Beranda / Mobil Baru / Katalog / Nissan All New Kicks e-Power

Nissan All New Kicks e-Power

Rp 519 Juta - Rp 521 Juta
Kapasitas Mesin
1,198 CC
Mesin
1.2L Petrol Engine, In-line 3 Cylinder 12 Valve DOHC
Roda Penggerak
FWD
Jenis Bahan Bakar
Bensin
Pintu
5
Tempat Duduk
5
Foto Interior
Foto Eksterior
Pilihan Warna
Ciptakan gayamu dengan berbagai pilihan warna
7 Pilihan Warna
Monach Orange Black Roof
Gun Metallic
Night Blue
Radiant Red Black Roof
Storm White Black Roof
Black Star
Titanium Khaki
Tipe Kendaraan
Nissan All New Kicks e-Power One Tone
Rp 519 Juta
Dapatkan Ekslusif Promo
Nissan All New Kicks e-Power Two Tone
Rp 521 Juta
Dapatkan Ekslusif Promo
Fitur Kendaraan
Nissan All New Kicks e-Power One Tone
Nissan All New Kicks e-Power Two Tone
Kapasitas Mesin
1,198 CC
Jenis Bahan Bakar
Bensin
Mesin
1.2L Petrol Engine, In-line 3 Cylinder 12 Valve DOHC
Pintu
5
Roda Penggerak
FWD
Tempat Duduk
5
Power Steering
USB
Engine On
Camera Back
Parking Sensor
Bluetooth
ABS EBD
Airbag
Alarm
Overhead Airbag
Side Airbag
Blind Spot Monitor
Collision Avoidance System
Stability Control
Brake Assist
Tire Pressure Monitor
Child Safety Lock
Emergency Stop Signal
Isofix Child Seat
Central Lock
Power Door Lock
Cruise Control
Headup Display
Navigation
Reading Lamp
Heater
Stereo Am Fm
Apple Carplay
Android Auto
Touch Screen
Rear Ac
Led Daytime
Electric Foldable Mirror
Seat Belt Warning
Hands Free Communication
Welcome Light
Lihat Semua

NISSAN ALL NEW KICKS E-POWER
Artikel Terkait
Lihat Semua
Sejarah Nissan X-Trail : Evolusi 4 Generasi SUV yang Sudah Terjual 8,1 Juta Unit di Dunia
07 Jul 2026
Sejarah Nissan X-Trail : Evolusi 4 Generasi SUV yang Sudah Terjual 8,1 Juta Unit di Dunia 07 Jul 2026 Jakarta, Goodcar.id - Sejarah Nissan X-Trail berawal pada 2025. SUV yang pertama kali diperkenalkan Nissan pada November 2000 itu kini genap berusia 25 tahun dengan pencapaian penjualan global yang telah melampaui 8,1 juta unit. Selama seperempat abad, Nissan X-Trail mengalami banyak perubahan. Awalnya dikenal sebagai SUV untuk penggemar aktivitas luar ruang, model ini kemudian berkembang menjadi kendaraan keluarga yang dibekali teknologi elektrifikasi seperti e-POWER, mesin Variable Compression Turbo (VC-Turbo), hingga sistem penggerak empat roda e-4ORCE. Saat ini, X-Trail generasi terbaru telah dipasarkan di sekitar 95 negara. Nama X-Trail sendiri memiliki filosofi yang erat dengan karakter mobil tersebut. Huruf "X" diambil dari kata extreme yang menggambarkan semangat petualangan, sedangkan "Trail" berarti jalur atau lintasan yang identik dengan medan off-road. Kombinasi keduanya menjadi identitas SUV yang dirancang untuk menjelajah berbagai kondisi jalan tanpa mengorbankan kenyamanan penggunaan sehari-hari. Sejarah Nissan X-Trail Dimulai dari Generasi T30 Dalam sejarah Nissan X-Trail, generasi pertama berkode T30 menjadi fondasi yang membentuk identitas model ini. Dipasarkan pada 2000 hingga 2007, T30 hadir ketika SUV masih identik dengan kendaraan berukuran besar, konsumsi bahan bakar tinggi, dan kurang praktis digunakan setiap hari. Melalui X-Trail T30, Nissan mencoba menawarkan pendekatan berbeda. SUV ini dirancang untuk konsumen muda yang aktif berolahraga maupun beraktivitas di alam terbuka dengan menghadirkan kabin luas, ruang bagasi yang lapang, lantai bagasi yang dapat dicuci, serta jok berbahan tahan air sehingga lebih mudah dibersihkan setelah digunakan di berbagai kondisi. Pada penyegaran tahun 2003, Nissan menambahkan roda kemudi yang dapat diatur hingga sudut kemiringan 45 derajat. Fitur tersebut memberikan ruang lebih lega bagi