iCAR V23 Pro Plus Collector Series Diserahkan ke Konsumen 19 Apr 2026
iCAR V23 Pro Plus Collector Series Diserahkan ke Konsumen 19 Apr 2026
Jakarta, Goodcar.id – iCAR Indonesia resmi memulai penyerahan unit iCAR V23 Pro Plus Collector Series kepada pelanggan pertama di Indonesia. Seremoni ini digelar di kawasan Jakarta Selatan, menandai dimulainya fase awal kepemilikan model SUEV (Smart Utility Electric Vehicle) terbaru tersebut.
Para konsumen yang menerima unit ini merupakan pemesan awal sejak ajang Indonesia International Motor Show 2026 (IIMS 2026). Dengan begitu, mereka menjadi kelompok pertama yang merasakan langsung pengalaman menggunakan iCAR V23 Pro Plus Collector Series di Tanah Air.
Penyerahan Perdana
Presiden Direktur Chery Group Indonesia, Zeng Shuo, menyebut bahwa momen ini bukan sekadar serah terima kendaraan, tetapi juga langkah awal membangun ekosistem pengguna iCAR di Indonesia.
“iCAR V23 Pro Plus Collector Series adalah bentuk apresiasi kami kepada pelanggan yang telah mempercayai iCAR sejak awal. Momen handover ini juga menjadi fondasi dalam membangun komunitas pengguna iCAR yang solid di Indonesia,” ujar Zeng Shuo.
Ia menambahkan, para pemilik pertama ini akan tergabung dalam V23 Initial Pioneers atau VIP, sebuah komunitas eksklusif yang dirancang untuk memperkuat keterlibatan pengguna dalam perjalanan brand iCAR ke depan.
iCAR V23 Pro Plus Collector Series hadir dengan identitas visual yang berbeda dibanding varian standar. Salah satu pembeda utama adalah penggunaan Collector Series Badge yang menegaskan status edisi terbatas.
Tampilan eksterior diperkuat dengan velg retro chrome serta ban all-terrain (AT), yang memberikan kesan tangguh sekaligus fleksibel untuk berbagai kondisi jalan. Kombinasi ini membuat karakter SUEV terasa lebih kuat, baik untuk penggunaan perkotaan maupun semi off-road.
Selain itu, sejumlah fitur fungsional juga disematkan untuk menunjang kenyamanan, seperti soft-close door yang menghadirkan sensasi penutupan pintu lebih halus, serta electric folding mirror untuk mendukung mobilitas di area padat.
Lapisan perlindungan tambahan berupa premium window film dan coating juga disematkan untuk menjaga tampilan kendaraan tetap optimal dalam jangka panjang.
Masuk ke dalam kabin, iCAR V23 Pro Plus Collector Series menawarkan pendekatan yang lebih modern dan fungsional. Sistem audio premium hasil kolaborasi dengan JBL dilengkapi digital sound processor untuk menghasilkan kualitas suara yang lebih optimal.
Selain itu, adjustable ambient lighting memberikan nuansa kabin yang lebih personal, sementara digital instrument cluster menyajikan informasi berkendara secara lebih intuitif dan mudah diakses.
Sentuhan eksklusif juga terlihat dari kehadiran Collector Series Limited Edition Badge di dalam kabin yang dapat dipersonalisasi sesuai preferensi pemilik, baik melalui angka maupun inisial.
Untuk menunjang fleksibilitas, tersedia seat-back table dengan wireless charger yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari bekerja hingga sekadar hiburan selama perjalanan.
Sebagai bagian dari kepemilikan, pelanggan iCAR V23 Pro Plus Collector Series juga mendapatkan akses ke iCAR VIP Membership. Program ini dirancang sebagai ekosistem yang menghubungkan pengguna dengan brand secara lebih dekat.
Melalui program ini, pelanggan berkesempatan mendapatkan akses preview produk terbaru, undangan ke berbagai event eksklusif, hingga peluang untuk terlibat langsung dalam pengembangan inovasi iCAR di masa depan.
“Ragam personalisasi dan program ini merupakan bagian dari strategi iCAR dalam membangun ekosistem kepemilikan dengan long-term value,” tambah Zeng Shuo.
