Beranda / Motor Baru / Katalog / SELIS GEMINI ELECTRIC SCOOTER

SELIS GEMINI ELECTRIC SCOOTER

Rp 6.5 Juta
Jarak Tempuh
30 KM
Mesin
Electric (500W motor, 48 V battery)
Jenis Bahan Bakar
Listrik
Transmisi
Matic
Jarak Tempuh
30 KM
Foto Eksterior
Pilihan Warna
Ciptakan gayamu dengan berbagai pilihan warna
5 Pilihan Warna
Tipe Kendaraan
SELIS GEMINI ELECTRIC SCOOTER
Rp 6.5 Juta
Dapatkan Ekslusif Promo
Fitur Kendaraan
SELIS GEMINI ELECTRIC SCOOTER
Jarak Tempuh
30 KM
Jenis Bahan Bakar
Listrik
Mesin
Electric (500W motor, 48 V battery)
USB
Alarm
Bluetooth
Abs Ebd
Navigation
Drive Type
Cruise Control
JADWALKAN TEST DRIVE MOTOR
SELIS GEMINI ELECTRIC SCOOTER
Artikel Terkait
Lihat Semua
Daftar Harga Wuling Binguo EV Bekas, Depresiasi 43% ?
07 Jul 2026
Daftar Harga Wuling Binguo EV Bekas, Depresiasi 43% ? 07 Jul 2026 Jakarta, Goodcar.id - Pasar mobil listrik bekas di Indonesia mulai menunjukkan geliat yang semakin menarik. Seiring bertambahnya populasi kendaraan listrik di jalan raya, pilihan unit bekas pun ikut bertambah. Salah satu model yang kini cukup banyak dijumpai di bursa mobil bekas adalah Wuling Binguo EV. Berdasarkan hasil penelusuran Goodcar di sejumlah marketplace mobil bekas, saat ini puluhan unit Wuling Binguo EV ditawarkan dengan berbagai pilihan tahun produksi, kondisi, hingga harga. Banderolnya pun semakin kompetitif, bahkan beberapa unit sudah dipasarkan mulai Rp148 jutaan. Meski begitu, harga tersebut bukan menjadi patokan umum. Mayoritas unit yang beredar di pasar justru dipasarkan di kisaran Rp185 juta hingga Rp195 juta, tergantung kondisi kendaraan, jarak tempuh, serta kelengkapan riwayat perawatan. Daftar Harga Wuling Binguo EV Bekas Berdasarkan Tahun Berikut kisaran harga Wuling Binguo EV bekas berdasarkan hasil pemantauan Goodcar di berbagai marketplace mobil bekas. Tahun Produksi Harga Pasaran Market Place 2024 Rp185 juta – Rp195 juta 2025 Rp190 juta – Rp200 juta Dari data tersebut terlihat bahwa unit produksi 2024 masih mendominasi pasar mobil bekas. Hal ini sejalan dengan meningkatnya penjualan Binguo EV sejak tahun tersebut, sehingga kini mulai banyak pemilik yang menawarkan kembali kendaraannya. Sementara itu, unit produksi 2025 masih tergolong lebih sedikit. Karena usianya lebih muda dan rata-rata memiliki jarak tempuh yang rendah, harga jualnya pun masih relatif lebih tinggi dibanding produksi tahun sebelumnya. Harga Rp190 Jutaan Menjadi Acuan Pasar Walaupun ada unit yang dijual mulai Rp148 juta, jumlahnya tidak banyak. Setelah ditelusuri, sebagian besar mobil yang dipasarkan di bawah Rp180 juta umumnya memiliki kilometer yang lebih tinggi, kondisi tertentu, atau dijual karena pemilik ingin segera melepas kendaraan. Sebaliknya, harga yang paling sering muncul justru berada di rentang Rp185 juta hingga Rp195 juta. Beberapa angka yang cukup sering ditemui antara lain Rp183,5 juta, Rp185 juta, Rp189 juta, Rp190 juta, Rp193 juta, Rp195 juta, hingga Rp200 juta. Dengan kata lain, calon pembeli yang sedang mencari Wuling Binguo EV bekas sebaiknya menjadikan kisaran tersebut sebagai acuan harga pasar. Jika menemukan unit dengan harga jauh di bawah rata-rata, ada baiknya melakukan pengecekan lebih detail terhadap kondisi kendaraan sebelum memutuskan membeli. Kondisi Kendaraan Lebih Penting daripada Tahun Produksi Menariknya, selisih harga antara unit tahun 2024 dan 2025 tidak terlalu jauh. Bahkan beberapa unit produksi 2024 dipasarkan dengan harga yang hampir setara dengan produksi 2025. