Spesifikasi Volvo ES90 di Indnonesia, Sedan EV dengan Range 661 Km10 Mar 2026
Spesifikasi Volvo ES90 di Indnonesia, Sedan EV dengan Range 661 Km10 Mar 2026
JAKARTA, Goodcar.id – Produsen otomotif asal Swedia, Volvo Cars, resmi memperkenalkan Volvo ES90 di pasar Indonesia. Kehadiran sedan listrik ini menjadi langkah terbaru dalam strategi elektrifikasi Volvo di segmen kendaraan premium Tanah Air.
Peluncuran Volvo ES90 sekaligus memperkuat portofolio kendaraan elektrifikasi yang ditawarkan oleh Volvo Car Indonesia, dengan menghadirkan model sedan listrik sebagai flagship baru di pasar lokal.
Model ini menggabungkan desain khas Skandinavia dengan teknologi elektrifikasi generasi terbaru, sekaligus mempertahankan standar keselamatan yang selama ini menjadi identitas Volvo.
Motor Listrik 800V dan Jarak Tempuh Hingga 661 Km
Salah satu sorotan utama dari Volvo ES90 adalah penggunaan arsitektur listrik 800 volt, teknologi yang memungkinkan efisiensi energi lebih tinggi sekaligus pengisian daya yang lebih cepat dibandingkan sistem konvensional.
Sedan listrik ini menggunakan baterai berkapasitas 92 kWh. Berdasarkan pengujian standar Worldwide Harmonised Light Vehicles Test Procedure, mobil ini mampu menempuh jarak hingga 661 kilometer dalam sekali pengisian daya.
Kemampuan pengisian cepat juga menjadi salah satu keunggulan utama. Dengan menggunakan DC fast charging hingga 350 kW, baterai dapat diisi dari 10 persen hingga 80 persen dalam waktu sekitar 22 menit.
Untuk pasar Indonesia, Volvo ES90 dibekali motor listrik dengan tenaga 245 kW atau sekitar 333 hp, serta torsi maksimum 480 Nm.
Sedan listrik ini mampu berakselerasi dari 0–100 km/jam dalam 6,6 detik, sementara kecepatan tertingginya dibatasi hingga 180 km/jam.
Masuk ke dalam kabin, Volvo ES90 menghadirkan desain interior yang mengusung filosofi minimalis khas Skandinavia. Tata letaknya dirancang sederhana namun tetap menonjolkan kesan modern dan elegan.
Pada bagian tengah dashboard terdapat layar sentral berukuran 14,5 inci yang menjadi pusat pengaturan sistem infotainment. Sementara itu, panel instrumen digital berukuran 9 inci menampilkan informasi kendaraan secara ringkas.
Volvo juga menyediakan head-up display 13,2 inci sebagai fitur opsional yang memproyeksikan informasi berkendara langsung ke bidang pandang pengemudi.
Selain itu, kabin sedan listrik ini dilengkapi multi-zone climate control serta sistem pemurnian udara yang diklaim mampu menyaring hingga 95 persen partikel polusi.
Panoramic roof dengan teknologi electrochromic glass juga hadir untuk menghadirkan pencahayaan alami sekaligus menjaga kenyamanan kabin.
Fitur cabin pre-conditioning memungkinkan pengemudi mengatur suhu kabin sebelum perjalanan dimulai melalui aplikasi resmi kendaraan.
Sistem Digital Terintegrasi Google
Dalam hal konektivitas, Volvo ES90 dilengkapi sistem Google built-in yang terintegrasi langsung dengan berbagai layanan digital.
Fitur ini menghadirkan aplikasi seperti Google Maps, Google Assistant, dan Google Play langsung di dalam sistem infotainment kendaraan.
Selain itu, sistem komputasi Volvo Superset Core Computing memungkinkan pembaruan perangkat lunak dilakukan secara over-the-air (OTA) tanpa perlu mengunjungi bengkel.
Fitur lain yang tersedia adalah digital key, yang memungkinkan kendaraan dibuka dan dikunci melalui smartphone.
Untuk pengguna iPhone, tersedia juga integrasi Apple CarPlay secara nirkabel guna mendukung navigasi, hiburan, hingga akses aplikasi favorit.
Sistem Keselamatan Tetap Menjadi Prioritas
Sebagai kendaraan Volvo, Volvo ES90 tetap mengedepankan sistem keselamatan yang menjadi ciri khas merek ini.
