam varian single cab maupun crew cab, dengan opsi penggerak 4×2 dan 4×4, serta mesin 2,2 liter diesel bertenaga 100 PS dan torsi 250 Nm. Sedangkan Tata Ultra T.7 adalah truk ringan dengan mesin diesel 4 silinder, tenaga hingga 125 PS pada 2.800 rpm, torsi maksimal 360 Nm, dan kapasitas GVW sekitar 7.490 kg. Armada ini akan didistribusikan melalui koperasi pertanian dengan skema bertahap untuk memastikan integrasi dan operasi yang berkelanjutan. Pesanan Agrinas menjadi yang terbesar dalam portofolio ekspor Tata Motors, ditujukan untuk sektor pertanian dan logistik pedesaan. Meskipun demikian, GAIKINDO tetap yakin bahwa kapasitas produksi pick-up dalam negeri mampu memenuhi kebutuhan domestik jika diberikan waktu dan dukungan yang cukup, sehingga potensi impor bisa diminimalkan dan ekosistem industri lokal tetap terjaga. Lihat Selengkapnya
Nissan Siapkan Mobil Listrik Murah, Datsun Berpeluang Bangkit!
18 Feb 2026
Nissan Siapkan Mobil Listrik Murah, Datsun Berpeluang Bangkit! 18 Feb 2026 Jakarta, Goodcar.id - Nissan dikabarkan tengah menyiapkan strategi baru untuk menghadirkan mobil listrik dengan harga yang lebih ramah di kantong. Untuk merealisasikan rencana tersebut, pabrikan asal Jepang itu disebut-sebut mempertimbangkan menghidupkan kembali merek Datsun sebagai lini kendaraan listrik murah yang menyasar pasar negara berkembang. Mengutip laporan Automotive News, salah satu sumber internal Nissan menyebutkan bahwa perusahaan memiliki sejumlah agenda strategis yang akan dibahas, termasuk opsi menjadikan Datsun sebagai kendaraan listrik terjangkau. Jejak Datsun dan Penutupan Operasional di Sejumlah Negara Wacana ini mencuat setelah Datsun menghentikan operasionalnya di India beberapa waktu lalu. Merek tersebut berkiprah di pasar India sejak 2013 selama kurang lebih sembilan tahun. Sebelumnya, pada 2020, Datsun juga menutup aktivitas produksi dan penjualannya di Rusia serta Indonesia. Penutupan tersebut berdampak pada ketidakjelasan nasib beberapa model seperti Datsun Go dan Datsun Go+. Di sisi lain, Nissan sempat menyatakan fokusnya tertuju pada penguatan merek utama mereka. "Bagi ribuan konsumen di seluruh dunia, Datsun terus memberikan pengalaman berkendara yang menarik, merasa puas sebagai konsumen karena harganya yang tepat, dan memiliki nilai yang luar biasa," kata narasumber dari Nissan. "Sebagai bagian dari strategi transformasi global Nissan, Nissan berfokus pada model dan segmen utama yang memberikan manfaat paling besar bagi pelanggan, mitra dealer, dan bisnis," paparnya. Peluang Besar dari Aliansi Nissan-Renault-Mitsubishi Meski demikian, peluang menghadirkan mobil listrik murah melalui Datsun tetap terbuka lebar. Hal ini tidak terlepas dari kekuatan aliansi Renault-Nissan-Mitsubishi Alliance yang memiliki sumber daya besar dalam pengembangan kendaraan listrik. Aliansi tersebut menargetkan peluncuran 35 model kendaraan listrik baru hingga 2030. Langkah ini menjadi bagian dari peta jalan transformasi perusahaan dalam memperkuat inovasi di segmen electric vehicle (EV). Namun, belum ada kepastian apakah roadmap tersebut juga mencakup pengembangan mobil listrik murah dengan merek Datsun. Salah satu model yang telah diumumkan dalam presentasi aliansi adalah penerus Nissan Micra versi listrik penuh. Model ini akan memanfaatkan platform CMF B-EV yang dikembangkan bersama. "Nissan Micra akan dirancang oleh Nissan, dikembangkan dan diproduksi oleh Renault menggunakan platform [CMF B-EV] kami yang baru, memaksimalkan penggunaan aset aliansi sambil mempertahankan aspek Nissan," ujar COO Nissan, Ashwani Gupta. Jika benar Datsun kembali sebagai merek EV murah, bukan tidak mungkin basis platform yang digunakan akan serupa dengan Micra listrik atau kembarannya, Nissan March. Tantangan dan Harapan Kebangkitan Datsun Selain India, Rusia, dan Indonesia, Datsun juga sempat meramaikan pasar otomotif di Kazakhstan, Afrika Selatan, Belarusia, dan Nepal. Namun, tren penjualan yang terus menurun membuat operasional merek ini dihentikan secara bertahap di berbagai negara. Kini, dengan tren elektrifikasi global yang semakin kuat, peluang kebangkitan Datsun sebagai merek mobil listrik terjangkau menjadi wacana menarik. Jika strategi ini terealisasi, Nissan berpotensi memperluas penetrasi EV di pasar berkembang dengan menawarkan produk yang kompetitif dari sisi harga maupun teknologi. Lihat Selengkapnya

TANYA LEBIH JAUH TENTANG UNIT

Goodfriends bisa bertanya lebih jauh tentang ketersediaan unit, promo & benefit menarik, negosiasi harga ataupun simulasi kredit yang sesuai dengan kebutuhan Anda.