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa pasar mobil bekas tidak hanya mempertimbangkan tahun produksi. Faktor lain seperti jarak tempuh, riwayat servis berkala, kondisi baterai, kelengkapan dokumen, hingga lokasi penjualan turut memengaruhi harga jual sebuah kendaraan. Karena itu, membandingkan beberapa unit sekaligus menjadi langkah yang lebih bijak dibanding hanya berfokus pada tahun produksi. Selisih dengan Harga Baru Mulai Terasa Signifikan Harga Wuling Binguo EV bekas saat ini juga semakin menarik jika dibandingkan dengan unit baru. Saat ini, Wuling BinguoEV terbaru dipasarkan dengan harga mulai sekitar Rp318 juta untuk varian Lite dan sekitar Rp363 juta untuk varian Pro (OTR Jakarta). Artinya, dengan dana sekitar Rp190 jutaan, konsumen sudah bisa mendapatkan unit bekas dengan selisih lebih dari Rp120 juta dibanding harga varian Lite baru. Jika dibandingkan dengan varian Pro, selisihnya bahkan mendekati Rp170 juta. Perbedaan harga tersebut tentu menjadi pertimbangan menarik bagi konsumen yang ingin beralih ke kendaraan listrik namun memiliki anggaran yang lebih terbatas. Depresiasi Wuling Binguo EV Mulai Terlihat Turunnya harga Wuling Binguo EV di pasar mobil bekas juga menggambarkan bagaimana pasar kendaraan listrik di Indonesia mulai memasuki fase penyesuaian. Dengan harga pasar yang kini mayoritas berada di kisaran Rp185 juta hingga Rp195 juta, nilai jual kembali Binguo EV diperkirakan telah mengalami depresiasi sekitar 35 hingga 45 persen dibanding harga mobil baru saat ini, tergantung varian, kondisi kendaraan, dan jarak tempuh. Depresiasi tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor. Selain usia kendaraan yang terus bertambah, pasar mobil listrik kini juga semakin kompetitif dengan hadirnya banyak model baru di berbagai segmen harga. Di sisi lain, penyesuaian harga mobil baru yang dilakukan sejumlah produsen turut memengaruhi harga kendaraan bekas di pasaran. Meski demikian, kondisi tersebut justru membuka peluang bagi konsumen yang ingin memiliki mobil listrik dengan biaya yang lebih terjangkau. Dengan anggaran di bawah Rp200 juta, pilihan kendaraan listrik bekas kini semakin beragam, dan Wuling Binguo EV menjadi salah satu model yang layak masuk dalam daftar pertimbangan. Namun seperti membeli mobil bekas pada umumnya, calon pembeli tetap perlu melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Riwayat servis berkala, kondisi baterai, fungsi sistem pengisian daya, hingga kelengkapan dokumen sebaiknya dipastikan terlebih dahulu agar kendaraan tetap nyaman digunakan dalam jangka panjang. Melihat tren pasar saat ini, harga Wuling Binguo EV bekas diperkirakan masih akan bergerak mengikuti dinamika industri kendaraan listrik nasional. Namun untuk saat ini, kisaran Rp185 juta hingga Rp195 juta mulai menjadi titik temu antara penjual dan pembeli, sekaligus mencerminkan harga pasar Wuling Binguo EV bekas di Indonesia pada pertengahan 2026. Lihat Selengkapnya
Harga Changan Deepal S05 BEV dan REEV di Indonesia Mulai Rp 400 Jutaan?
