Wacana Pembayaran Parkir Tahunan Bersama STNK Masih Dikaji23 Feb 2026
Wacana Pembayaran Parkir Tahunan Bersama STNK Masih Dikaji23 Feb 2026
Jakarta, Goodcar.id - Belakangan, wacana pembayaran biaya parkir tahunan bersamaan dengan perpanjangan STNK ramai dibicarakan di media sosial dan portal berita otomotif. Gagasan ini muncul sebagai langkah untuk menyederhanakan administrasi pembayaran parkir sekaligus pajak kendaraan bagi masyarakat.
Sejumlah pemerintah daerah, terutama di Sulawesi Selatan, tengah meneliti kemungkinan penerapan sistem ini. Kajian yang dilakukan mencakup revisi aturan perparkiran, mekanisme integrasi dengan STNK, serta evaluasi dampak bagi warga pengguna kendaraan. Wacana ini menimbulkan perhatian publik karena menyentuh langsung pengeluaran rutin pengguna kendaraan bermotor.
Tujuan Integrasi Parkir dan STNK
Sistem ini direncanakan agar masyarakat tidak perlu membayar parkir berulang kali setiap kali menggunakan kendaraan. Dengan integrasi tersebut, pembayaran parkir bisa dilakukan sekali setahun bersamaan dengan perpanjangan STNK.
Selain mempermudah masyarakat, sistem ini juga diharapkan dapat meningkatkan pencatatan pembayaran parkir secara resmi. Catatan yang lebih rapi memungkinkan pemerintah daerah memantau penerimaan dari sektor parkir secara lebih akurat, serta menekan praktik parkir liar yang masih ditemui di beberapa wilayah.
Tarif yang Beredar Masih Sebatas Wacana
Informasi yang beredar menyebutkan perkiraan tarif tahunan bagi kendaraan yang mengikuti sistem ini. Kendaraan roda dua diperkirakan sekitar Rp 365 ribu per tahun, sementara kendaraan roda empat sekitar Rp 730 ribu per tahun. Namun, angka ini belum resmi dan masih dalam tahap wacana.
Masyarakat belum diwajibkan membayar parkir tahunan bersamaan dengan STNK. Tarif resmi akan bergantung pada keputusan pemerintah daerah setelah kajian selesai. Sampai saat ini, semua informasi terkait nominal pembayaran dan mekanisme sistem masih bersifat indikatif.
Hingga kini, sistem pembayaran parkir tahunan bersamaan dengan STNK belum berlaku secara nasional. Pemerintah daerah yang mengkaji wacana ini masih menilai berbagai faktor, termasuk kelayakan administrasi, dampak finansial bagi masyarakat, serta prosedur teknis untuk integrasi sistem pembayaran.
Masyarakat diimbau untuk mengikuti informasi resmi dari instansi terkait sebelum melakukan pembayaran tambahan. Wacana ini menjadi perhatian publik karena menyentuh pengguna kendaraan secara langsung, terutama di wilayah dengan volume parkir tinggi. Pemerintah daerah menekankan bahwa seluruh proses masih dalam tahap kajian dan belum ada keputusan final mengenai mekanisme atau tarif yang akan diterapkan.
Wacana integrasi biaya parkir ke STNK menimbulkan berbagai reaksi dari masyarakat. Beberapa pihak menilai sistem ini berpotensi menambah beban pengeluaran, sementara sebagian lainnya melihat kemudahan administrasi sebagai nilai tambah. Meski demikian, hingga saat ini, semua perhitungan tarif dan mekanisme implementasi masih berupa kajian dan belum ditetapkan resmi.
Lihat Selengkapnya
Spesifikasi Mobil Pick up dari India yang akan Diimpor untuk Koperasi Merah Putih23 Feb 2026
Spesifikasi Mobil Pick up dari India yang akan Diimpor untuk Koperasi Merah Putih23 Feb 2026
Jakarta, Goodcar.id - Indonesia berencana mendatangkan sekitar 105.000 unit kendaraan pikap dari India untuk mendukung operasional Koperasi Merah Putih. Pengadaan kendaraan tersebut akan dilakukan oleh PT Agrinas Pangan Nusantara dengan melibatkan dua produsen utama asal India, yakni Mahindra & Mahindra dan Tata Motors.
Mahindra akan memasok sekitar 35.000 unit pikap Scorpio, sementara Tata Motors menyediakan 70.000 unit kendaraan yang terdiri dari 35.000 pikap Yodha dan 35.000 unit truk ringan Ultra T.7. Kendaraan-kendaraan tersebut dirancang untuk menunjang aktivitas koperasi, termasuk distribusi logistik hingga operasional di wilayah pedesaan.
