Daftar Harga Mobil Listrik yang Berpotensi Naik hingga 40 Persen09 Mar 2026
Daftar Harga Mobil Listrik yang Berpotensi Naik hingga 40 Persen09 Mar 2026
Jakarta, Goodcar.id - Harga mobil listrik di Indonesia berpotensi mengalami penyesuaian jika kebijakan insentif tidak dilanjutkan pemerintah. Sejumlah model diperkirakan terdampak langsung, mengingat selama ini kendaraan listrik mendapatkan berbagai fasilitas fiskal yang membuat banderolnya lebih kompetitif.
Kenaikan harga diprediksi terjadi lantaran hingga kini pemerintah belum mengumumkan kelanjutan insentif untuk mobil listrik.
Padahal, selama beberapa tahun terakhir, kendaraan tanpa emisi ini menikmati beragam kemudahan, mulai dari pembebasan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang sebagian ditanggung pemerintah, hingga bebas bea masuk bagi model impor utuh (CBU) dengan komitmen investasi di dalam negeri.
Rangkaian insentif tersebut telah dimanfaatkan oleh banyak pabrikan untuk menjaga harga jual tetap terjangkau di tengah biaya produksi dan impor yang relatif tinggi.
Untuk insentif PPnBM, seluruh pabrikan mobil listrik yang beroperasi di Indonesia saat ini masih menikmatinya.
Sementara itu, insentif PPN Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) yang menurunkan tarif efektif dari 12 persen menjadi 10 persen dinikmati oleh sejumlah merek, seperti Hyundai, Wuling, Morris Garage, Chery, DFSK, Jaecoo, hingga Geely.
Selain itu, insentif untuk mobil listrik impor CBU dengan komitmen investasi juga dimanfaatkan oleh pabrikan lain, seperti Citroën, AION, Maxus, Volkswagen, BYD, VinFast, Xpeng, Changan, hingga GWM.
Jika fasilitas ini dihentikan, harga jual mobil listrik dari merek-merek tersebut hampir pasti akan terkerek naik.
Tanpa kelanjutan insentif, sejumlah model mobil listrik diprediksi mengalami kenaikan harga. Daftarnya meliputi AION V, AION UT, AION Y Plus; BYD Seal, Dolphin, M6, Sealion 7, Atto 1, dan Atto 3; Changan Deepal SO7 dan Lumin; Chery Omoda E5, iCar, dan J6T; Citroën EC3 dan C4; Denza D9; Hyundai Kona dan Ioniq 5; Jaecoo J5 EV; GWM Ora 03; Maxus Mifa 7 dan Mifa 9; MG ZS EV dan MG 4 EV; Polytron G3 dan G3+; Xpeng G6 dan X9; VinFast VF3, e34, dan VF6; serta Wuling Air ev, Binguo, Cloud, hingga Darion.
Harga Bisa Naik hingga 40 Persen
Hingga memasuki hampir bulan ketiga tahun 2026, kepastian soal insentif mobil listrik masih belum terlihat. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan konsumen dan industri otomotif. Tanpa insentif, lonjakan harga dinilai tak terhindarkan.
Berdasarkan data yang dihimpun LPEM FEB UI, harga mobil listrik berpotensi naik di kisaran 30–40 persen. Artinya, mobil listrik dengan harga Rp 100 juta bisa mengalami kenaikan hingga Rp 30–40 juta.
Jika skenario ini terjadi, daya saing mobil listrik di pasar domestik berisiko menurun dan memperlambat adopsi kendaraan ramah lingkungan di Indonesia.
Lihat Selengkapnya
Industri Otomotif Indonesia Klaim Siap Penuhi Kebutuhan Pick-Up Nasional27 Feb 2026
Industri Otomotif Indonesia Klaim Siap Penuhi Kebutuhan Pick-Up Nasional27 Feb 2026
Jakarta, Goodcar.id - Industri otomotif nasional menyatakan kesiapan untuk memenuhi kebutuhan kendaraan komersial di dalam negeri, khususnya segmen pick-up.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), yang sejak 1969 berperan sebagai asosiasi industri kendaraan bermotor di Indonesia.
GAIKINDO menyebut, bersama para anggotanya dan dengan dukungan pemerintah, industri otomotif nasional terus menyesuaikan perkembangan produk dengan kebutuhan masyarakat, termasuk untuk kendaraan roda empat atau lebih di segmen komersial.
Pengembangan Platform dari Pick-Up ke MPV
Dalam perjalanannya, industri otomotif Indonesia mengembangkan platform kendaraan komersial pick-up yang kemudian dikonversi menjadi kendaraan penumpang multi-guna (MPV). Awalnya, proses konversi dilakukan melalui kerja sama dengan industri karoseri.