01 Jul 2026
Harga Changan Deepal S05 BEV dan REEV di Indonesia Mulai Rp 400 Jutaan? 01 Jul 2026 Jakarta, Goodcar.id - Berapa harga Changan Deepal S05 BEV dan REEV di Indonesia? Changan membuka pre-book Deepal S05 EV dan REEV di Indonesia. Berapa prediksi harganya? Simak analisis berdasarkan harga Thailand, posisi terhadap Deepal S07, hingga rival di kelasnya. Peluncuran Changan Deepal S05 di Indonesia tinggal menghitung waktu. Setelah diperkenalkan beberapa bulan lalu, Changan kini resmi membuka masa pre-book sekaligus menggelar Pop-up Exhibition di tiga lokasi berbeda di Jakarta. Meski harga resminya belum diumumkan, sejumlah petunjuk mulai mengarah pada kisaran banderol SUV elektrifikasi terbaru tersebut. Mulai dari positioning produk, harga di Thailand, hingga posisi terhadap para kompetitor di Indonesia. Lantas, berapa prediksi harga Changan Deepal S05 EV dan Deepal S05 REEV di Indonesia? Changan Deepal S05 Sudah Bisa Dipesan Changan Indonesia resmi membuka masa pre-book Deepal S05 mulai 30 Juni 2026. SUV ini menjadi model kedua yang dipasarkan Changan di Indonesia setelah Deepal S07. Menariknya, Deepal S05 hadir dengan dua pilihan teknologi sekaligus, yakni Battery Electric Vehicle (BEV) dan Range-Extended Electric Vehicle (REEV). Untuk pasar Indonesia, teknologi REEV menjadi salah satu daya tarik karena menawarkan pengalaman berkendara layaknya mobil listrik tanpa harus terlalu bergantung pada infrastruktur pengisian daya. CEO Changan Indonesia, Setiawan Surya, mengatakan kehadiran Deepal S05 bertujuan memberikan lebih banyak pilihan teknologi elektrifikasi kepada konsumen. "Dengan menghadirkan pilihan varian BEV dan REEV, kami ingin memberikan keleluasaan bagi konsumen dalam memilih teknologi sesuai dengan kebutuhan," ujar Setiawan Surya, CEO Changan Indonesia. Sebelumnya, Changan mengungkapkan bahwa Deepal S05 REEV mampu menempuh jarak lebih dari 1.100 kilometer dalam kondisi baterai dan tangki bahan bakar penuh. Mesin bensin pada sistem ini berfungsi sebagai generator untuk mengisi baterai, sementara roda tetap digerakkan motor listrik. Harga Changan Deepal S05 di Thailand Jadi Acuan Hingga kini Changan masih menutup rapat harga resmi Deepal S05. Namun jika melihat strategi produk dan positioning di pasar, Goodcar memperkirakan harga SUV ini akan berada di kisaran berikut: Deepal S05 EV: Rp469 juta-Rp489 juta Deepal S05 REEV: Rp519 juta-Rp539 juta Prediksi tersebut bukan tanpa alasan. Saat ini, Deepal S07 sebagai model flagship Changan dijual dengan harga sekitar Rp599 juta OTR Jakarta. Artinya, Deepal S05 harus diposisikan di bawah S07 agar tidak saling memakan pasar. Dengan selisih sekitar Rp60-100 juta dari S07, Deepal S05 masih memiliki ruang yang jelas sebagai pilihan SUV elektrifikasi yang lebih terjangkau. Gambaran harga Deepal S05 sebenarnya sudah terlihat di Thailand, salah satu pasar ASEAN yang lebih dulu memasarkan model ini. Berdasarkan data dari media otomotif Thailand, harga Deepal S05 dipasarkan sebagai berikut: Deepal S05 EV: mulai 799.000 baht hingga 899.000 baht (sekitar Rp399 juta-Rp449 jutaan) Deepal S05 REEV: mulai 