pengemudi, termasuk ketika ingin berganti sepatu sebelum melakukan aktivitas seperti bermain snowboard atau olahraga luar ruang lainnya. Salah satu ciri khas T30 adalah kehadiran Hyper Roof Rail, rel atap yang sekaligus berfungsi sebagai lampu tambahan untuk meningkatkan visibilitas ketika berkendara malam hari. Di sektor teknis, generasi pertama memperkenalkan sistem ALL MODE 4x4, teknologi penggerak empat roda elektronik yang mampu mengatur distribusi tenaga sesuai kondisi jalan. Pengemudi dapat memilih mode 2WD, AUTO, maupun LOCK dengan distribusi torsi tetap 57:43 ketika dibutuhkan. Khusus pasar Jepang, Nissan juga menghadirkan X-Trail GT yang menggunakan mesin SR20VET, mesin produksi massal pertama di dunia yang mengombinasikan teknologi Variable Valve Lift and Timing (VVL) dengan turbocharger dan menghasilkan tenaga hingga 280 PS. Generasi T31 Tingkatkan Kemampuan Berkendara Perjalanan sejarah Nissan X-Trail berlanjut melalui generasi kedua atau T31 yang diperkenalkan pada 2007. Nissan tetap mempertahankan karakter SUV tangguh, namun memberikan peningkatan pada aspek kenyamanan dan teknologi pengendalian. Model ini dibekali sistem ALL MODE 4x4-i yang dipadukan dengan Yaw Moment Control. Teknologi tersebut memanfaatkan sensor sudut kemudi, sensor yaw, serta sensor gaya gravitasi untuk mengatur distribusi torsi sehingga kendaraan tetap stabil ketika melewati tikungan maupun jalan dengan permukaan licin. Selain itu tersedia pula Hill Start Assist dan Hill Descent Control yang membantu pengemudi saat melintasi tanjakan maupun turunan. Karakter praktis khas X-Trail juga dipertahankan melalui bagasi dua tingkat yang mudah dibersihkan serta penggunaan material interior tahan air. Generasi T32 Mulai Memasuki Era Teknologi Pintar Jika melihat sejarah Nissan X-Trail, salah satu perubahan besar terjadi pada generasi T32 yang meluncur pada 2013. Nissan mulai mengubah desain menjadi lebih modern dengan tampilan yang lebih premium, sekaligus memperluas pilihan mesin melalui varian bensin dan hybrid. Di Amerika Utara, model ini dipasarkan menggunakan nama Rogue. Generasi T32 menjadi yang pertama menghadirkan teknologi Active Ride Control, Active Engine Brake, dan Cornering Stability Assist untuk meningkatkan kenyamanan sekaligus stabilitas kendaraan. Setelah mendapat pembaruan, Nissan melengkapi T32 dengan Intelligent Around View Monitor untuk membantu proses parkir, serta ProPILOT, sistem bantuan berkendara yang dapat membantu akselerasi, pengereman, dan kemudi saat melaju di jalan raya satu jalur. Meski semakin modern, Nissan tetap mempertahankan identitas X-Trail melalui lantai bagasi tahan air, ruang kargo yang luas, serta penambahan hands-free power tailgate untuk memudahkan akses ke bagasi. T33 Membawa Nissan X-Trail ke Era Elektrifikasi Babak terbaru dalam sejarah Nissan X-Trail dimulai lewat generasi keempat berkode T33 yang pertama kali diperkenalkan di Amerika Utara pada 2020 dan menyusul di Jepang pada 2022. Generasi ini mengusung teknologi e-POWER, di mana roda kendaraan digerakkan sepenuhnya oleh motor listrik, sementara mesin bensin VC-Turbo berfungsi sebagai generator penghasil listrik. Pendekatan tersebut menghasilkan karakter berkendara yang menyerupai mobil listrik dengan respons akselerasi yang halus tanpa memerlukan pengisian daya eksternal. Untuk mendukung kemampuan di berbagai kondisi jalan, Nissan juga menyematkan teknologi e-4ORCE. Sistem penggerak empat roda elektrik ini mengombinasikan kontrol motor listrik dan pengereman sehingga distribusi tenaga ke setiap roda dapat diatur secara presisi, termasuk saat