Jakarta, Goodcar.id – Mobil terasa semakin boros bensin tidak selalu berarti ada masalah pada mesin. Cara berkendara, kondisi ban, beban kendaraan, hingga kebiasaan melakukan perawatan justru bisa ikut menentukan seberapa banyak bahan bakar yang dikonsumsi setiap hari.
Efisiensi bahan bakar menjadi semakin penting ketika pengendara harus lebih cermat mengatur pengeluaran untuk kebutuhan kendaraan. Mobil dengan teknologi dan mesin yang dirancang untuk efisien tetap membutuhkan cara penggunaan serta perawatan yang tepat agar konsumsi BBM tidak meningkat tanpa disadari.
Nur Imansyah Tara, Marketing Division Head Auto2000, mengatakan pengemudi perlu memahami bahwa efisiensi bahan bakar tidak hanya bergantung pada teknologi kendaraan.
“AutoFamily harus pintar mengelola penggunaan bensin pada mobil agar lebih efisien daam penggunaannya. Langkah yang dilakukan terkait bagaimana merawat dan mengemudikan mobil di jalan. Untuk itu pahami bagaimana agar konsumsi BBM lebih hemat,” jelas Nur Imansyah Tara, Marketing Division Head Auto2000, Senin (18/5/2026).
Lantas, apa saja penyebab mobil boros bensin yang sering terjadi? Berikut delapan hal yang perlu diperhatikan.
1. Tekanan Ban Kurang
Tekanan ban yang berada di bawah rekomendasi pabrikan dapat meningkatkan hambatan gulir. Kondisi tersebut membuat mesin membutuhkan tenaga lebih besar untuk menggerakkan kendaraan, terutama ketika mobil digunakan dalam situasi stop and go di tengah kemacetan.
Karena itu, tekanan ban sebaiknya diperiksa secara rutin dan disesuaikan dengan rekomendasi pabrikan. Ban dengan tekanan yang tepat tidak hanya membantu menjaga efisiensi BBM, tetapi juga berpengaruh terhadap kenyamanan dan pengendalian kendaraan.
2. Mobil Membawa Beban Berlebihan
Setiap kendaraan memiliki batas kemampuan untuk membawa penumpang dan barang. Ketika mobil digunakan dalam kondisi terlalu berat atau overload, mesin harus bekerja lebih keras untuk menghasilkan tenaga yang dibutuhkan.
Beban tambahan tersebut pada akhirnya dapat meningkatkan konsumsi bensin. Selain berpengaruh terhadap efisiensi, membawa muatan melebihi kemampuan kendaraan juga dapat memengaruhi stabilitas dan keselamatan saat berkendara.
3. Gaya Mengemudi Agresif
Kebiasaan menginjak pedal gas secara dalam, melakukan akselerasi mendadak, kemudian mengerem keras merupakan salah satu penyebab konsumsi bensin meningkat.
Mesin harus menyediakan tenaga lebih besar setiap kali pengemudi melakukan akselerasi agresif. Pola berkendara seperti ini, terutama jika dilakukan berulang kali di perkotaan, membuat konsumsi BBM menjadi lebih tinggi dibandingkan gaya mengemudi yang halus dan konstan.
4. Modifikasi Mobil Berlebihan
Modifikasi kendaraan juga dapat memengaruhi konsumsi bahan bakar. Salah satu contohnya adalah penggunaan pelek berukuran lebih besar yang biasanya diikuti ban dengan telapak lebih lebar.
Kombinasi tersebut dapat meningkatkan beban dan hambatan gulir kendaraan sehingga mesin membutuhkan tenaga lebih besar. Penambahan aksesori eksterior seperti spoiler juga berpotensi menambah bobot kendaraan.
Modifikasi yang bertujuan meningkatkan performa mesin pun dapat membuat konsumsi BBM berubah karena mesin bekerja dengan karakter yang berbeda. Begitu pula dengan aksesori kelistrikan tambahan yang membutuhkan daya lebih besar.
5. Menggunakan BBM Tidak Sesuai Rekomendasi
Jenis bensin yang digunakan sebaiknya disesuaikan dengan rekomendasi pabrikan dan kebutuhan mesin. Penggunaan BBM yang tidak sesuai dapat memengaruhi proses pembakaran.
Dalam kondisi tertentu, pembakaran yang tidak optimal dapat membuat mesin bekerja kurang efisien. Pengemudi juga berpotensi harus menginjak pedal gas lebih dalam untuk mendapatkan respons yang diharapkan sehingga konsumsi bensin ikut meningkat.
6. Terlambat Ganti Oli Mesin
Oli mesin bukan sekadar cairan yang harus diganti ketika sudah habis. Pelumas memiliki fungsi penting untuk mengurangi gesekan antar-komponen di dalam mesin.
Ketika penggantian oli terlambat, kemampuan oli dalam melumasi komponen dapat menurun. Gesekan yang meningkat membuat kerja mesin menjadi lebih berat dan dalam jangka panjang dapat mempercepat keausan sejumlah komponen.
Karena itu, penggantian oli sebaiknya mengikuti interval yang telah ditentukan pabrikan, termasuk memperhatikan jarak tempuh maupun periode waktu pemakaian.
7. Tidak Memanfaatkan Mode ECO
Sejumlah mobil modern menyediakan mode berkendara ECO yang dirancang untuk membantu pengemudi mengontrol respons kendaraan agar lebih efisien.
Saat mode ini digunakan, respons akselerasi dapat dibuat lebih lembut sehingga pengemudi tidak mudah melakukan akselerasi berlebihan. Karakter tersebut cukup relevan untuk penggunaan harian di perkotaan yang lebih banyak membutuhkan pengendalian kecepatan dibandingkan akselerasi maksimal.
Namun, mode ECO bukan berarti konsumsi bensin otomatis menjadi paling irit dalam semua kondisi. Cara pengemudi menginjak pedal gas, kondisi jalan, beban kendaraan, serta faktor lain tetap berpengaruh.
8. Malas Melakukan Servis Berkala
Perawatan berkala menjadi bagian penting untuk menjaga kondisi kendaraan. Mobil yang jarang diperiksa berisiko mengalami penurunan performa pada sejumlah komponen yang akhirnya dapat memengaruhi efisiensi BBM.
Dalam servis berkala, kondisi mesin dan berbagai komponen pendukung dapat diperiksa, termasuk filter serta bagian lain yang berhubungan dengan performa kendaraan. Gangguan kecil yang terdeteksi lebih awal juga dapat ditangani sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
Pada akhirnya, penyebab mobil boros bensin tidak selalu berasal dari satu faktor. Kondisi kendaraan, tekanan ban, beban, gaya mengemudi, jenis BBM, hingga kedisiplinan melakukan servis saling berkaitan dalam menentukan konsumsi bahan bakar.
Bagi pengendara yang ingin menghemat bensin, langkah paling sederhana adalah mulai dari kebiasaan sehari-hari: menjaga tekanan ban, menghindari membawa beban berlebihan, berkendara lebih halus, menggunakan BBM sesuai rekomendasi, serta tidak melewatkan jadwal perawatan kendaraan.