949.000 baht (sekitar Rp474 juta) Meski demikian, harga Indonesia belum tentu sama. Perbedaan pajak, biaya distribusi, hingga strategi pemasaran biasanya membuat harga kendaraan di Indonesia sedikit lebih tinggi dibanding Thailand. Karena itu, prediksi harga Rp469-539 juta dinilai masih realistis untuk pasar domestik. Lawan Deepal S05 adalah SUV Listrik di Segmen Rp400-500 Jutaan Jika benar dipasarkan di kisaran tersebut, Deepal S05 akan masuk ke segmen yang cukup padat. Beberapa kompetitor yang sudah lebih dulu bermain di Indonesia antara lain: BYD Atto 3 Advanced sekitar Rp465 jutaan BYD Atto 3 Superior sekitar Rp515 jutaan Geely EX5 Max sekitar Rp475 jutaan AION V Exclusive sekitar Rp489 jutaan Chery Omoda E5 Pure sekitar Rp425 jutaan Chery Omoda E5 sekitar Rp505 jutaan Melihat daftar tersebut, Deepal S05 EV berpotensi langsung bersaing dengan BYD Atto 3, Geely EX5, AION V, hingga Chery Omoda E5. Sementara varian REEV praktis menawarkan pendekatan berbeda. Hingga kini belum banyak SUV di kelas harga Rp500 jutaan yang mengusung teknologi range extender, sehingga menjadi nilai pembeda bagi Changan. Pop-up Exhibition Digelar di Tiga Lokasi Jakarta Sebagai bagian dari rangkaian menuju peluncuran resmi, Changan menggelar Pop-up Exhibition Deepal S05 di tiga pusat gaya hidup Jakarta. Pameran berlangsung di: One Satrio, Kuningan Gafoy, Mal Kelapa Gading Keduanya berlangsung hingga 12 Juli 2026, sedangkan di Grand Indonesia berlangsung hingga 19 Juli 2026. Pada pameran tersebut, masyarakat dapat melihat langsung Deepal S05 EV maupun REEV, termasuk unit dengan livery khusus Tim Nasional Portugal. Changan sendiri merupakan Official Global Partner Tim Nasional Portugal dan turut menghadirkan berbagai aktivitas interaktif selama pameran berlangsung. Bagi konsumen yang melakukan pemesanan selama masa pre-book, Changan juga menyiapkan sejumlah penawaran khusus. Program ini menawarkan beberapa keuntungan, antara lain potongan harga Rp20 juta, gratis asuransi all risk selama satu tahun, serta harga khusus untuk garansi baterai. Penawaran tersebut menjadi insentif awal bagi calon konsumen yang ingin menjadi pemilik pertama Deepal S05 sebelum peluncuran resminya di Indonesia. Lihat Selengkapnya
Hitung-hitungan Biaya Kepemilikan Mobil Listrik Jaecoo, Klaim Hemat hingga 88%
24 Jun 2026
Hitung-hitungan Biaya Kepemilikan Mobil Listrik Jaecoo, Klaim Hemat hingga 88% 24 Jun 2026 Jakarta, Goodcar.id – Tren kendaraan energi baru atau New Energy Vehicle (NEV) mulai bergeser dari sekadar isu lingkungan menjadi pertimbangan ekonomi. Salah satu yang disorot adalah efisiensi biaya kepemilikan, terutama jika dibandingkan dengan mobil bermesin bensin konvensional. Merek otomotif Jaecoo mengklaim lini kendaraan listrik dan plug-in hybrid (PHEV) mereka mampu memangkas biaya operasional secara signifikan. Bahkan, dalam simulasi yang mereka paparkan, penghematan bisa mencapai hingga 88 persen dibanding mobil internal combustion engine (ICE) 1.500 cc turbo. Simulasi Biaya: Mobil Bensin vs Mobil Listrik Dalam skenario penggunaan harian sejauh 50 km atau sekitar 1.500 km per bulan, mobil