melintasi jalan pegunungan maupun permukaan bersalju. Selain peningkatan teknologi, T33 juga menawarkan bukaan bagasi yang lebih lebar, sumber listrik AC 100 volt untuk pasar domestik Jepang, serta sistem audio premium BOSE dengan sembilan speaker. Sejarah Nissan X-Trail Terus Berkembang Mengikuti Perubahan Zaman Selama 25 tahun, sejarah Nissan X-Trail menunjukkan bagaimana sebuah SUV terus berevolusi mengikuti kebutuhan pasar dan perkembangan teknologi otomotif. Mulai dari T30 yang menonjolkan kepraktisan untuk aktivitas luar ruang, T31 dengan peningkatan sistem pengendalian, T32 yang membawa teknologi bantuan berkendara, hingga T33 yang memasuki era elektrifikasi melalui e-POWER dan e-4ORCE. Di momen peringatan 25 tahun ini, Nissan juga menghadirkan tambahan varian NISMO dan ROCK CREEK di sejumlah pasar. Kehadiran model tersebut menjadi bagian dari pengembangan lini X-Trail yang selama dua setengah dekade telah mencatat penjualan lebih dari 8,1 juta unit di berbagai negara. Perjalanan panjang tersebut menunjukkan bahwa sejarah Nissan X-Trail bukan hanya tentang pergantian generasi, tetapi juga bagaimana sebuah SUV beradaptasi terhadap perubahan kebutuhan konsumen, mulai dari kendaraan untuk bertualang hingga menjadi SUV modern dengan teknologi elektrifikasi. Lihat Selengkapnya
GAIKINDO Minta Insentif Berlaku untuk Semua Mobil, Termasuk ICE, Hybrid hingga Mobil Listrik
29 Jun 2026
GAIKINDO Minta Insentif Berlaku untuk Semua Mobil, Termasuk ICE, Hybrid hingga Mobil Listrik 29 Jun 2026 GAIKINDO Minta Stimulus untuk Semua Jenis Kendaraan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) mendorong pemerintah agar kebijakan stimulus di sektor otomotif tidak hanya menyasar kendaraan elektrifikasi, tetapi juga mencakup seluruh jenis kendaraan, mulai dari Internal Combustion Engine (ICE), Hybrid Electric Vehicle (HEV), Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) hingga Battery Electric Vehicle (BEV). Usulan tersebut disampaikan setelah GAIKINDO menilai pemerintah selama ini telah menunjukkan komitmen yang konsisten dalam menjaga iklim investasi sekaligus mempertahankan daya saing industri otomotif nasional melalui berbagai kebijakan dan insentif. Menurut GAIKINDO, dukungan pemerintah menjadi faktor penting bagi keberlangsungan industri otomotif yang beberapa tahun terakhir menghadapi tantangan besar, mulai dari pandemi Covid-19 hingga perubahan teknologi menuju kendaraan ramah lingkungan. Ketua Harian sekaligus Ketua Penyelenggara Pameran dan Konferensi GAIKINDO, Anton Kumonty, mengatakan hubungan antara pemerintah dengan pelaku industri selama ini berjalan melalui komunikasi yang terbuka. "GAIKINDO melihat pemerintah, khususnya Kementerian Perindustrian, telah menunjukkan komitmen yang konsisten dalam mendukung industri otomotif nasional. Berbagai kebijakan yang diterapkan, mulai dari pemberian fasilitas investasi, insentif fiskal, hingga forum dialog yang rutin dengan pelaku industri, merupakan bentuk nyata upaya pemerintah dalam menjaga daya saing industri otomotif Indonesia sekaligus memberikan kepastian bagi seluruh investor," ujar Anton Kumonty, Ketua Harian sekaligus Ketua Penyelenggara Pameran dan Konferensi GAIKINDO. Berbagai Insentif Dinilai Menjaga Industri Otomotif GAIKINDO mencatat salah satu dukungan pemerintah yang cukup signifikan adalah pemberian fasilitas User Specific Duty-Free Scheme (USDFS). Selama periode Juli 2008 hingga Desember 2025, realisasi impor melalui skema tersebut mencapai sekitar 8,25 juta ton dengan nilai sekitar USD 800 miliar. Dari total 74 perusahaan yang memanfaatkan