Sejarah Audi, Brand Mobil dengan Segudang Kenyamanan03 Feb 2026
Sejarah Audi, Brand Mobil dengan Segudang Kenyamanan03 Feb 2026
Jakarta, Goodcar.id - Audi selama ini dikenal sebagai brand otomotif asal Jerman yang identik dengan kemewahan, kenyamanan, dan teknologi canggih. Namun di balik citra modern tersebut, Audi memiliki sejarah panjang yang menarik, bahkan telah dimulai jauh sebelum Perang Dunia II berakhir.
Nama Audi bukan sekadar identitas merek, melainkan simbol perjalanan, visi, dan inovasi yang terus berkembang hingga hari ini.
Asal Nama Audi
Sejarah Audi bermula dari sosok August Horch, seorang insinyur otomotif berkebangsaan Jerman yang telah merancang mobil sejak awal abad ke-20. Mobil pertamanya bahkan telah diproduksi pada tahun 1901. Pada 1899, Horch mendirikan perusahaan otomotif pertamanya dengan nama August Horch & Cie di Cologne, Jerman.
Namun perjalanan tersebut tidak berjalan mulus. Akibat konflik internal dengan rekan bisnisnya, August Horch meninggalkan perusahaan tersebut dan mendirikan Horch Automobil-Werke GmbH pada tahun 1909. Sayangnya, nama “Horch” tidak lagi dapat digunakan karena masalah paten yang telah ada sebelumnya.
Dari situ, lahirlah ide untuk mengganti nama perusahaan. Inspirasi datang dari putra salah satu mitra bisnis Horch yang menguasai bahasa Latin. Ia mengusulkan nama “Audi”, yang merupakan terjemahan Latin dari kata “Horch” atau “Dengarlah”.
Nama inilah yang kemudian digunakan secara resmi sebagai Audi Automobile-Werke GmbH, dan menjadi fondasi dari brand Audi yang dikenal hingga saat ini.
Arti Logo Audi
Logo empat cincin Audi yang ikonik juga menyimpan cerita historis yang tidak kalah menarik. Logo ini tidak langsung digunakan sejak Audi berdiri pada 1909. Empat cincin tersebut baru diperkenalkan pada tahun 1932, ketika Audi bergabung dengan tiga produsen otomotif Jerman lainnya—DKW, Horch, dan Wanderer—untuk membentuk Auto Union AG di tengah tekanan krisis ekonomi global.
Setiap cincin melambangkan satu merek yang bergabung dalam Auto Union. Pada awalnya, masing-masing cincin bahkan menampilkan logo asli dari setiap perusahaan. Filosofi yang diusung sangat sederhana namun kuat, yakni kekuatan melalui persatuan.
Menariknya, karena kemiripan visual dengan logo Olimpiade, logo Audi sempat menghadapi tuntutan hukum dari Komite Olimpiade Dunia. Namun pada akhirnya, World Trademark Court memenangkan Audi, sehingga logo empat cincin tetap digunakan hingga kini.
Pada tahun 2009, bertepatan dengan perayaan satu abad Audi, perusahaan ini memperkenalkan pembaruan identitas visual yang tampil lebih modern dan minimalis.
Transformasi tersebut sekaligus menegaskan filosofi dan motto legendaris Audi: “Vorsprung durch Technik” yang dalam bahasa Inggris Progress through Technologies, yang artinya Kemajuan Melalui Teknologi.
Inovasi sebagai Fondasi Audi
Keberhasilan Audi bertahan dan unggul dalam persaingan industri otomotif selama puluhan tahun tidak terlepas dari komitmen kuat terhadap inovasi. Audi tidak hanya memproduksi kendaraan, tetapi juga menciptakan standar baru dalam teknologi otomotif.
Sejumlah inovasi penting telah menjadi bagian dari sejarah Audi, di antaranya sistem quattro sebagai teknologi penggerak empat roda permanen yang meningkatkan stabilitas dan kontrol, mesin TDI yang merevolusi efisiensi dan performa mesin diesel, serta Audi Space Frame (ASF), konstruksi bodi aluminium ringan yang meningkatkan efisiensi tanpa mengorbankan keselamatan.
Pendekatan inilah yang membuat Audi konsisten dikenal sebagai pelopor teknologi, bukan sekadar pengikut tren.