Seiring waktu, pengembangan tersebut dilakukan lebih lanjut oleh pabrikan hingga menghasilkan kendaraan MPV yang diproduksi secara penuh di dalam negeri. Model MPV yang lahir dari pengembangan tersebut kini menjadi salah satu segmen kendaraan yang banyak digunakan masyarakat Indonesia dan juga dipasarkan di kawasan Asia Tenggara.
Pendekatan serupa disebut juga diterapkan dalam pengembangan kendaraan komersial pick-up untuk memenuhi kebutuhan berbagai sektor usaha di dalam negeri.
Pernyataan GAIKINDO soal Kapasitas Produksi
Ketua Harian sekaligus Ketua Penyelenggara Pameran dan Konferensi GAIKINDO, Anton Kumonty, menyampaikan bahwa industri otomotif Indonesia telah melakukan berbagai studi terkait pengembangan platform kendaraan komersial.
“Kami dari industri otomotif Indonesia telah menjalankan berbagai studi untuk menyesuaikan perkembangan platform kendaraan komersial untuk memenuhi berbagai kebutuhan kegiatan usaha di dalam negeri, sehingga kami memiliki pengetahuan untuk membuat jenis kendaraan yang sesuai. Selain itu, kami juga memiliki kemampuan dan juga kapasitas untuk mengakomodir seluruh kebutuhan kendaraan komersial di dalam negeri,” ujar Anton.
Menurut data GAIKINDO, saat ini terdapat 61 perusahaan yang menjadi anggota asosiasi tersebut. Untuk kendaraan komersial kelas menengah ke bawah atau pick-up, produksi dilakukan oleh sejumlah perusahaan anggota, yaitu:
PT Suzuki Indomobil Motor
PT Isuzu Astra Motor Indonesia
PT Krama Yudha Tiga Berlian Motor
PT SGMW Motor Indonesia (Wuling Motors)
PT Sokonindo Automobile (DFSK)
PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia
PT Astra Daihatsu Motor
Secara keseluruhan, kapasitas produksi kendaraan pick-up dari perusahaan-perusahaan tersebut disebut mencapai lebih dari 400.000 unit per tahun.
Dampak ke Rantai Industri dan Tenaga Kerja
GAIKINDO juga menyampaikan bahwa satu unit kendaraan terdiri dari lebih dari 20.000 komponen yang melibatkan berbagai jenis bahan baku, seperti baja, kaca, karet, plastik, dan tekstil.
Komponen tersebut diproduksi oleh ribuan perusahaan di dalam negeri, termasuk pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM). Rantai industri otomotif nasional, baik dari sisi hulu (backward linkage) maupun hilir (forward linkage), disebut melibatkan sekitar 1,5 juta tenaga kerja.
Dalam pernyataannya, GAIKINDO bersama Gabungan Industri Alat-Alat Mobil & Motor (GIAMM) meminta agar pemerintah memberikan kesempatan kepada industri dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan kendaraan komersial nasional. Langkah tersebut dinilai dapat mengoptimalkan kapasitas produksi yang tersedia sekaligus menjaga keberlanjutan tenaga kerja di sektor otomotif.
Hingga saat ini, industri otomotif nasional mencatat kapasitas produksi pick-up ratusan ribu unit per tahun. Pernyataan asosiasi tersebut menegaskan posisi industri dalam negeri dalam konteks pemenuhan kebutuhan kendaraan komersial di pasar domestik.
Lihat Selengkapnya
GIICOMVEC 2026 Siap Digelar, Fokus Perkuat Industri Kendaraan Komersial25 Feb 2026
GIICOMVEC 2026 Siap Digelar, Fokus Perkuat Industri Kendaraan Komersial25 Feb 2026
Jakarta,GoodCar.id — GAIKINDO kembali menggelar GIICOMVEC 2026, pameran business-to-business khusus kendaraan komersial yang akan berlangsung pada 8–11 April 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran.
Ajang ini mendapat dukungan dari Kementerian Perindustrian Republik Indonesia dan Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. Tahun ini, GIICOMVEC hadir dengan perubahan signifikan, yakni pindah ke Hall B dan Hall C JIExpo untuk mengakomodasi peningkatan minat industri.
Total area pameran mencapai lebih dari 16.000 meter persegi. Lokasi baru ini diklaim menawarkan akses yang lebih mudah bagi pelaku usaha yang ingin menjajaki solusi transportasi komersial terkini.
Di tengah dinamika pasar domestik, ekspor otomotif Indonesia justru mencatat tren positif. Sepanjang 2025, ekspor kendaraan utuh (CBU) ke 93 negara mencapai 518.212 unit, naik 9,75 persen dibandingkan 2024 yang berada di angka 472.194 unit.