fasilitas tersebut, sebanyak 57 perusahaan berasal dari industri otomotif. Melalui fasilitas ini, perusahaan memperoleh pembebasan bea masuk untuk impor bahan baku maupun komponen yang belum dapat diproduksi di dalam negeri sehingga biaya produksi dapat ditekan sekaligus meningkatkan daya saing industri nasional. Selain itu, kebijakan PPN Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) juga dinilai berperan besar dalam menjaga permintaan pasar domestik. Program tersebut dimanfaatkan hampir seluruh produsen kendaraan yang memproduksi mobil di Indonesia, seperti Toyota, Daihatsu, Honda, Mitsubishi Motors, Suzuki, Nissan dan Isuzu, selama memenuhi persyaratan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Menurut GAIKINDO, insentif tersebut mampu membantu menjaga utilisasi pabrik, mempertahankan lapangan kerja, sekaligus menjaga roda industri otomotif nasional tetap bergerak. Program LCEV Dinilai Mendorong Investasi Baru Dukungan pemerintah juga diwujudkan melalui implementasi Program Low Carbon Emission Vehicle (LCEV) yang diatur dalam Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 36 Tahun 2021. Program tersebut melibatkan berbagai produsen otomotif yang memasarkan kendaraan Low Cost Green Car (LCGC), hybrid maupun kendaraan listrik berbasis baterai. Implementasi program itu dinilai telah mendorong investasi baru, mempercepat pengembangan kendaraan elektrifikasi, sekaligus meningkatkan penggunaan komponen lokal. Selain insentif, pemerintah juga rutin menggelar forum komunikasi bersama pelaku industri otomotif. Anton mengatakan salah satu forum strategis yang terus berjalan adalah Indonesia–Japan Automobile Dialogue dan Biofuel Co-Creation Task Force Meeting. "Keberhasilan industri otomotif nasional sangat bergantung pada kolaborasi yang erat antara pemerintah dan seluruh pelaku industri. Salah satu bentuk forum komunikasi yang secara rutin diselenggarakan adalah dialog bersama antara Indonesia dan Jepang yakni Indonesia–Japan Automobile Dialogue dan Biofuel Co-Creation Task Force Meeting," ungkap Anton. Ia menambahkan, forum terakhir yang berlangsung pada 2025 menghasilkan pembentukan Working Group on Biofuel Co-Creation Task Force sebagai langkah mempercepat pengembangan dan implementasi biofuel di Indonesia. Investor Jepang dan China Sama-sama Ingin Kepastian GAIKINDO juga menilai dukungan pemerintah terhadap investor Jepang menjadi salah satu faktor yang menjaga kepercayaan pelaku industri. Dalam lima tahun terakhir, investasi Jepang tidak hanya masuk ke sektor produksi kendaraan dan komponen, tetapi juga mendukung pembangunan ekosistem otomotif nasional, termasuk Pelabuhan Patimban di Subang dan Balai Pengujian Laik Jalan dan Sertifikasi Kendaraan Bermotor (BPLJSKB) atau proving ground di Bekasi. Di sisi lain, sejumlah perusahaan otomotif asal Tiongkok juga disebut berharap memperoleh dukungan serupa agar dapat menjalankan investasi jangka panjang di Indonesia. Ketua Bidang Pengembangan Pasar GAIKINDO, Jongkie Sugiarto, mengatakan kondisi tersebut menjadi sinyal positif bagi iklim investasi nasional. "Melihat dukungan dari pemerintah terhadap industri otomotif Jepang di Indonesia, beberapa perusahaan otomotif dari Tiongkok yang saat ini sedang mulai berinvestasi di Indonesia menyatakan keinginannya untuk mendapatkan dukungan yang sama dari pemerintah agar dapat menjalankan rencana jangka panjangnya di Indonesia," tutur Jongkie Sugiarto, Ketua Bidang Pengembangan Pasar GAIKINDO. Menurut Jongkie, hal tersebut menunjukkan Indonesia masih memiliki daya tarik bagi produsen otomotif global untuk menanamkan