Perjalanan Audi di Indonesia
Audi resmi memasuki pasar otomotif Indonesia pada tahun 1997 melalui PT Garuda Mataram Motor (GMM). Perusahaan ini merupakan anak usaha dari kelompok Indomobil yang bertanggung jawab atas impor dan distribusi kendaraan Audi di Tanah Air.
Saat ini, Audi Indonesia tengah berada dalam fase transisi menuju era elektrifikasi dengan menghadirkan lini e-tron. Langkah ini menjadi bukti komitmen Audi bahwa inovasi tetap harus berjalan, meskipun menghadapi tantangan pasar yang kompleks.
Audi pun kerap diposisikan sebagai alternatif menarik bagi konsumen yang menganggap Mercedes-Benz terlalu konservatif dan BMW terlalu agresif, dengan keseimbangan antara teknologi, kenyamanan, dan karakter berkendara.
Lihat Selengkapnya
Test Drive Changan Deepal S07, Dari Sirkuit Chongqing ke Jalan Raya Garut02 Feb 2026
Test Drive Changan Deepal S07, Dari Sirkuit Chongqing ke Jalan Raya Garut02 Feb 2026
Garut, Goodcar.id – Bagi Goodcar.id, Changan Deepal S07 bukan nama yang sepenuhnya asing. Kami pernah mencicipi mobil listrik ini langsung di markas Changan di Chongqing, Tiongkok.
Saat itu, Deepal S07 dipacu di sirkuit tertutup hingga menyentuh 160 km/jam, dan kesannya sangat stabil, bikin percaya diri, serta minim gejala limbung.
Namun, sirkuit tetaplah sirkuit. Tantangan sesungguhnya bagi sebuah mobil adalah bagaimana ia bekerja di jalan raya dengan kondisi aspal beragam, tanjakan, tikungan sempit, hingga lalu lintas padat.
Karena itu, media test drive Changan pada 29–30 Januari 2026 dengan rute Bandung–Garut–Jakarta menjadi momen penting. Karena ini adalah kali pertama Goodcar.id merasakan karakter Deepal S07 secara utuh di jalan Indonesia.
Rute ini sengaja dipilih untuk menguji banyak aspek sekaligus. Dari jalur pegunungan yang berliku menuju Garut, sampai ruas tol panjang menuju Jakarta, semuanya memberi gambaran tentang performa, kelincahan, dan kenyamanan sebuah e-SUV.
“Kegiatan ini bukan sekadar perjalanan, melainkan kesempatan bagi rekan-rekan media untuk membuktikan kemampuan Changan Deepal S07 dalam menghadapi berbagai kontur jalan menuju beragam destinasi di luar kota. Kami berharap rekan-rekan media dapat merasakan langsung esensi Born to Outstand dan menyampaikannya secara autentik kepada konsumen di Indonesia,” ujar Setiawan Surya, CEO Changan Indonesia.
Desain Sporty
Berangkat dari Kota Baru Parahyangan, Bandung menuju Garut, Deepal S07 langsung tampil menonjol lewat pendekatan Tech Sporty Design. Frameless door, electric hidden door handle, hingga LED Star Flame Tail Lights memberi kesan modern tanpa terlihat berlebihan.
Secara proporsi, siluet bodinya mengingatkan kami pada Ferrari Purosangu, sportscar empat pintu pertama Ferrari dengan postur rendah dan lebar.
Interior Yacht-Style
Masuk ke kabin, nuansa Luxury Yacht Interior langsung terasa. Wrap-around design berpadu dengan ambient light 64 warna menciptakan suasana premium, tapi tetap fungsional.
Layar sentuh 15,6 inci yang bisa diposisikan sesuai kemauan hadir dengan chipset Qualcomm 8155 menjadi pusat kendali.
AR-HUD juga membantu, karena informasi navigasi tampil langsung di kaca depan tanpa mengganggu fokus.
Stabil dan aman di jalan Raya
Di Chongqing, Deepal S07 sudah terbukti stabil saat dipacu hingga 160 km/jam di sirkuit. Tapi sensasi di jalan raya jelas berbeda. Di jalur Bandung–Garut, yang penuh tikungan dan tanjakan, karakter mobil ini terasa lebih matang.
Motor listrik 215 hp dengan torsi 320 Nm memberi dorongan instan yang halus. Akselerasi 0–100 km/jam 7,9 detik terasa cukup cepat untuk ukuran SUV, dan yang penting, tenaga itu tersalur dengan rapi tanpa membuat mobil terasa liar.