Langkah iCAR Indonesia ini juga menjadi bagian dari strategi global yang lebih luas. Brand ini dijadwalkan akan berpartisipasi dalam International Business Summit 2026 di Wuhu, yang merupakan bagian dari rangkaian Beijing Auto Show 2026.
Partisipasi tersebut menunjukkan bagaimana pengembangan produk iCAR tidak hanya berfokus pada kendaraan, tetapi juga integrasi antara desain, teknologi, serta kolaborasi dengan pengguna dan mitra secara global.
Dengan dimulainya penyerahan unit iCAR V23 Pro Plus Collector Series, iCAR Indonesia menandai langkah awal dalam menghadirkan kendaraan listrik berbasis SUEV yang tidak hanya mengedepankan teknologi, tetapi juga pengalaman kepemilikan.
Model ini dirancang untuk menjawab kebutuhan pengguna modern yang menginginkan kendaraan dengan karakter kuat, fitur lengkap, serta pendekatan yang lebih personal dalam penggunaan sehari-hari.
Lihat Selengkapnya
Jaecoo J5 Salip BYD Atto 1 di Daftar 10 Mobil Listrik Terlaris Indonesia14 Apr 2026
Jaecoo J5 Salip BYD Atto 1 di Daftar 10 Mobil Listrik Terlaris Indonesia14 Apr 2026
Jakarta, Goodcar.id - Penjualan mobil listrik Indonesia di awal 2026 sulit ditebak. Setelah tampil dominan selama dua bulan pertama, BYD Atto 1 akhirnya harus turun tahta di Maret 2026, digeser oleh Jaecoo J5 yang tampil konsisten sejak awal tahun.
Jika dilihat dari data penjualan Januari hingga Maret 2026, terjadi pergerakan angka yang cukup ekstrem, baik kenaikan maupun penurunan yang mencerminkan betapa dinamisnya pasar EV di Indonesia saat ini.
Jaecoo J5 Naik Stabil, Dari 1.942 ke 2.959 Unit
Performa Jaecoo J5 bisa dibilang paling konsisten sepanjang kuartal pertama 2026. Mengacu data GAIKINDO 2026, di Januari, Jaecoo J5 mencatatkan penjualan 1.942 unit. Angka ini kemudian melonjak tajam di Februari menjadi 2.926 unit, atau naik hampir 1.000 unit dalam sebulan.
Menariknya, tren positif ini tidak berhenti. Di Maret, Jaecoo J5 kembali meningkat menjadi 2.959 unit. Meski kenaikannya tidak sebesar bulan sebelumnya, stabilitas di angka hampir 3.000 unit menunjukkan bahwa permintaan terhadap model ini masih sangat kuat.
Kenaikan bertahap ini menjadi kunci utama Jaecoo J5 dalam merebut posisi puncak. Bukan sekadar “meledak” sesaat, tapi tumbuh dengan pola yang sehat.
BYD Atto 1 Dari 3.700 ke 672 Unit, Turun Drastis
Kebalikan dari Jaecoo, BYD Atto 1 justru mengalami fluktuasi tajam. Di Januari, model ini sudah kuat dengan 3.361 unit, lalu bahkan naik ke 3.700 unit di Februari.
Namun, kejutan terjadi di Maret. Penjualannya anjlok drastis menjadi hanya 672 unit. Artinya, ada penurunan lebih dari 3.000 unit dalam satu bulan—angka yang sangat signifikan di industri otomotif.
Penurunan ini menjadi titik balik dalam persaingan. Dari yang sebelumnya unggul jauh, BYD Atto 1 langsung terlempar ke posisi lima besar.
Tidak hanya dua model teratas, pergerakan menarik juga terjadi pada model lain. BYD M6 misalnya, mengalami penurunan dari 851 unit di Januari ke 523 unit di Februari, namun kembali naik ke 976 unit di Maret. Ini menunjukkan adanya pemulihan permintaan di segmen MPV listrik.