investasi. GAIKINDO Dorong Insentif Berlaku untuk Semua Kendaraan Melihat besarnya kontribusi industri otomotif terhadap perekonomian nasional, GAIKINDO berharap pemerintah dapat mempertimbangkan stimulus yang lebih merata. Asosiasi tersebut telah mengusulkan kepada Kementerian Perindustrian agar kebijakan insentif tidak hanya berfokus pada kendaraan listrik, tetapi juga mencakup kendaraan bermesin pembakaran internal, hybrid hingga plug-in hybrid. Langkah itu dinilai dapat memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh pelaku industri untuk menjaga pertumbuhan pasar otomotif Indonesia di tengah tantangan ekonomi dan perubahan teknologi global. Menutup pernyataannya, Anton menegaskan GAIKINDO akan terus berperan dalam menjaga ekosistem industri otomotif nasional melalui kolaborasi bersama pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan. "Sebagai asosiasi yang mewadahi industri kendaraan bermotor di Indonesia, GAIKINDO akan terus mendukung terciptanya ekosistem industri otomotif yang sehat, kompetitif, dan berkelanjutan melalui kolaborasi yang erat antara pemerintah, pelaku industri, serta seluruh pemangku kepentingan," tutup Anton Kumonty. Lihat Selengkapnya
Mobil Listrik vs Hybrid 2026: Mana yang Lebih Cocok untuk Konsumen Indonesia?
19 Jun 2026
Mobil Listrik vs Hybrid 2026: Mana yang Lebih Cocok untuk Konsumen Indonesia? 19 Jun 2026 Jakarta, Goodcar.id – Jika beberapa tahun lalu mobil listrik masih dianggap sebagai produk niche, kini kondisinya sudah berubah drastis. Masuknya berbagai merek baru, terutama dari China, membuat pilihan kendaraan listrik semakin beragam dengan rentang harga yang makin kompetitif. Dampaknya, adopsi mobil listrik pun melonjak signifikan. Namun menariknya, di tengah tren tersebut, mobil hybrid justru belum tergeser. Model hybrid masih menjadi kontributor utama penjualan bagi sejumlah pabrikan Jepang di Indonesia. Lalu di 2026 ini, mana yang sebenarnya lebih worth it: mobil listrik atau hybrid? Data Penjualan Elektrifikasi Tumbuh Berdasarkan data industri otomotif nasional, total penjualan kendaraan di Indonesia masih didominasi oleh mobil bermesin konvensional. Namun, tren elektrifikasi terus menunjukkan peningkatan signifikan. Berikut rincian penjualan dan pangsa pasar terbaru: Mobil listrik murni (BEV): 103.931 unit (12,9%) Mobil hybrid (HEV): 65.943 unit (8,2%) Plug-in Hybrid (PHEV): 5.270 unit (0,7%) Total kendaraan elektrifikasi: 175.144 unit (21,8%) Mobil bensin & diesel (ICE): 628.543 unit (78,2%) Dari data ini terlihat jelas bahwa kendaraan elektrifikasi sudah menyumbang lebih dari 20 persen pasar nasional. mobil listrik murni sendiri menyumbang angka 12,9% di 2025, sedangkan hybrid termasuk PHEV menyumbang 8,9%. Mobil Listrik Unggul dari Sisi Biaya Operasional Jika bicara efisiensi, mobil listrik masih jadi pemenang yang cukup telak. Pengguna tidak perlu membeli bahan bakar minyak, dan biaya perawatan juga lebih sederhana karena tidak ada komponen seperti oli mesin, filter, atau sistem pembakaran internal. Dalam praktiknya, biaya energi mobil listrik bisa berada di kisaran ratusan rupiah per kilometer. Angka ini jauh lebih rendah dibanding mobil berbahan bakar bensin, bahkan jika dibandingkan dengan hybrid sekalipun. Sementara itu, mobil hybrid memang lebih hemat dibanding mobil konvensional, tetapi tetap bergantung pada BBM. Artinya, biaya operasionalnya masih belum bisa menyaingi efisiensi mobil listrik murni. Bagi pengguna dengan mobilitas tinggi harian, selisih ini akan terasa signifikan dalam jangka panjang. Hybrid tidak membutuhkan charging station. Di