Mobil ini dibangun dengan struktur bodi berpengaman 360 derajat dan dilengkapi berbagai sensor seperti kamera, radar, serta sensor ultrasonik yang bekerja secara terintegrasi.
Sistem driver understanding juga hadir untuk memantau kondisi pengemudi secara aktif guna mengurangi potensi risiko saat berkendara.
Teknologi tersebut dirancang untuk memberikan perlindungan maksimal tidak hanya bagi pengemudi dan penumpang, tetapi juga pengguna jalan lain di sekitar kendaraan.
Melengkapi Line-up Volvo di Indonesia
Kehadiran Volvo ES90 menambah pilihan kendaraan premium Volvo yang sudah lebih dulu hadir di Indonesia, termasuk SUV seperti Volvo XC90 dan Volvo XC60.
Dengan demikian, konsumen kini memiliki pilihan kendaraan Volvo yang lebih beragam, mulai dari SUV hingga sedan listrik.
Menurut Koji Horii, peluncuran model ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam menghadirkan kendaraan listrik di segmen premium.
“ES90 membawa teknologi Volvo ke level yang lebih tinggi, dengan jarak tempuh yang lebih jauh, pengisian daya yang lebih cepat, serta pengalaman digital yang semakin terhubung,” ujar Koji Horii.
Di Indonesia, Volvo ES90 dipasarkan dengan harga sekitar Rp2,1 miliar on the road, menegaskan posisinya sebagai sedan listrik flagship Volvo di segmen kendaraan premium.
Lihat Selengkapnya
Perbedaan HEV dan PHEV: Cara Kerja, Sistem Baterai, dan Keunggulannya10 Mar 2026
Perbedaan HEV dan PHEV: Cara Kerja, Sistem Baterai, dan Keunggulannya10 Mar 2026
JAKARTA, Goodcar.id – Perkembangan kendaraan elektrifikasi di Indonesia terus bergerak cepat. Di tengah tren kendaraan energi baru atau New Energy Vehicle (NEV), masyarakat kini mulai mengenal berbagai teknologi mobil ramah lingkungan, termasuk Hybrid Electric Vehicle (HEV) dan Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV).
Kedua teknologi tersebut sama-sama menggabungkan mesin bensin dengan motor listrik. Namun dalam praktiknya, perbedaan HEV dan PHEV terletak pada sistem pengisian baterai, cara kerja tenaga listrik, hingga pola penggunaan kendaraan sehari-hari.
Business Unit Director Jaecoo Indonesia, Jim Ma menjelaskan bahwa meski berada dalam kategori kendaraan hybrid, kedua teknologi tersebut memiliki karakter yang berbeda.
“Karakter penggunaan, sistem kerja, serta keunggulannya pun berbeda. HEV merupakan kendaraan yang memiliki dua sumber tenaga, yaitu mesin bensin dan daya listrik, tetapi baterainya tidak dapat diisi melalui colokan eksternal,” ujar Jim Ma.
Ia menambahkan, PHEV juga menggabungkan mesin konvensional dan motor listrik, tetapi baterainya dapat diisi melalui sumber listrik eksternal sehingga kendaraan dapat beroperasi dalam mode listrik maupun mode mesin bensin.
Perbedaan tersebut menjadi penting dipahami, terutama bagi konsumen yang mulai mempertimbangkan kendaraan hybrid sebagai alternatif mobilitas harian.
Cara Kerja HEV: Baterai Terisi Otomatis Tanpa Colokan
Pada kendaraan Hybrid Electric Vehicle (HEV), sistem hybrid dirancang untuk meningkatkan efisiensi bahan bakar tanpa mengubah kebiasaan berkendara secara signifikan.
Ada beberapa karakter utama dari teknologi ini.
1. Baterai Terisi Otomatis
Salah satu ciri utama HEV adalah baterai yang tidak memerlukan pengisian dari sumber listrik eksternal. Energi listrik pada baterai akan terisi secara otomatis melalui dua mekanisme utama, yaitu kerja mesin bensin dan sistem regenerative braking.
Regenerative braking merupakan proses pengisian ulang energi saat kendaraan melakukan pengereman. Energi yang biasanya terbuang akan diubah menjadi listrik dan disimpan kembali ke dalam baterai.
Kapasitas baterai pada kendaraan HEV juga relatif kecil, umumnya berada di kisaran 1–2 kWh.
2. Mesin dan Motor Listrik Bekerja Bergantian
Pada kondisi tertentu, motor listrik akan bekerja secara mandiri, terutama saat kendaraan berjalan pada kecepatan rendah atau di lalu lintas padat.