Golden Ratio Body membuat pusat gravitasi rendah. Hasilnya, saat menikung di jalan pegunungan, bodi terasa nurut. Tidak ada gejala mengayun berlebihan, meski karakter setirnya cenderung ringan lebih ke arah nyaman daripada sporty agresif.
Masuk tol menuju Jakarta, mode Comfort dan Sport bisa dipilih sesuai kebutuhan. Fitur IACC dan Lane Keeping Assist benar-benar membantu saat lalu lintas padat.
Mobil bisa mengikuti kecepatan kendaraan di depan, bahkan sampai berhenti total dan berjalan lagi secara halus.
Kabin yang senyap berkat double-layer sound insulation glass membuat perjalanan panjang terasa lebih rileks. Di titik ini, Deepal S07 menunjukkan bahwa ia memang juga dirancang untuk jadi teman perjalanan jarak jauh dengan range 560 km disokong baterai Golden Shield 79,9 kWh.
Baris Kedua, Tapi Joknya Keras
Ruang kaki di kursi belakang lega. Penumpang tidak perlu berkompromi soal ruang. Namun, bantalan jok belakang terasa agak keras.
Untuk perjalanan singkat tidak masalah, tapi untuk jarak jauh, ini bisa bikin cepat pegal. Catatan kecil, tapi penting untuk disebutkan.
Rute Garut–Jakarta lewat Nagreg menguji kontrol di turunan curam. Hill Descent Control bekerja halus dan konsisten.
Ditambah panoramic roof, audio 14 speaker, layar sentuh baris kedua, dan wireless fast charging 40W, perjalanan panjang terasa lebih praktis dan nyaman.
Kesimpilan menurut kami adalah Changan Deepal S07 adalah mobil yang sangat mudah dikendalikan, tenang, dan fungsional. Dengan begitu Deeapal S07 adalah mobil yang realistis untuk jadi partner mobilitas sehari-hari. Anda harus coba!
Lihat Selengkapnya
Drive Experience: Changan Lumin! Si Imut Yang Sat-Set di Perkotaan29 Jan 2026
Drive Experience: Changan Lumin! Si Imut Yang Sat-Set di Perkotaan29 Jan 2026
GoodCar.id - Pasar mobil listrik (Electric Vehicle) di Indonesia lagi kencang-kencangnya. Tapi, kalau kita bicara soal city car EV, rata-rata bentuknya kalau nggak futuristik banget, ya kotak minimalis. Sampai akhirnya gue dapet kesempatan buat cobain langsung dengan Changan Lumin pada 22 Januari kemarin. Mobil ini punya daya tarik yang beda, dan jujur, impresi gue berubah total dari saat cuma lihat fotonya sampai benar-benar duduk di balik kemudi.
Desain Eksterior: Magnet Perhatian di Jalanan
Jujur aja, pas pertama kali unitnya ada di depan mata, kata pertama yang keluar dari mulut gue adalah: "Lucu banget!" Changan Lumin ini punya bahasa desain yang membulat (rounded) hampir di semua sisi. Lampu utamanya yang punya kelopak mata ala mobil di film animasi bikin dia kelihatan menggemaskan banget.
Untuk ukuran sebuah city car, Changan berhasil bikin mobil yang nggak intimidatif tapi tetap kelihatan modern. Warnanya yang biasanya pastel makin mempertegas kalau mobil ini memang mengincar mereka yang ingin tampil beda di tengah padatnya lalu lintas kota yang membosankan. Tapi, jangan ketipu sama tampang imutnya, karena pas kita bicara soal dimensi dan fungsionalitas, ada kejutan besar di dalamnya.
Kabin yang Menipu Dimensi: Lega untuk Dewasa
Ini poin yang paling penting. Biasanya, mobil mungil begini bakal bikin orang dengan tinggi badan di atas 170 cm merasa skeptis. Gue sendiri punya tinggi 171 cm, dan ekspektasi awal gue adalah bakal merasa "terjepit" atau minimal lutut bakal sering mentok. Tapi pas pintu dibuka dan gue masuk, gue agak kaget. Space yang disediakan di bagian depan itu luas banget! Legroom-nya sangat lega, dan plafonnya cukup tinggi sehingga nggak ada kesan claustrophobic. Changan pintar memaksimalkan ruang kabin sehingga pilar-pilarnya nggak terasa mengintimidasi ruang gerak.