titik ini, mobil hybrid masih punya keunggulan yang sulit disaingi. Hybrid tidak membutuhkan charging station. Pengguna cukup mengisi BBM seperti biasa, sementara sistem akan mengatur kerja motor listrik dan baterai secara otomatis. Sebaliknya, mobil listrik masih bergantung pada ketersediaan infrastruktur pengisian daya. Meskipun jumlah SPKLU terus bertambah dan teknologi fast charging mulai berkembang, distribusinya belum merata. Untuk penggunaan dalam kota, mobil listrik sudah cukup nyaman. Namun untuk perjalanan jarak jauh atau lintas daerah, keterbatasan infrastruktur masih menjadi pertimbangan utama. Karena itu, bagi pengguna dengan mobilitas tinggi antar kota, hybrid masih menawarkan fleksibilitas yang lebih aman. Pengalaman Berkendara: EV Lebih Modern Dari sisi driving experience, mobil listrik menawarkan sensasi yang berbeda. Torsi instan membuat akselerasi terasa lebih responsif, sementara kabin yang senyap meningkatkan kenyamanan berkendara, terutama di area perkotaan. Sebaliknya, mobil hybrid memberikan pengalaman yang lebih familiar. Transisi antara mesin dan motor listrik berlangsung halus tanpa mengubah kebiasaan berkendara. Namun, pada teknologi hybrid modern, pendekatannya sudah semakin berbeda. Beberapa pabrikan seperti Nissan melalui teknologi e-Power dan Wuling dengan sistem “Ling Power” (yang berfokus pada konsep electric drive), menghadirkan pengalaman berkendara yang kini makin mendekati mobil listrik murni. Pada sistem ini, motor listrik menjadi penggerak utama roda, sementara mesin bensin berfungsi sebagai generator untuk mengisi daya baterai. Hasilnya, sensasi berkendara yang dirasakan pengemudi menjadi lebih halus, responsif, dan menyerupai EV, tanpa sepenuhnya meninggalkan mesin pembakaran internal. Harga dan Value: Semakin Tipis Beda di Pasar Elektrifikasi Dulu, mobil listrik (EV) selalu diposisikan sebagai produk paling mahal di lini elektrifikasi. Namun situasi itu mulai bergeser. Saat ini, gap harga antara EV dan hybrid semakin mengecil. Bahkan di beberapa segmen, hybrid justru mulai masuk ke rentang harga yang berdekatan dengan EV entry-level. Misal di segmen MPV 300–400 jutaan, batas harga antara hybrid dan EV kini semakin kabur. Terlihat dari perbandingan Toyota Veloz Hybrid yang berada di kisaran sekitar Rp303–389 juta dengan BYD M6 DM yang juga dipasarkan di rentang kurang lebih Rp298–390 juta. Artinya, kedua model ini sudah berada dalam satu “zona harga” yang saling beririsan, di mana varian terendah BYD M6 DM bahkan bisa lebih murah dibanding Veloz Hybrid, sementara varian tertingginya bertemu di kisaran yang sama. Meski demikian, hybrid masih memiliki keunggulan tersendiri, terutama pada nilai jual kembali. Teknologi yang lebih lama dikenal membuatnya dianggap lebih stabil dan “aman” di pasar mobil bekas, khususnya bagi konsumen yang masih mempertimbangkan risiko adopsi teknologi baru. Lihat Selengkapnya
Nissan X-Trail e-Power Facelift Debut di KLIMS 2026, Ini Ubahannya
12 Jun 2026
Nissan X-Trail e-Power Facelift Debut di KLIMS 2026, Ini Ubahannya 12 Jun 2026 KUALA LUMPUR, Goodcar.id — Nissan menampilkan versi terbaru X-Trail e-Power dalam ajang Kuala Lumpur International Mobility Show (KLIMS) 2026. Model ini hadir sebagai versi facelift dari generasi T33, sekaligus menandai debut regionalnya di kawasan ASEAN. Nissan memastikan model tersebut akan segera dipasarkan di Malaysia pada kuartal keempat 2026, menjadikannya salah satu peluncuran penting di segmen elektrifikasi tahun ini. Nissan X-Trail e-Power Facelift Secara tampilan, Nissan X-Trail e-Power facelift membawa