Sementara itu, Geely EX2 justru menunjukkan tren naik stabil: dari 423 unit di Januari, meningkat ke 776 unit di Februari, dan kembali naik ke 949 unit di Maret. Ini jadi salah satu model dengan pertumbuhan paling konsisten setelah Jaecoo J5.
Berbeda lagi dengan Wuling Darion EV yang sempat naik dari 790 unit di Januari ke 1.019 unit di Februari, namun turun cukup jauh ke 301 unit di Maret. Pola ini menunjukkan adanya lonjakan sesaat yang tidak berlanjut.
SUV Listrik Mulai Mendominasi
Kalau dilihat lebih dalam, tren menarik lain adalah mulai dominannya SUV listrik. Selain Jaecoo J5, model seperti BYD Sealion 07 langsung melesat ke posisi dua di Maret dengan 1.236 unit, meskipun sebelumnya tidak masuk posisi teratas di dua bulan awal.
Hal ini menunjukkan bahwa konsumen Indonesia mulai mengarah ke kendaraan listrik dengan dimensi lebih besar, ground clearance tinggi, dan tampilan yang lebih gagah.
Persaingan juga semakin menarik dengan kehadiran model seperti Denza D9 yang naik dari 392 unit di Januari menjadi 455 unit di Maret, serta VinFast VF3 yang langsung masuk 10 besar di Maret dengan 258 unit.
Di sisi lain, model seperti AION juga menunjukkan fluktuasi. AION UT naik dari 266 unit (Januari) ke 407 unit (Februari), lalu turun ke 242 unit di Maret. Sedangkan AION V relatif stabil di kisaran 200–300 unit sepanjang tiga bulan.
Artinya, tidak ada satu pun pemain yang benar-benar aman. Semua brand masih mencari momentum terbaiknya.
Perubahan angka yang sangat dinamis ini menunjukkan bahwa konsumen Indonesia semakin rasional dalam memilih mobil listrik.
Mereka tidak lagi terpaku pada satu brand saja. Faktor seperti harga, fitur, desain, hingga ketersediaan unit menjadi penentu utama. Ini juga menjelaskan kenapa model baru seperti Jaecoo J5 bisa langsung melesat, sementara model yang sudah kuat seperti BYD Atto 1 bisa turun drastis.
Dari data Januari hingga Maret, terlihat jelas pola naik-turun yang tajam. Jaecoo J5 naik dari 1.942 → 2.926 → 2.959 unit, sementara BYD Atto 1 justru turun dari 3.361 → 3.700 → 672 unit.
10 Mobil Listrik Terlaris Januari - Maret 2026
Januari
BYD Atto 1: 3.361 unit
Jaecoo J5: 1.942 unit
BYD M6: 851 unit
Wuling Darion EV: 790 unit
BYD Sealion 7: 613 unit
Geely EX2: 423 unit
Denza D9: 392 unit
Aion UT: 266 unit
Chery J6: 215 unit
Aion V: 214 unit
Februari
BYD Atto 1: 3.700 unit
Jaecoo J5: 2.926 unit
Wuling Darion EV: 1.019 unit
Geely EX2: 776 unit
BYD M6: 523 unit
AION UT: 407 unit
BYD Sealion 7: 343 unit
Geely EX5: 335 unit
Aion V: 332 unit
Denza: 270 unit
Maret
Jaecoo J5: 2.959 unit
BYD Sealion 07: 1.236 unit
BYD M6: 976 unit
Geely EX2: 949 unit
BYD Atto 1: 672 unit
Denza D9: 455 unit
Wuling Darion EV: 301 unit
VinFast VF3: 258 unit
AION V: 238 unit
AION UT: 242 unit
Lihat Selengkapnya
Chery Tiggo Cross CSH Alami Insiden di Tol Jakarta-Cikampek, Ini Penjelasan Resmi Pabrikan02 Apr 2026
Chery Tiggo Cross CSH Alami Insiden di Tol Jakarta-Cikampek, Ini Penjelasan Resmi Pabrikan02 Apr 2026
Jakarta, Goodcar.id — Insiden yang melibatkan mobil Chery Tiggo Cross CSH di ruas Tol Jakarta-Cikampek pada 31 Maret 2026 akhirnya mendapat penjelasan resmi dari PT Chery Sales Indonesia. Pabrikan memastikan saat ini investigasi masih berjalan dan belum ditemukan indikasi masalah pada sistem utama kendaraan.