Nggak cuma di depan, gue pun coba pindah ke baris kedua. Biasanya, baris kedua di mobil mikro EV cuma jadi pajangan atau tempat naruh tas. Tapi di Lumin, gue masih bisa duduk dengan layak. Legroom di belakang masih menyisakan ruang yang cukup buat orang dewasa, meski memang lebih ideal dan aman banget kalau area ini dialokasikan buat anak-anak atau barang belanjaan yang agak banyak.
Steering Wheel & Ergonomi: Ada Catatan Kecil
Masuk ke posisi pengemudi, ada satu hal yang menurut gue jadi catatan bagi calon pembeli. Bagian steering wheel atau setirnya itu permanen. Artinya, nggak ada fitur tilt (naik-turun) apalagi telescopic (maju-mundur). Buat gue yang tingginya 171 cm, posisi setirnya sebenarnya masih masuk kategori oke, tapi buat orang yang punya preferensi posisi duduk spesifik, absennya pengaturan setir ini bakal bikin lo harus sedikit berkompromi dengan posisi kursi. Tapi untungnya, kursinya sendiri cukup nyaman dipeluk, jadi masalah setir ini perlahan terlupakan pas mobil sudah mulai jalan.
Teknologi dan Hiburan: Simpel tapi Kekinian
Di bagian dasbor, lo nggak akan nemuin banyak tombol fisik yang bikin pusing. Semuanya serba digital dan minimalis.
MID Full Digital: Panel instrumen di depan setir sudah full digital, ngasih info soal sisa baterai, kecepatan, dan mode berkendara dengan grafis yang bersih.
Head Unit 10.25 Inchi: Ini bintang utamanya. Layar infotainment-nya gede banget buat mobil seukuran ini. Yang paling gue apresiasi adalah dukungannya terhadap Apple CarPlay. Jadi, urusan navigasi pakai Google Maps atau dengerin Spotify sudah tinggal sat-set, nggak ribet.
Audio: Kualitas suaranya? Untuk mobil di kelas ini, menurut gue lumayan oke. Karakter suaranya cukup jernih buat nemenin lo macet-macetan di Sudirman atau sekadar keliling kompleks.
Menembus Hujan Lebat: Uji Kekedapan dan Ground Clearance
Kebetulan pas gue tes kemarin, cuaca di Jakarta lagi nggak kompromi. Hujan turun sangat lebat. Di sini gue bisa ngerasain real-life scenario pengguna mobil ini. Dari sisi kekedapan kabin, jujur saja mobil ini memang tidak terlalu kedap. Suara rintik hujan yang deras di atap dan suara cipratan air dari ban masih terdengar masuk ke dalam. Ya, kita harus realistis, untuk mobil dengan harga di bawah Rp200 juta, tentu ada sektor yang harus dikompromi, dan peredaman suara adalah salah satunya.
Namun, yang bikin gue tenang adalah ground clearance-nya yang setinggi 150 mm. Pas gue lewat jalan tol dan ketemu beberapa genangan air yang lumayan tinggi akibat hujan lebat, Lumin tetap stabil. Nggak ada rasa melayang atau khawatir air bakal masuk ke area sensitif. Mobil ini terasa solid dan "napak" di aspal.
Driving Experience: Si Kecil yang Responsif
Ini bagian yang paling bikin gue senyum-senyum sendiri. Driving experience Changan Lumin ini mengejutkan banget! Sebagai mobil listrik, torsi instannya terasa nyata. Mobil ini sangat responsif, terutama saat diajak stop and go di kemacetan. Suspensinya menurut gue jempolan. Nggak terlalu keras sampai bikin badan pegal, tapi juga nggak terlalu empuk yang bikin mobil terasa limbung. Diajak manuver selap-selip di antara mobil-mobil besar atau masuk ke gang sempit itu terasa gampang banget. Radius putarnya yang kecil makin memantapkan posisinya sebagai raja jalanan kota.
Kecepatan maksimumnya memang nggak "lebay" atau didesain buat balapan di sirkuit, tapi buat apa juga kan? Di dalam kota, kita butuh efisiensi. Range baterainya menurut gue sangat cukup untuk mobilitas harian komuter dari pinggiran kota ke pusat kota dan balik lagi tanpa harus sering-sering mampir ke SPKLU.
Spesifikasi Changan Lumin
Dimensi Mobil
Panjang x Lebar x Tinggi: 3.270 mm x 1.700 mm x 1.590 mm.
