Beranda / Artikel / Hitung-hitungan Biaya Kepemilikan Mobil Listrik Jaecoo, Klaim Hemat hingga 88%
Artikel

Hitung-hitungan Biaya Kepemilikan Mobil Listrik Jaecoo, Klaim Hemat hingga 88%

Tigor Sihombing
24 June 2026 09:41

Jakarta, Goodcar.id – Tren kendaraan energi baru atau New Energy Vehicle (NEV) mulai bergeser dari sekadar isu lingkungan menjadi pertimbangan ekonomi. Salah satu yang disorot adalah efisiensi biaya kepemilikan, terutama jika dibandingkan dengan mobil bermesin bensin konvensional.

Merek otomotif Jaecoo mengklaim lini kendaraan listrik dan plug-in hybrid (PHEV) mereka mampu memangkas biaya operasional secara signifikan. Bahkan, dalam simulasi yang mereka paparkan, penghematan bisa mencapai hingga 88 persen dibanding mobil internal combustion engine (ICE) 1.500 cc turbo.

Simulasi Biaya: Mobil Bensin vs Mobil Listrik

Dalam skenario penggunaan harian sejauh 50 km atau sekitar 1.500 km per bulan, mobil bensin dengan konsumsi bahan bakar RON 92 seharga Rp16.250 per liter membutuhkan biaya sekitar Rp81.250 per hari.

Jika diakumulasikan, biaya bahan bakar mencapai Rp2,5 juta per bulan. Ditambah biaya perawatan sekitar Rp2 juta per tahun, total pengeluaran tahunan untuk mobil bensin bisa menyentuh Rp31,25 juta.

Sementara itu, untuk mobil listrik Jaecoo J5 EV, biaya energi hanya sekitar Rp9.600 per hari dengan asumsi tarif listrik Rp1.700 per kWh. Dalam sebulan, biaya operasionalnya hanya Rp290 ribu.

Jika ditambahkan biaya perawatan sekitar Rp500 ribu per tahun, maka total biaya tahunan hanya sekitar Rp4 juta. Artinya, secara klaim, terdapat selisih penghematan yang cukup signifikan dibanding mobil bensin.

Selain mobil listrik murni, Jaecoo juga menawarkan opsi plug-in hybrid melalui J7 SHS-P dan J8 SHS-P ARDIS.

Untuk J7 SHS-P, biaya operasional harian diperkirakan sekitar Rp18.100 atau Rp543 ribu per bulan. Dengan tambahan biaya perawatan Rp1,7 juta per tahun, total biaya tahunan berada di kisaran Rp8,2 juta. Model ini diklaim mampu menghemat hingga 80 persen.

Sedangkan J8 SHS-P ARDIS memiliki biaya harian sekitar Rp22.300 atau Rp670 ribu per bulan. Jika ditambah biaya perawatan Rp2 juta per tahun, total pengeluaran tahunan mencapai Rp10 juta. Penghematan yang diklaim mencapai 75 persen dibanding mobil bensin.

Klaim Efisiensi dari Jaecoo

“Teknologi SHS tak hanya menawarkan efisiensi, tetapi tetap memberikan performa berkendara maksimal. Kami pun menawarkan kepada konsumen, jika dengan NEV Jaecoo, konsumen dapat mendapatkan efisien lebih. Seperti mobil listrik J5 EV, dapat menghemat mencapai 88% biaya. J7 SHS-P dapat menghemat 80% dan J8 SHS-P ARDIS bisa hemat 75%,” ucap Jim Ma, Business Unit Director JAECOO Indonesia.

Namun demikian, angka efisiensi tersebut masih bersifat simulasi dan dapat berbeda tergantung gaya berkendara, kondisi jalan, hingga tarif energi di masing-masing wilayah.

Data Penjualan Jadi Indikator

Dari sisi pasar, Jaecoo juga mengklaim performa penjualan yang cukup kuat. Berdasarkan data GAIKINDO, model J5 EV mencatat angka distribusi yang terus meningkat sepanjang 2026.

Pada Januari 2026, wholesales dan retail sales sama-sama berada di angka 1.942 unit. Februari naik menjadi 2.926 unit. Maret mencatat wholesales 2.959 unit dan retail sales 2.775 unit.

Tren tersebut berlanjut di April dengan wholesales 3.179 unit dan retail sales 2.944 unit. Sementara Mei 2026 mencatat angka seimbang di 3.000 unit untuk wholesales dan retail sales.

Secara keseluruhan, Jaecoo disebut berhasil masuk lima besar penjualan mobil nasional pada Mei 2026.

“Konsumen melihat produk kita sebagai mobil yang memang dibutuhkan, dan menjadi pilihan mereka untuk berkendara. Teknologi yang kita tawarkan dapat dimiliki dan dinikmati bagi konsumen,” kata Jim Ma.

Perluasan Jaringan Jadi Kunci

Seiring pertumbuhan pasar NEV di Indonesia, Jaecoo juga memperluas jaringan dealer dan layanan purna jual. Hingga saat ini, tercatat sudah ada 35 dealer yang beroperasi.

Perusahaan menargetkan ekspansi hingga 80 dealer di seluruh Indonesia pada akhir 2026. Langkah ini dinilai penting untuk mendukung adopsi kendaraan listrik yang masih menghadapi tantangan infrastruktur dan layanan.

Kesimpulan: Hemat, Tapi Perlu Dilihat Lebih Dalam

Simulasi biaya kepemilikan menunjukkan bahwa mobil listrik dan PHEV memang berpotensi lebih hemat dibanding mobil bensin. Namun, klaim penghematan hingga 88 persen tetap perlu dilihat secara menyeluruh.

Faktor seperti harga awal kendaraan, biaya penggantian baterai, hingga ketersediaan infrastruktur pengisian daya juga menjadi variabel penting dalam menghitung total cost of ownership secara nyata.

Dengan kata lain, efisiensi biaya memang ada, tapi tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan pola penggunaan masing-masing konsumen.

 
Kendaraan Terkait Lihat Semua