Namun ketika kendaraan membutuhkan tenaga lebih besar—misalnya saat akselerasi, menanjak, atau melaju di jalan tol—mesin bensin akan mengambil alih peran utama.
3. Fokus pada Efisiensi Bahan Bakar
Karena sistemnya dirancang untuk mendukung mesin bensin, HEV dikenal mampu meningkatkan efisiensi bahan bakar dibandingkan mobil konvensional.
Selain itu, pengguna tidak perlu mencari fasilitas pengisian listrik. Hal ini membuat HEV tetap praktis digunakan di wilayah yang belum memiliki infrastruktur pengisian kendaraan listrik yang luas.
Cara Kerja PHEV: Baterai Bisa Diisi dari Listrik
Berbeda dengan HEV, Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) menawarkan pendekatan yang lebih dekat dengan mobil listrik murni.
Perbedaan HEV dan PHEV paling terlihat pada sistem baterai yang lebih besar serta kemampuan pengisian dari sumber listrik eksternal.
1. Baterai Bisa Diisi Melalui Charger
Pada kendaraan PHEV, baterai dapat diisi melalui home charging maupun Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).
Karena dirancang untuk menerima pengisian listrik eksternal, kapasitas baterai pada PHEV umumnya jauh lebih besar dibandingkan HEV.
Hal ini memungkinkan kendaraan menyimpan energi listrik dalam jumlah lebih banyak.
2. Dapat Berjalan dalam Mode Listrik Murni
Dengan kapasitas baterai yang lebih besar, PHEV memungkinkan kendaraan melaju dalam mode listrik sepenuhnya untuk jarak tertentu tanpa bantuan mesin bensin.
Mode ini biasanya dimanfaatkan untuk perjalanan harian seperti aktivitas dalam kota atau perjalanan jarak pendek.
3. Tetap Fleksibel untuk Perjalanan Jauh
Jika daya baterai habis, kendaraan PHEV tetap dapat digunakan seperti mobil hybrid biasa karena mesin bensin akan kembali bekerja sebagai sumber tenaga utama.
Dengan demikian, kendaraan tetap dapat digunakan untuk perjalanan jarak jauh tanpa kekhawatiran kehabisan daya listrik.
Memahami Perbedaan HEV dan PHEV
Secara garis besar, perbedaan HEV dan PHEV dapat dilihat dari tiga aspek utama: cara pengisian baterai, kapasitas baterai, dan pola penggunaan kendaraan.
HEV mengandalkan pengisian otomatis dari mesin dan pengereman, sementara PHEV dapat diisi melalui sumber listrik eksternal.
Selain itu, PHEV memiliki baterai lebih besar sehingga memungkinkan kendaraan berjalan dalam mode listrik murni.
Menurut Jim Ma, pemahaman terhadap teknologi tersebut menjadi langkah awal bagi konsumen sebelum menentukan pilihan kendaraan elektrifikasi.
“Ketika konsumen sudah mengetahui perbedaan mendasar dari cara kerja dan keunggulan masing-masing sistem, langkah selanjutnya adalah menyesuaikan pilihan tersebut dengan kebutuhan mobilitas harian mereka,” kata Jim Ma.
Seiring meningkatnya pilihan kendaraan elektrifikasi di pasar otomotif Indonesia, pemahaman mengenai perbedaan HEV dan PHEV menjadi semakin penting agar konsumen dapat memilih teknologi yang sesuai dengan kebutuhan penggunaan kendaraan sehari-hari.
Lihat Selengkapnya
BAIC Indonesia Targetkan Penjualan Naik Hampir 200 Persen pada 202606 Mar 2026
BAIC Indonesia Targetkan Penjualan Naik Hampir 200 Persen pada 202606 Mar 2026
Jakarta, Goodcar.id - BAIC Indonesia menyiapkan langkah agresif untuk memperkuat posisinya di pasar otomotif nasional. Melalui PT JIO Distribusi Indonesia sebagai distributor resmi, pabrikan asal Tiongkok ini menargetkan pertumbuhan penjualan hampir 200 persen pada tahun 2026.
Strategi tersebut akan ditempuh melalui kombinasi ekspansi jaringan dealer, peluncuran model baru, hingga penguatan layanan purna jual. Rencana itu disampaikan dalam acara buka puasa bersama media yang digelar di kawasan Gading Serpong, Tangerang.