Wheelbase: 1.980 mm.
Ground Clearance: 150 mm.
Kapasitas Penumpang: 4 orang dengan 2 pintu.
Velg & Ban: 165/70 R14 dengan desain penutup velg (wheeldop)
Baterai & Performa
Motor Listrik: Penggerak roda depan (FWD) dengan tenaga 35 kW (48 PS) dan torsi 83-93 Nm.
Baterai: Lithium Iron Phosphate (LFP) berkapasitas 28,08 kWh.
Jarak Tempuh: Hingga 301 km (metode NEDC/CLTC).
Kecepatan Maksimal: 101 km/jam.
Lihat Selengkapnya
Hasil Lengkap Pereli Indonesia di Dakar Classic 2026: Julian Johan Juara 1 Kelas Iconic19 Jan 2026
Hasil Lengkap Pereli Indonesia di Dakar Classic 2026: Julian Johan Juara 1 Kelas Iconic19 Jan 2026
Jakarta, Goocar.id - Sejarah baru saja dipahat oleh putra-putra terbaik bangsa di padang pasir Arab Saudi. Untuk pertama kalinya, Indonesia tidak hanya mengirimkan satu, melainkan dua perwakilan sekaligus yang bertarung di ajang Dakar Classic 2026. Di bawah naungan tim asal Prancis, Compagnie Saharienne, dua unit Toyota legendaris dengan livery Merah Putih berhasil menaklukkan ribuan kilometer tantangan ekstrem.
(sumber foto : Instagram.com/compagnie.saharienne)
Di barisan depan, Julian Johan (Jejelogy) menggunakan Toyota Land Cruiser 100 (VX100). Berpasangan dengan navigator kawakan Mathieu Monplaisir, Jeje, sapaan akrab Johan, menunjukkan kelasnya sebagai pereli yang matang. Strategi navigasi yang presisi dan ketangguhan VX100 membawa Jeje finis di Peringkat 5 Overall Dakar Classic dan menyabet Juara 1 di Kelas Iconic Classic Club. Ini adalah pencapaian tertinggi orang Indonesia di ajang Dakar sepanjang masa. Tak kalah gemilang, Shammie Baridwan yang bertindak sebagai driver di mobil kedua, membuktikan bahwa dirinya adalah petarung sejati.
(sumber foto : Dokumentasi Dakar)
Mengendarai Toyota Land Cruiser 70 (HZJ 78) atau yang akrab disebut Toyota Bundera, Shammie Baridwan didampingi oleh navigator asal Lithuania, Ignas Daunoravicius. Kejutan besar terjadi di Stage 11, di mana Shammie berhasil menjadi yang tercepat dan menduduki podium pertama etape tersebut sebuah sejarah pertama bagi pereli Indonesia memenangkan sebuah stage di Dakar. Shammie dan Ignas menutup kompetisi dengan hasil yang luar biasa, yakni Peringkat 7 Overall dan meraih Juara 3 di Kelas H1.
Keberhasilan ini membuktikan durabilitas luar biasa dari lini Land Cruiser. Sementara Jeje mengandalkan kenyamanan dan tenaga VX100, Shammie menunjukkan ketangguhan mekanikal murni dari HZJ 78. Ignas Daunoravicius, dengan latar belakangnya sebagai mantan pembalap motor gurun, menjadi kunci sukses Shammie dalam membaca "jebakan" pasir yang sering kali menipu para peserta.
Keberhasilan kedua mobil ini menembus 10 besar dunia (Overall) adalah bukti bahwa motorsport Indonesia sudah naik level. Kolaborasi antara driver Indonesia (Jeje & Shammie) dengan navigator internasional (Mathieu & Ignas) di bawah manajemen tim Compagnie Saharienne terbukti menjadi formula pemenang."Ini adalah bukti bahwa Indonesia bisa bicara banyak di level dunia jika persiapan dan timnya solid," ujar Shammie usai menyelesaikan etape terakhir di Yanbu.
Dakar 2026 bukan lagi soal partisipasi. Ini adalah soal dominasi. Merah Putih telah berkibar tinggi di podium tertinggi kelas Iconic, menandakan era baru bagi pereli-pereli lintas alam Tanah Air.
Lihat Selengkapnya
Goodfriends bisa bertanya lebih jauh tentang ketersediaan unit, promo & benefit menarik, negosiasi harga ataupun simulasi kredit yang sesuai dengan kebutuhan Anda.