Dari jumlah tersebut, kendaraan komersial menyumbang 20.326 unit atau hampir 4 persen dari total ekspor nasional. Angka ini menegaskan peran kendaraan niaga sebagai salah satu penopang industri otomotif Indonesia di pasar global.
Ketua Umum GAIKINDO, Putu Juli Ardika, menegaskan capaian tersebut menjadi indikator bahwa manufaktur otomotif nasional semakin kompetitif.
“Capaian ekspor ini membuktikan kualitas produksi otomotif Indonesia diakui pasar global. Momentum ini harus dijaga melalui peningkatan kapasitas dan efisiensi produksi,” ujar Putu.
Saat ini, produksi kendaraan nasional berada di kisaran 1,2 juta unit per tahun dengan kapasitas terpasang mencapai 2,59 juta unit. Artinya, ruang ekspansi masih terbuka lebar.
GIICOMVEC Jadi Arena Ketemunya Produsen dan Buyer
Sebagai pameran B2B, GIICOMVEC dirancang untuk mempertemukan produsen dengan calon pembeli potensial, termasuk buyer mancanegara. Targetnya jelas: membuka peluang ekspor baru sekaligus memperluas penetrasi kendaraan niaga Indonesia.
Sejumlah merek kendaraan komersial dipastikan hadir, mulai dari Daihatsu, DFSK, Foton, Hino, Isuzu, JAC Motor, Mitsubishi Fuso, Suzuki, Toyota, hingga Wuling.
Tak hanya itu, area khusus China Pavilion juga akan hadir untuk menampilkan teknologi dan inovasi terbaru dari pelaku industri asal Tiongkok. Industri karoseri nasional serta sektor pendukung otomotif turut ambil bagian, memberikan gambaran menyeluruh mengenai ekosistem kendaraan komersial.
Ketua Penyelenggara Pameran dan Konferensi GAIKINDO, Anton Kumonty, menekankan bahwa GIICOMVEC bukan sekadar etalase produk.
“GIICOMVEC adalah platform terpadu bagi pelaku bisnis untuk menemukan solusi armada sesuai kebutuhan operasional. Pengunjung bisa mempelajari teknologi sasis, desain karoseri, hingga inovasi industri pendukung dalam satu waktu,” kata Anton.
Target 11 Ribu Trade Visitors
Penyelenggaraan keempat GIICOMVEC ini menargetkan lebih dari 11 ribu trade visitors. Mereka berasal dari sektor transportasi, logistik, manufaktur, jasa keuangan, ritel, energi, konstruksi, hingga instansi pemerintah.
GAIKINDO juga menggandeng berbagai asosiasi industri untuk memastikan partisipasi pelaku usaha berjalan optimal. Selain pameran, GIICOMVEC 2026 menghadirkan program Daily Seminar yang membahas isu bisnis aktual.
Salah satu agenda utama adalah seminar bersama KAMSELINDO yang mengangkat topik kepatuhan, keselamatan, serta risiko hukum dalam transportasi barang berbahaya dan beracun (B3).
Pengunjung juga dapat mengakses Demo Area Truck & Bus, area interaktif untuk menyaksikan sekaligus mencoba teknologi kendaraan komersial secara langsung. Fasilitas ini memberi kesempatan bagi pelaku usaha mengevaluasi performa unit sebelum mengambil keputusan investasi.
Sebagai pameran berbasis bisnis, GIICOMVEC tidak memberlakukan tiket masuk umum. Pelaku industri dapat mendaftar sebagai trade visitors melalui situs resmi GIICOMVEC.
Lihat Selengkapnya
Kapasitas Produksi Pick-Up Indonesia Bisa Dioptimalkan, GAIKINDO Siap Penuhi Kebutuhan20 Feb 2026
Kapasitas Produksi Pick-Up Indonesia Bisa Dioptimalkan, GAIKINDO Siap Penuhi Kebutuhan20 Feb 2026
Jakarta, Goodcar.id – Industri otomotif Indonesia sedang menghadapi tekanan penjualan dalam negeri, namun potensi produksi tetap besar. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) saat ini menaungi 61 perusahaan otomotif dengan total kapasitas produksi mencapai 2,5 juta unit kendaraan bermotor roda empat atau lebih per tahun.