bensin dengan konsumsi bahan bakar RON 92 seharga Rp16.250 per liter membutuhkan biaya sekitar Rp81.250 per hari. Jika diakumulasikan, biaya bahan bakar mencapai Rp2,5 juta per bulan. Ditambah biaya perawatan sekitar Rp2 juta per tahun, total pengeluaran tahunan untuk mobil bensin bisa menyentuh Rp31,25 juta. Sementara itu, untuk mobil listrik Jaecoo J5 EV, biaya energi hanya sekitar Rp9.600 per hari dengan asumsi tarif listrik Rp1.700 per kWh. Dalam sebulan, biaya operasionalnya hanya Rp290 ribu. Jika ditambahkan biaya perawatan sekitar Rp500 ribu per tahun, maka total biaya tahunan hanya sekitar Rp4 juta. Artinya, secara klaim, terdapat selisih penghematan yang cukup signifikan dibanding mobil bensin. Selain mobil listrik murni, Jaecoo juga menawarkan opsi plug-in hybrid melalui J7 SHS-P dan J8 SHS-P ARDIS. Untuk J7 SHS-P, biaya operasional harian diperkirakan sekitar Rp18.100 atau Rp543 ribu per bulan. Dengan tambahan biaya perawatan Rp1,7 juta per tahun, total biaya tahunan berada di kisaran Rp8,2 juta. Model ini diklaim mampu menghemat hingga 80 persen. Sedangkan J8 SHS-P ARDIS memiliki biaya harian sekitar Rp22.300 atau Rp670 ribu per bulan. Jika ditambah biaya perawatan Rp2 juta per tahun, total pengeluaran tahunan mencapai Rp10 juta. Penghematan yang diklaim mencapai 75 persen dibanding mobil bensin. Klaim Efisiensi dari Jaecoo “Teknologi SHS tak hanya menawarkan efisiensi, tetapi tetap memberikan performa berkendara maksimal. Kami pun menawarkan kepada konsumen, jika dengan NEV Jaecoo, konsumen dapat mendapatkan efisien lebih. Seperti mobil listrik J5 EV, dapat menghemat mencapai 88% biaya. J7 SHS-P dapat menghemat 80% dan J8 SHS-P ARDIS bisa hemat 75%,” ucap Jim Ma, Business Unit Director JAECOO Indonesia. Namun demikian, angka efisiensi tersebut masih bersifat simulasi dan dapat berbeda tergantung gaya berkendara, kondisi jalan, hingga tarif energi di masing-masing wilayah. Data Penjualan Jadi Indikator Dari sisi pasar, Jaecoo juga mengklaim performa penjualan yang cukup kuat. Berdasarkan data GAIKINDO, model J5 EV mencatat angka distribusi yang terus meningkat sepanjang 2026. Pada Januari 2026, wholesales dan retail sales sama-sama berada di angka 1.942 unit. Februari naik menjadi 2.926 unit. Maret mencatat wholesales 2.959 unit dan retail sales 2.775 unit. Tren tersebut berlanjut di April dengan wholesales 3.179 unit dan retail sales 2.944 unit. Sementara Mei 2026 mencatat angka seimbang di 3.000 unit untuk wholesales dan retail sales. Secara keseluruhan, Jaecoo disebut berhasil masuk lima besar penjualan mobil nasional pada Mei 2026. “Konsumen melihat produk kita sebagai mobil yang memang dibutuhkan, dan menjadi pilihan mereka untuk berkendara. Teknologi yang kita tawarkan dapat dimiliki dan dinikmati bagi konsumen,” kata Jim Ma. Perluasan Jaringan Jadi Kunci Seiring pertumbuhan pasar NEV di Indonesia, Jaecoo juga memperluas jaringan dealer dan layanan purna jual. Hingga saat ini, tercatat sudah ada 35 dealer yang beroperasi. Perusahaan menargetkan ekspansi hingga 80 dealer di seluruh Indonesia pada akhir 2026. Langkah ini dinilai