Chief Operating Officer BAIC Indonesia, Dhani Yahya, menjelaskan bahwa target pertumbuhan tersebut merupakan bagian dari strategi ekspansi yang lebih agresif di pasar otomotif Indonesia.
“Pertumbuhan yang kami targetkan pada 2026 merupakan bagian dari strategi ekspansi BAIC Indonesia yang lebih agresif untuk meneguhkan posisinya sebagai pemain yang serius di industri otomotif Indonesia,” ujar Dhani Yahya.
Ia menambahkan, perusahaan terus melakukan penguatan baik dari sisi produk maupun jaringan penjualan dan layanan purna jual untuk mendorong peningkatan penjualan.
Segmen SUV dan 4x4 Dinilai Punya Peluang Besar
Target pertumbuhan tersebut muncul di tengah dinamika pasar otomotif nasional. Sepanjang 2025, total penjualan mobil di Indonesia tercatat menurun dibandingkan tahun sebelumnya.
Data industri menunjukkan penjualan kendaraan roda empat turun dari 865.723 unit pada 2024 menjadi 803.687 unit pada 2025. Meski demikian, segmen kendaraan 4x4 justru mengalami pertumbuhan signifikan.
Penjualan mobil di segmen tersebut meningkat sekitar 27 persen, dari 15.209 unit menjadi 19.244 unit dalam periode yang sama. Kenaikan ini memperlihatkan meningkatnya minat konsumen terhadap kendaraan dengan karakter tangguh.
BAIC melihat tren ini sebagai peluang besar, mengingat sebagian besar lini produk mereka berada di segmen SUV dan kendaraan 4x4. Model seperti BAIC X55 II dan BJ40 Plus menjadi contoh kendaraan yang menyasar kebutuhan tersebut.
Menurut BAIC, kombinasi ketangguhan, teknologi, dan fleksibilitas penggunaan di berbagai kondisi jalan menjadi faktor yang mendorong meningkatnya minat konsumen terhadap kendaraan di kelas ini.
Penjualan Ditargetkan Tembus 2.018 Unit
Sepanjang 2025, BAIC Indonesia mencatat penjualan retail sebanyak 677 unit. Dengan strategi ekspansi yang lebih agresif, perusahaan menargetkan penjualan meningkat menjadi 2.018 unit pada tahun 2026.
Jika target tersebut tercapai, angka tersebut setara dengan pertumbuhan sekitar 198 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
“Dengan dukungan produk yang kompetitif serta jaringan dealer yang terus berkembang, kami optimistis dapat mempercepat pertumbuhan penjualan ke depan,” tutup Dhani.
Lihat Selengkapnya
Changan Kantongi Lisensi Autonomous Driving Level 3, Siap Uji Coba di Jalan Tol Tiongkok05 Mar 2026
Changan Kantongi Lisensi Autonomous Driving Level 3, Siap Uji Coba di Jalan Tol Tiongkok05 Mar 2026
Tiongkok, Goodcar.id - Changan Automobile resmi menjadi salah satu merek asal Tiongkok pertama yang mendapatkan persetujuan akses produk untuk Autonomous Driving Level 3 (L3) dari Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi Tiongkok atau MIIT.
Persetujuan ini menempatkan Changan dalam kelompok awal penerima lisensi mengemudi otonom bersyarat di negara tersebut.
Langkah ini bukan sekadar simbolik. Lisensi tersebut membuka jalan bagi satu model passenger car Changan untuk beroperasi dalam mode pengemudian otonom satu lajur di ruas jalan tol dan jalan layang perkotaan tertentu di Chongqing, Tiongkok. Implementasi awal difokuskan pada jalur strategis seperti inner ring expressway dan jalur lingkar dalam baru.
Bisa Aktif Saat Macet hingga 50 Km/Jam
Teknologi Autonomous Driving Level 3 yang dikembangkan Changan dirancang untuk mengambil alih kendali kendaraan secara mandiri dalam kondisi tertentu, khususnya saat kemacetan lalu lintas dengan batas kecepatan maksimal hingga 50 km/jam. Sistem ini memungkinkan mobil berjalan otomatis dalam satu lajur tanpa intervensi aktif pengemudi, selama berada dalam batas Operational Design Conditions (ODC) yang telah ditentukan.
Meski demikian, Level 3 tetap mensyaratkan pengemudi untuk siap mengambil alih kendali ketika sistem meminta intervensi. Artinya, tanggung jawab berkendara belum sepenuhnya dilepas seperti pada Level 4 atau Level 5.
CEO Changan Indonesia, Setiawan Surya, menegaskan pencapaian ini menjadi tonggak penting.