Chery menyampaikan bahwa unit yang mengalami insiden tersebut bukan milik konsumen, melainkan kendaraan yang sedang dalam proses pengantaran internal dari dealer menuju area penyimpanan. Dengan demikian, kejadian ini tidak terkait langsung dengan penggunaan oleh pelanggan.
Dalam keterangan resminya, Chery juga memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Hal ini menjadi poin penting di tengah kekhawatiran publik setelah video insiden sempat beredar luas di media sosial.
Investigasi Awal: Asap Berasal dari Bagian Depan
Berdasarkan hasil investigasi awal, pengemudi menyebut kendaraan masih berfungsi normal tanpa adanya notifikasi error di dashboard sebelum kejadian. Mobil kemudian menepi setelah terlihat adanya asap yang muncul.
Tim teknis Chery mengidentifikasi bahwa sumber asap berasal dari bagian depan kendaraan. Namun, hingga saat ini belum ditemukan indikasi yang mengarah pada kerusakan baterai maupun sistem kelistrikan utama.
Sebagai catatan, sistem baterai pada Tiggo Cross CSH berada di bagian bawah kendaraan, tepatnya di area tengah hingga belakang. Posisi ini membuat dugaan awal tidak mengarah ke komponen tersebut sebagai sumber insiden.
Belum Tutup Kemungkinan Faktor Eksternal
Meski begitu, Chery belum menutup kemungkinan adanya faktor lain di luar komponen kendaraan. Dalam pernyataannya, pabrikan menyebut potensi keterlibatan material eksternal atau benda asing masih dalam tahap pendalaman.
Saat ini, investigasi dilakukan secara komprehensif dengan melibatkan tim teknis sesuai standar inspeksi global. Chery juga menegaskan akan bekerja sama dengan pihak terkait guna memastikan penyebab pasti dari insiden tersebut.
Chery Tiggo Cross CSH Sempat Viral di Media Sosial
Sebelum pernyataan resmi ini dirilis, insiden tersebut lebih dulu viral di media sosial. Salah satu unggahan dari akun TikTok Fourcyls menunjukkan sebuah mobil yang diduga Chery Tiggo Cross CSH mengalami kebakaran hebat di ruas Tol Jakarta.
Dalam video yang diunggah, terlihat api berasal dari bagian depan kendaraan. Saat itu, penyebab kebakaran pada mobil berpelat putih tersebut masih belum diketahui, memicu berbagai spekulasi di kalangan netizen.
Komitmen Chery soal Keselamatan
Menutup pernyataannya, Chery menegaskan komitmennya terhadap keselamatan, kualitas produk, serta kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku. Pabrikan juga memastikan akan menyampaikan hasil investigasi lanjutan secara transparan kepada publik.
Lihat Selengkapnya
Toyota Ganti CEO, Kenta Kon Naik di Tengah Tekanan Mobil China27 Mar 2026
Toyota Ganti CEO, Kenta Kon Naik di Tengah Tekanan Mobil China27 Mar 2026
TOKYO, Goodcar.id - Toyota membuat langkah yang mengejutkan industri otomotif global. Pabrikan asal Jepang ini resmi menunjuk Kenta Kon sebagai CEO baru, menggantikan Koji Sato di tengah tekanan kompetisi dari produsen mobil China yang bergerak agresif.
Kon dikenal sebagai sosok kepercayaan Akio Toyoda dan pernah menjadi sekretarisnya selama bertahun-tahun. Dengan latar belakang kuat di keuangan, ia kini diberi mandat untuk menjaga stabilitas sekaligus mempercepat adaptasi Toyota di era disrupsi industri.
Di sisi lain, Sato akan resmi mundur pada 1 April setelah menjabat sekitar tiga tahun. Ia tidak benar-benar “keluar”, melainkan bergeser menjadi wakil ketua sekaligus mengisi posisi baru sebagai chief industry officer—peran yang lebih fokus pada arah industri secara luas.