penting untuk mendukung adopsi kendaraan listrik yang masih menghadapi tantangan infrastruktur dan layanan. Kesimpulan: Hemat, Tapi Perlu Dilihat Lebih Dalam Simulasi biaya kepemilikan menunjukkan bahwa mobil listrik dan PHEV memang berpotensi lebih hemat dibanding mobil bensin. Namun, klaim penghematan hingga 88 persen tetap perlu dilihat secara menyeluruh. Faktor seperti harga awal kendaraan, biaya penggantian baterai, hingga ketersediaan infrastruktur pengisian daya juga menjadi variabel penting dalam menghitung total cost of ownership secara nyata. Dengan kata lain, efisiensi biaya memang ada, tapi tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan pola penggunaan masing-masing konsumen. Lihat Selengkapnya
Mobil Listrik vs Hybrid 2026: Mana yang Lebih Cocok untuk Konsumen Indonesia?
19 Jun 2026
Mobil Listrik vs Hybrid 2026: Mana yang Lebih Cocok untuk Konsumen Indonesia? 19 Jun 2026 Jakarta, Goodcar.id – Jika beberapa tahun lalu mobil listrik masih dianggap sebagai produk niche, kini kondisinya sudah berubah drastis. Masuknya berbagai merek baru, terutama dari China, membuat pilihan kendaraan listrik semakin beragam dengan rentang harga yang makin kompetitif. Dampaknya, adopsi mobil listrik pun melonjak signifikan. Namun menariknya, di tengah tren tersebut, mobil hybrid justru belum tergeser. Model hybrid masih menjadi kontributor utama penjualan bagi sejumlah pabrikan Jepang di Indonesia. Lalu di 2026 ini, mana yang sebenarnya lebih worth it: mobil listrik atau hybrid? Data Penjualan Elektrifikasi Tumbuh Berdasarkan data industri otomotif nasional, total penjualan kendaraan di Indonesia masih didominasi oleh mobil bermesin konvensional. Namun, tren elektrifikasi terus menunjukkan peningkatan signifikan. Berikut rincian penjualan dan pangsa pasar terbaru: Mobil listrik murni (BEV): 103.931 unit (12,9%) Mobil hybrid (HEV): 65.943 unit (8,2%) Plug-in Hybrid (PHEV): 5.270 unit (0,7%) Total kendaraan elektrifikasi: 175.144 unit (21,8%) Mobil bensin & diesel (ICE): 628.543 unit (78,2%) Dari data ini terlihat jelas bahwa kendaraan elektrifikasi sudah menyumbang lebih dari 20 persen pasar nasional. mobil listrik murni sendiri menyumbang angka 12,9% di 2025, sedangkan hybrid termasuk PHEV menyumbang 8,9%. Mobil Listrik Unggul dari Sisi Biaya Operasional Jika bicara efisiensi, mobil listrik masih jadi pemenang yang cukup telak. Pengguna tidak perlu membeli bahan bakar minyak, dan biaya perawatan juga lebih sederhana karena tidak ada komponen seperti oli mesin, filter, atau sistem pembakaran internal. Dalam praktiknya, biaya energi mobil listrik bisa berada di kisaran ratusan rupiah per kilometer. Angka ini jauh lebih rendah dibanding mobil berbahan bakar bensin, bahkan jika dibandingkan dengan hybrid sekalipun. Sementara itu, mobil hybrid memang lebih hemat dibanding mobil konvensional, tetapi tetap bergantung pada BBM. Artinya, biaya operasionalnya masih belum bisa menyaingi efisiensi mobil listrik murni. Bagi pengguna dengan mobilitas tinggi harian, selisih ini akan terasa signifikan dalam jangka panjang. Hybrid tidak membutuhkan charging