“Pencapaian Changan Automobile sebagai salah satu brand otomotif Tiongkok pertama yang meraih lisensi Autonomous Driving Level 3 merupakan tonggak penting, tidak hanya bagi perusahaan, tetapi juga bagi perkembangan industri otomotif global. Ini membuktikan bahwa inovasi berbasis arsitektur SDA yang dikembangkan Changan telah memenuhi standar keamanan dan regulasi yang ketat,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Uji Jalan Lebih dari 5 Juta Kilometer
Lisensi tersebut tidak diperoleh secara instan. Changan menjalani proses system-level validation secara masif dengan total jarak uji coba di jalan raya dunia nyata melebihi 5 juta kilometer.
Dalam proses pengembangan, perusahaan memetakan 185 kategori skenario mengemudi, yang disebut melampaui tolok ukur regulasi hingga 49 persen. Pengujian juga difokuskan pada kondisi ekstrem untuk memastikan sistem mampu bekerja dalam berbagai situasi kompleks.
Data teknis internal menunjukkan sistem ini dapat menangani satu skenario risiko kompleks setiap 38,9 kilometer. Angka tersebut diklaim menjadi indikator ketangguhan operasional sistem dalam batas ODC yang telah ditetapkan secara presisi.
Mengandalkan Software Defined Architecture (SDA)
Fondasi teknologi ini terletak pada kerangka kerja Software Defined Architecture (SDA) yang dikembangkan secara mandiri oleh Changan. Arsitektur ini mengintegrasikan seluruh fase pengembangan, mulai dari desain sistem hingga produksi massal.
Changan juga menerapkan pendekatan closed-loop safety system atau ekosistem keselamatan siklus hidup penuh. Artinya, pengawasan dilakukan sejak tahap laboratorium hingga kendaraan digunakan konsumen di jalan raya.
Pengembangan sistem Level 3 ini berfokus pada empat pilar keamanan utama, yakni:
Functional safety
Safety of the Intended Functionality (SOTIF)
Cybersecurity
Keamanan data
Keempat aspek tersebut menjadi kerangka dasar untuk memastikan fungsi pengemudian otomatis berjalan sesuai batas desain dan standar regulasi.
Platform Cloud Monitoring 24/7
Untuk mendukung operasional di jalan, Changan mengoperasikan platform pemantauan berbasis cloud yang telah berjalan stabil selama 18 bulan. Sistem ini diklaim memiliki tingkat akurasi laporan dan keberhasilan peringatan keselamatan hingga 100 persen.
Platform tersebut bekerja selama 24 jam penuh untuk menganalisis risiko siber dan risiko operasional kendaraan. Sistem mampu mendeteksi anomali, memberikan peringatan dini, serta mengoordinasikan respons secara waktu nyata antara pusat operasi dan unit kendaraan.
Bagi pengguna, implementasi Level 3 ini berarti adanya lapisan pengawasan tambahan. Autonomous Driving hanya akan aktif ketika seluruh syarat terpenuhi, sementara sistem dan keamanan siber terus dipantau secara berkelanjutan.
Didukung Investasi R&D Skala Global
Sebagai produsen otomotif dengan total produksi global melampaui 30 juta unit, Changan memperkuat pengembangan teknologi melalui jaringan riset internasional. Perusahaan ini memiliki pusat R&D kolaboratif di enam negara dan sepuluh lokasi berbeda.
Lebih dari 24.000 profesional dari 31 negara tergabung dalam tim riset dan pengembangan. Infrastruktur tersebut mencakup 44 pusat penelitian teknologi dan pengembangan produk, 20 perusahaan teknologi, serta 180 laboratorium.
Dalam tiga tahun terakhir, Changan menginvestasikan lebih dari CNY 60 miliar untuk R&D dan mengajukan lebih dari 14.000 permohonan paten. Langkah ini menjadi fondasi evolusi berkelanjutan untuk teknologi kemudi cerdas yang mereka kembangkan.
Dengan lisensi Autonomous Driving Level 3 yang telah dikantongi, Changan mempertegas posisinya dalam peta transformasi mobilitas global. Implementasi awal di Chongqing menjadi tahap penting sebelum potensi ekspansi lebih luas di masa mendatang.
Lihat Selengkapnya
Goodfriends bisa bertanya lebih jauh tentang ketersediaan unit, promo & benefit menarik, negosiasi harga ataupun simulasi kredit yang sesuai dengan kebutuhan Anda.