Spesifikasi Mahindra Scorpio Pikap
Mahindra Scorpio pikap diproduksi di pabrik Nashik, India, dan dikenal memiliki ketahanan tinggi serta biaya operasional yang relatif rendah. Kendaraan ini dinilai sesuai untuk kebutuhan operasional koperasi, terutama di medan pedesaan hingga area pertanian dengan kondisi jalan yang berat.
Di Indonesia, pikap Scorpio sebenarnya sudah pernah dipasarkan sejak 2019 dalam varian Single Cab dan Double Cab. Kendaraan ini menggunakan mesin 2.2 liter mHawk berstandar emisi Euro 4 yang menghasilkan tenaga 140 PS dan torsi 320 Nm.
Mesin tersebut dipadukan dengan transmisi manual 6 percepatan. Fitur yang tersedia antara lain AC, audio 2DIN, power window, follow-me headlamps, serta cruise control steering switch. Dari sisi keselamatan tersedia dua airbag, ABS, central locking dengan remote, serta boltable crash bar.
Spesifikasi Tata Yodha Pikap
Model berikutnya adalah Tata Yodha yang tersedia dalam beberapa varian dengan pilihan bahan bakar diesel maupun CNG.
Varian Yodha CNG menggunakan mesin Tata 4SP SGI NA CNG dengan tenaga 74 hp pada 3.000 rpm dan torsi 200 Nm pada 1.400–1.600 rpm. Transmisinya menggunakan tipe GBS-76-5/4.1 dengan kecepatan maksimum sekitar 80 km/jam.
Selain itu terdapat varian Yodha 1700 yang dibekali mesin 2.2 liter Varicor turbo dengan tenaga 100 hp pada 3.750 rpm dan torsi 250 Nm pada 1.000–2.500 rpm. Mesin serupa juga digunakan pada varian Yodha 2.0 dan Yodha 1200 dengan karakter tenaga yang tidak jauh berbeda.
Spesifikasi Tata Ultra T.7 Light Truck
Kendaraan lainnya adalah truk ringan Ultra T.7 yang dirancang untuk kebutuhan distribusi barang. Model ini mengusung mesin 4SP BS6 Phase 2 TCIC berkapasitas 2.956 cc.
Versi light truck menghasilkan tenaga 100 PS pada 2.800 rpm dengan torsi maksimum 300 Nm pada 1.000–2.000 rpm. Kendaraan ini dilengkapi setir tilt dan telescopic serta kapasitas tangki bahan bakar 90 liter.
Impor Pikap Jadi Sorotan
Rencana impor kendaraan pikap dalam jumlah besar ini memunculkan perdebatan karena industri otomotif nasional sebenarnya memiliki kapasitas produksi pikap yang cukup besar, mencapai sekitar 1 juta unit per tahun.
Sejumlah pabrikan yang memproduksi kendaraan pikap di dalam negeri antara lain Astra Daihatsu Motor, Isuzu Astra Motor Indonesia, Mitsubishi Motors Krama Yudha Indonesia, Suzuki Indomobil Motor, SGMW Motor Indonesia, serta Sokonindo Automobile.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menilai pemenuhan kebutuhan kendaraan melalui impor berpotensi mengurangi manfaat ekonomi yang seharusnya bisa dinikmati industri dalam negeri.
"Apabila seluruh kebutuhan kendaraan pikap dipenuhi melalui impor, maka nilai tambah ekonomi dan penyerapan tenaga kerja akan dinikmati oleh industri di luar negeri. Namun, apabila kebutuhan tersebut dapat dipenuhi oleh industri dalam negeri, maka manfaat ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan industri nasional juga akan dirasakan di dalam negeri," ujar Agus Gumiwang Kartasasmita dalam siaran persnya.
Meski demikian, pemerintah mengakui bahwa industri otomotif nasional belum memproduksi kendaraan pikap berpenggerak empat roda (4x4) yang dirancang khusus untuk medan sangat berat seperti area tambang dan perkebunan.
Bahkan menurut Kementerian Perindustrian, jika kebutuhan kendaraan pikap tersebut dapat dipenuhi oleh produsen dalam negeri, potensi dampak ekonomi yang dihasilkan diperkirakan bisa mencapai sekitar Rp27 triliun.