Nama Kenta Kon sendiri bukan orang baru di balik layar strategi Toyota. Ia dikenal disiplin dalam efisiensi biaya dan disebut-sebut sebagai otak di balik rencana akuisisi penuh Toyota Industries. Langkah ini bertujuan memperkuat kendali keluarga Toyoda terhadap grup, meski menuai kritik dari investor minoritas karena dinilai kurang transparan dan undervalued.
Di Toyota Sejak 2009
Perjalanan karier Kon juga cukup panjang. Ia mendampingi Toyoda sejak 2009, saat era kepemimpinan modern Toyota mulai terbentuk, hingga akhirnya naik menjadi kepala divisi akuntansi pada 2017. Sementara Toyoda sendiri memimpin hampir 14 tahun sebelum menyerahkan tongkat estafet ke Sato.
Menariknya, pengumuman pergantian CEO ini datang bersamaan dengan laporan keuangan kuartal ketiga. Toyota bahkan menaikkan proyeksi laba operasional tahunan hampir 12%, didorong pelemahan yen dan strategi efisiensi yang cukup konsisten.
Di tengah peta persaingan global yang makin dinamis, industri otomotif kini berada dalam fase “reset”. Pabrikan China terus menekan lewat inovasi cepat dan harga kompetitif. Namun Toyota memilih jalur berbeda, tidak terburu-buru ke EV penuh, melainkan tetap mengandalkan hybrid sebagai tulang punggung.
Strategi ini terbukti cukup solid. Saat banyak rival terpukul oleh biaya besar transisi EV, termasuk Stellantis yang mencatat penurunan nilai aset hingga USD 26,5 miliar, Toyota justru mencatat rekor penjualan dan kembali mempertahankan status sebagai produsen mobil terlaris dunia.
Dalam struktur baru ini, peran Kon dan Sato dibuat lebih spesifik. Kon akan fokus ke manajemen internal dan efisiensi perusahaan, sementara Sato menangani isu industri yang lebih luas. Tujuannya jelas mempercepat pengambilan keputusan di tengah perubahan pasar yang sangat cepat, terutama dari tekanan pemain China.
James Hong dari Macquarie melihat perubahan ini sebagai sinyal bahwa Toyota mulai memperkuat sisi non-produk. “Kon punya pengalaman lebih dalam menangani masalah keuangan perusahaan dibanding Sato, yang latar belakangnya dari pengembangan produk,” ujarnya.
Menariknya, Kon sendiri mengaku tidak menyangka akan ditunjuk sebagai CEO. Ia bahkan sempat merasa “blank” saat pertama kali ditawari posisi tersebut. Sementara itu, Sato menegaskan bahwa keputusan ini tidak melibatkan Toyoda secara langsung.
Selain itu, Kon juga memiliki peran penting di Woven by Toyota, anak usaha yang fokus pada teknologi mobilitas dan software. Pengalaman ini dinilai krusial, mengingat Toyota saat ini sedang berupaya mengejar ketertinggalan di sektor software dibanding rival China.
Sato sendiri mulai memimpin sejak April 2023, saat Toyota mendapat tekanan besar karena dianggap terlambat masuk ke kendaraan listrik berbasis baterai. Namun dalam periode singkatnya, performa saham Toyota justru melonjak dengan total return mencapai 111%, termasuk dividen—melampaui indeks Nikkei 225 yang hanya naik sekitar dua kali lipat.
Meski begitu, tantangan tetap nyata. Toyota masih kehilangan sebagian pangsa pasar, terutama di Asia Tenggara, akibat agresivitas pemain China seperti BYD, juga Chery Group.
Di tengah perang harga dan teknologi, keputusan ini bisa jadi penentu apakah Toyota tetap dominan atau mulai tertinggal di era baru otomotif global. Kita lihat saja!
Lihat Selengkapnya
Goodfriends bisa bertanya lebih jauh tentang ketersediaan unit, promo & benefit menarik, negosiasi harga ataupun simulasi kredit yang sesuai dengan kebutuhan Anda.