station. Di titik ini, mobil hybrid masih punya keunggulan yang sulit disaingi. Hybrid tidak membutuhkan charging station. Pengguna cukup mengisi BBM seperti biasa, sementara sistem akan mengatur kerja motor listrik dan baterai secara otomatis. Sebaliknya, mobil listrik masih bergantung pada ketersediaan infrastruktur pengisian daya. Meskipun jumlah SPKLU terus bertambah dan teknologi fast charging mulai berkembang, distribusinya belum merata. Untuk penggunaan dalam kota, mobil listrik sudah cukup nyaman. Namun untuk perjalanan jarak jauh atau lintas daerah, keterbatasan infrastruktur masih menjadi pertimbangan utama. Karena itu, bagi pengguna dengan mobilitas tinggi antar kota, hybrid masih menawarkan fleksibilitas yang lebih aman. Pengalaman Berkendara: EV Lebih Modern Dari sisi driving experience, mobil listrik menawarkan sensasi yang berbeda. Torsi instan membuat akselerasi terasa lebih responsif, sementara kabin yang senyap meningkatkan kenyamanan berkendara, terutama di area perkotaan. Sebaliknya, mobil hybrid memberikan pengalaman yang lebih familiar. Transisi antara mesin dan motor listrik berlangsung halus tanpa mengubah kebiasaan berkendara. Namun, pada teknologi hybrid modern, pendekatannya sudah semakin berbeda. Beberapa pabrikan seperti Nissan melalui teknologi e-Power dan Wuling dengan sistem “Ling Power” (yang berfokus pada konsep electric drive), menghadirkan pengalaman berkendara yang kini makin mendekati mobil listrik murni. Pada sistem ini, motor listrik menjadi penggerak utama roda, sementara mesin bensin berfungsi sebagai generator untuk mengisi daya baterai. Hasilnya, sensasi berkendara yang dirasakan pengemudi menjadi lebih halus, responsif, dan menyerupai EV, tanpa sepenuhnya meninggalkan mesin pembakaran internal. Harga dan Value: Semakin Tipis Beda di Pasar Elektrifikasi Dulu, mobil listrik (EV) selalu diposisikan sebagai produk paling mahal di lini elektrifikasi. Namun situasi itu mulai bergeser. Saat ini, gap harga antara EV dan hybrid semakin mengecil. Bahkan di beberapa segmen, hybrid justru mulai masuk ke rentang harga yang berdekatan dengan EV entry-level. Misal di segmen MPV 300–400 jutaan, batas harga antara hybrid dan EV kini semakin kabur. Terlihat dari perbandingan Toyota Veloz Hybrid yang berada di kisaran sekitar Rp303–389 juta dengan BYD M6 DM yang juga dipasarkan di rentang kurang lebih Rp298–390 juta. Artinya, kedua model ini sudah berada dalam satu “zona harga” yang saling beririsan, di mana varian terendah BYD M6 DM bahkan bisa lebih murah dibanding Veloz Hybrid, sementara varian tertingginya bertemu di kisaran yang sama. Meski demikian, hybrid masih memiliki keunggulan tersendiri, terutama pada nilai jual kembali. Teknologi yang lebih lama dikenal membuatnya dianggap lebih stabil dan “aman” di pasar mobil bekas, khususnya bagi konsumen yang masih mempertimbangkan risiko adopsi teknologi baru. Lihat Selengkapnya

TANYA LEBIH JAUH TENTANG UNIT

Goodfriends bisa bertanya lebih jauh tentang ketersediaan unit, promo & benefit menarik, negosiasi harga ataupun simulasi kredit yang sesuai dengan kebutuhan Anda.