Lihat Selengkapnya
Trump Bergerak! Inikah Momen Produsen Mobil Amerika Bangkit di Indonesia?24 Feb 2026
Trump Bergerak! Inikah Momen Produsen Mobil Amerika Bangkit di Indonesia?24 Feb 2026
Jakarta, Goodcar.id - Pemerintah Indonesia bersama Amerika Serikat resmi menandatangani Perjanjian Perdagangan Timbal Balik atau Agreement on Reciprocal Trade (ART) di Washington DC. Kesepakatan ini mencakup berbagai sektor kerja sama ekonomi, termasuk industri otomotif yang dinilai memiliki potensi besar bagi kedua negara.
Dalam dokumen final ART, khususnya pada Annex III Pasal 2.6, Indonesia diwajibkan melakukan penyesuaian terhadap sejumlah standar dan persyaratan yang dinilai dapat menghambat masuknya kendaraan maupun komponen otomotif buatan Amerika Serikat ke pasar domestik.
Ketentuan tersebut membuka peluang bagi kendaraan asal Amerika Serikat untuk memperoleh perlakuan khusus dalam proses masuk ke Indonesia. Produsen otomotif dari Negeri Paman Sam dapat mengajukan perubahan regulasi apabila dinilai merugikan produk mereka.
Dalam poin A dan B pasal yang sama disebutkan bahwa kendaraan asal Amerika Serikat yang dipasarkan di Indonesia tidak harus mengikuti seluruh standar keselamatan dan emisi nasional. Sebaliknya, kendaraan tersebut diperbolehkan menggunakan standar yang berlaku di Amerika Serikat.
"Indonesia wajib: (a) menerima kendaraan dan suku cadang kendaraan yang diproduksi sesuai dengan Standar Keselamatan Kendaraan Bermotor Federal AS (FMVSS) dan standar emisi AS dan dijual di Amerika Serikat; dan (b) menerima prosedur kepatuhan AS untuk produk otomotif tanpa persyaratan bagi kendaraan AS untuk menjalani proses tambahan untuk memasuki pasar Indonesia," demikian bunyi perjanjian tersebut.
Klausul tersebut dinilai dapat mempercepat proses masuknya kendaraan impor dari Amerika Serikat karena tidak lagi membutuhkan pengujian tambahan sesuai regulasi lokal.
Peluang Kebangkitan Merek Mobil Amerika di Indonesia
Kesepakatan ART juga dipandang sebagai peluang baru bagi produsen mobil Amerika Serikat untuk memperkuat kembali kehadiran mereka di Indonesia. Dalam satu hingga dua dekade terakhir, merek-merek otomotif asal AS mengalami penurunan dominasi di pasar nasional akibat persaingan ketat dengan produsen Jepang dan China.
Sejumlah merek besar seperti Ford Motor Company, Chevrolet, Jeep, dan Dodge merupakan pemain lama yang pernah memiliki basis konsumen di Indonesia. Namun dalam beberapa tahun terakhir, sebagian dari mereka memilih mengurangi aktivitas bisnis bahkan meninggalkan pasar karena tekanan kompetisi.
Saat ini, produsen kendaraan asal Amerika lebih sering berperan sebagai pemain pelengkap di industri otomotif nasional. Meski demikian, kebijakan baru melalui ART berpotensi membuka jalan bagi kembalinya merek-merek tersebut dengan strategi yang lebih kompetitif.
Dengan adanya kemudahan regulasi, produsen otomotif Amerika berpeluang menghadirkan lebih banyak model kendaraan ke Indonesia, sekaligus meningkatkan pilihan bagi konsumen di pasar otomotif domestik.
Lihat Selengkapnya
Kapasitas Produksi Pick-Up Indonesia Bisa Dioptimalkan, GAIKINDO Siap Penuhi Kebutuhan20 Feb 2026
Kapasitas Produksi Pick-Up Indonesia Bisa Dioptimalkan, GAIKINDO Siap Penuhi Kebutuhan20 Feb 2026
Jakarta, Goodcar.id – Industri otomotif Indonesia sedang menghadapi tekanan penjualan dalam negeri, namun potensi produksi tetap besar. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) saat ini menaungi 61 perusahaan otomotif dengan total kapasitas produksi mencapai 2,5 juta unit kendaraan bermotor roda empat atau lebih per tahun.