Dari jumlah tersebut, produksi kendaraan komersial kelas menengah ke-bawah, terutama pick-up, masih belum dimanfaatkan secara optimal. Anggota GAIKINDO yang memproduksi kendaraan jenis ini antara lain:
PT Suzuki Indomobil Motor
PT Isuzu Astra Motor Indonesia
PT Krama Yudha Tiga Berlian Motor
PT SGMW Motor Indonesia (Wuling Motors)
PT Sokonindo Automobile (DFSK)
PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN)
PT Astra Daihatsu Motor
Secara keseluruhan, kapasitas produksi pick-up anggota GAIKINDO bisa mencapai lebih dari 400.000 unit per tahun, namun pemanfaatannya belum maksimal. Kendaraan ini umumnya mengadopsi sistem penggerak 4x2 dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) lebih dari 40%, menjadikannya andalan untuk kebutuhan masyarakat di seluruh pelosok Indonesia.
“Jaringan servis dan layanan purna jual yang luas membuat kendaraan komersial 4x2 ini mampu memenuhi kebutuhan konsumen secara merata,” kata Putu Juli Ardika, Ketua Umum GAIKINDO. Ia menambahkan, “Kendaraan penggerak 4x4 memang bisa diproduksi, tetapi membutuhkan waktu untuk persiapan produksi yang matang.”
Industri otomotif nasional juga menjadi penyumbang besar lapangan kerja, dengan total 1,5 juta pekerja yang terlibat di seluruh ekosistemnya. Meski penjualan domestik sempat tertekan di bawah 1 juta unit per tahun, Indonesia tetap mencatat capaian ekspor kendaraan yang signifikan, mencapai lebih dari 518.000 unit ke 93 negara.
Menanggapi rencana impor kendaraan dari India, Putu Juli Ardika menegaskan keyakinannya terhadap kemampuan industri lokal.
“Sebenarnya anggota GAIKINDO dan juga industri pendukungnya, termasuk industri komponen otomotif yang tergabung dalam GIAMM, memiliki kapasitas untuk memenuhi kebutuhan domestik. Hanya diperlukan waktu agar jumlah dan kriterianya sesuai,” jelas Putu Juli.
Ia menekankan bahwa dengan kesempatan dan waktu yang cukup, anggota GAIKINDO dan GIAMM dapat ikut memenuhi permintaan kendaraan komersial, sekaligus mengoptimalkan kapasitas produksi dalam negeri dan mencegah potensi pengurangan tenaga kerja akibat penurunan permintaan domestik.
Namun, di tengah kapasitas lokal yang masih dapat dioptimalkan, PT Agrinas Pangan Nusantara memilih untuk mengimpor kendaraan pick-up dari India guna mendukung program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Perseroan mengimpor sebanyak 70.000 unit mobil pick-up Tata Motors, terdiri dari Yodha Pick Up dan truk ringan Ultra T.7, masing-masing 35.000 unit. Sebelumnya, Agrinas juga mengimpor 35.000 unit pick-up Scorpio dari Mahindra, sehingga total kendaraan niaga impor dari India mencapai 105.000 unit.
Direktur PT Tata Motors Distribusi Indonesia, Asif Shamim, menuturkan, “Pesanan untuk Kopdes Merah Putih ini mencerminkan semakin meningkatnya penerimaan kendaraan komersial asal India di pasar global. Penggunaannya akan mendukung logistik pertanian di Indonesia dengan meningkatkan konektivitas, memungkinkan pergerakan barang yang lebih efisien di seluruh jaringan pedesaan dan regional.”
Kedua kendaraan ini dirancang untuk kinerja berkelanjutan dan efisiensi operasional. Tata Yodha Pick Up tersedia dalam varian single cab maupun crew cab, dengan opsi penggerak 4×2 dan 4×4, serta mesin 2,2 liter diesel bertenaga 100 PS dan torsi 250 Nm. Sedangkan Tata Ultra T.7 adalah truk ringan dengan mesin diesel 4 silinder, tenaga hingga 125 PS pada 2.800 rpm, torsi maksimal 360 Nm, dan kapasitas GVW sekitar 7.490 kg. Armada ini akan didistribusikan melalui koperasi pertanian dengan skema bertahap untuk memastikan integrasi dan operasi yang berkelanjutan.
Pesanan Agrinas menjadi yang terbesar dalam portofolio ekspor Tata Motors, ditujukan untuk sektor pertanian dan logistik pedesaan. Meskipun demikian, GAIKINDO tetap yakin bahwa kapasitas produksi pick-up dalam negeri mampu memenuhi kebutuhan domestik jika diberikan waktu dan dukungan yang cukup, sehingga potensi impor bisa diminimalkan dan ekosistem industri lokal tetap terjaga.
Lihat Selengkapnya
Goodfriends bisa bertanya lebih jauh tentang ketersediaan unit, promo & benefit menarik, negosiasi harga ataupun simulasi kredit yang sesuai dengan kebutuhan Anda.