sejumlah revisi pada eksterior. Perubahan paling menonjol terlihat pada grille V-Motion yang kini mengusung desain kisi horizontal, memberikan kesan lebih modern dibanding model sebelumnya yang beredar di Malaysia. Desain lampu depan masih mempertahankan konsep split-level, namun dipadukan dengan bumper baru. A Aksen berbentuk huruf C di sisi kanan dan kiri kini menyatu dengan area intake bawah, menciptakan tampilan yang lebih tegas. Di bagian belakang, Nissan juga melakukan penyempurnaan pada desain bumper. Secara keseluruhan, perubahan yang dilakukan cenderung evolusioner, mempertahankan identitas X-Trail sebagai SUV keluarga namun dengan sentuhan visual yang lebih segar. Tetap Mengusung Sistem e-Power Di balik ubahan desain, Nissan tetap mempertahankan teknologi e-Power sebagai fondasi utama. Mesin bensin 1.5 liter turbo tiga silinder dengan teknologi VC-Turbo tidak terhubung langsung ke roda. Perannya hanya sebagai generator untuk mengisi baterai lithium-ion berkapasitas 1,8 kWh. Tenaga untuk menggerakkan kendaraan sepenuhnya berasal dari motor listrik. Motor depan menghasilkan 204 PS dan 330 Nm, sementara motor belakang menyumbang 136 PS dan 195 Nm. Kombinasi tersebut menghadirkan sistem penggerak semua roda e-4ORCE AWD yang dikembangkan untuk meningkatkan stabilitas dan kontrol kendaraan di berbagai kondisi jalan. Karakter berkendara yang dihasilkan diklaim menyerupai mobil listrik, termasuk dengan hadirnya fitur e-Pedal yang memungkinkan pengemudi mengatur akselerasi dan deselerasi hanya dengan satu pedal. Fitur Kabin Tetap Lengkap Sebagai SUV tujuh penumpang, Nissan X-Trail e-Power facelift tetap menawarkan paket fitur yang cukup lengkap di kelasnya. Sejumlah fitur yang tersedia antara lain pelek 19 inci, panoramic sunroof, pintu bagasi elektrik hands-free, serta interior berbalut kulit dengan pengaturan elektrik pada kursi depan. Di sektor teknologi, tersedia panel instrumen digital 12,3 inci, layar sentuh infotainment berukuran sama, serta head-up display 10,8 inci. Sistem hiburan didukung sembilan speaker Bose dan konektivitas Android Auto serta Apple CarPlay. Fitur lain yang melengkapi termasuk wireless charger 15 watt, kamera 360 derajat dengan Moving Object Detection, serta sistem pendingin udara tiga zona. “Nissan dengan bangga memperkenalkan New Nissan X-Trail e-POWER x e-4ORCE di KLIMS, yang menjalani debut regionalnya sekaligus mengonfirmasi kehadirannya di Malaysia pada kuartal keempat 2026,” ujar Masao Tsutsumi, Presiden Nissan ASEAN & Nissan Thailand. Melalui X-Trail e-Power facelift, Nissan menegaskan arah pengembangan teknologi elektrifikasi yang tidak sepenuhnya bergantung pada infrastruktur pengisian daya eksternal. Selain X-Trail, Nissan juga menampilkan lini e-Power lainnya di ajang KLIMS 2026, termasuk Kicks e-Power dan Serena e-Power sebagai bagian dari ekspansi portofolio di segmen elektrifikasi. Dengan konfirmasi peluncuran pada kuartal keempat tahun ini, Nissan X-Trail e-Power facelift menjadi salah satu model yang patut ditunggu di pasar Malaysia. Meski perubahan yang dihadirkan lebih berfokus pada penyegaran desain, kombinasi teknologi e-Power dan sistem e-4ORCE tetap menjadi daya tarik utama yang ditawarkan. Kini tinggal menunggu bagaimana respons pasar terhadap SUV elektrifikasi ini, di tengah semakin banyaknya pilihan kendaraan elektrifikasi yang hadir di kawasan ASEAN. Lihat Selengkapnya

TANYA LEBIH JAUH TENTANG UNIT

Goodfriends bisa bertanya lebih jauh tentang ketersediaan unit, promo & benefit menarik, negosiasi harga ataupun simulasi kredit yang sesuai dengan kebutuhan Anda.