Dari jumlah tersebut, produksi kendaraan komersial kelas menengah ke-bawah, terutama pick-up, masih belum dimanfaatkan secara optimal. Anggota GAIKINDO yang memproduksi kendaraan jenis ini antara lain:
PT Suzuki Indomobil Motor
PT Isuzu Astra Motor Indonesia
PT Krama Yudha Tiga Berlian Motor
PT SGMW Motor Indonesia (Wuling Motors)
PT Sokonindo Automobile (DFSK)
PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN)
PT Astra Daihatsu Motor
Secara keseluruhan, kapasitas produksi pick-up anggota GAIKINDO bisa mencapai lebih dari 400.000 unit per tahun, namun pemanfaatannya belum maksimal. Kendaraan ini umumnya mengadopsi sistem penggerak 4x2 dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) lebih dari 40%, menjadikannya andalan untuk kebutuhan masyarakat di seluruh pelosok Indonesia.
“Jaringan servis dan layanan purna jual yang luas membuat kendaraan komersial 4x2 ini mampu memenuhi kebutuhan konsumen secara merata,” kata Putu Juli Ardika, Ketua Umum GAIKINDO. Ia menambahkan, “Kendaraan penggerak 4x4 memang bisa diproduksi, tetapi membutuhkan waktu untuk persiapan produksi yang matang.”
Industri otomotif nasional juga menjadi penyumbang besar lapangan kerja, dengan total 1,5 juta pekerja yang terlibat di seluruh ekosistemnya. Meski penjualan domestik sempat tertekan di bawah 1 juta unit per tahun, Indonesia tetap mencatat capaian ekspor kendaraan yang signifikan, mencapai lebih dari 518.000 unit ke 93 negara.
Menanggapi rencana impor kendaraan dari India, Putu Juli Ardika menegaskan keyakinannya terhadap kemampuan industri lokal.
“Sebenarnya anggota GAIKINDO dan juga industri pendukungnya, termasuk industri komponen otomotif yang tergabung dalam GIAMM, memiliki kapasitas untuk memenuhi kebutuhan domestik. Hanya diperlukan waktu agar jumlah dan kriterianya sesuai,” jelas Putu Juli.
Ia menekankan bahwa dengan kesempatan dan waktu yang cukup, anggota GAIKINDO dan GIAMM dapat ikut memenuhi permintaan kendaraan komersial, sekaligus mengoptimalkan kapasitas produksi dalam negeri dan mencegah potensi pengurangan tenaga kerja akibat penurunan permintaan domestik.
Namun, di tengah kapasitas lokal yang masih dapat dioptimalkan, PT Agrinas Pangan Nusantara memilih untuk mengimpor kendaraan pick-up dari India guna mendukung program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Perseroan mengimpor sebanyak 70.000 unit mobil pick-up Tata Motors, terdiri dari Yodha Pick Up dan truk ringan Ultra T.7, masing-masing 35.000 unit. Sebelumnya, Agrinas juga mengimpor 35.000 unit pick-up Scorpio dari Mahindra, sehingga total kendaraan niaga impor dari India mencapai 105.000 unit.
Direktur PT Tata Motors Distribusi Indonesia, Asif Shamim, menuturkan, “Pesanan untuk Kopdes Merah Putih ini mencerminkan semakin meningkatnya penerimaan kendaraan komersial asal India di pasar global. Penggunaannya akan mendukung logistik pertanian di Indonesia dengan meningkatkan konektivitas, memungkinkan pergerakan barang yang lebih efisien di seluruh jaringan pedesaan dan regional.”
Kedua kendaraan ini dirancang untuk kinerja berkelanjutan dan efisiensi operasional. Tata Yodha Pick Up tersedia dalam varian single cab maupun crew cab, dengan opsi penggerak 4×2 dan 4×4, serta mesin 2,2 liter diesel bertenaga 100 PS dan torsi 250 Nm. Sedangkan Tata Ultra T.7 adalah truk ringan dengan mesin diesel 4 silinder, tenaga hingga 125 PS pada 2.800 rpm, torsi maksimal 360 Nm, dan kapasitas GVW sekitar 7.490 kg. Armada ini akan didistribusikan melalui koperasi pertanian dengan skema bertahap untuk memastikan integrasi dan operasi yang berkelanjutan.
Pesanan Agrinas menjadi yang terbesar dalam portofolio ekspor Tata Motors, ditujukan untuk sektor pertanian dan logistik pedesaan. Meskipun demikian, GAIKINDO tetap yakin bahwa kapasitas produksi pick-up dalam negeri mampu memenuhi kebutuhan domestik jika diberikan waktu dan dukungan yang cukup, sehingga potensi impor bisa diminimalkan dan ekosistem industri lokal tetap terjaga.
Lihat Selengkapnya
Goodfriends bisa bertanya lebih jauh tentang ketersediaan unit, promo & benefit menarik, negosiasi harga ataupun simulasi kredit yang sesuai dengan kebutuhan Anda.