Beranda / Artikel / Toyota Ganti CEO, Kenta Kon Naik di Tengah Tekanan Mobil China
Artikel

Toyota Ganti CEO, Kenta Kon Naik di Tengah Tekanan Mobil China

Tigor Sihombing
27 March 2026 14:58

TOKYO, Goodcar.id - Toyota membuat langkah yang mengejutkan industri otomotif global. Pabrikan asal Jepang ini resmi menunjuk Kenta Kon sebagai CEO baru, menggantikan Koji Sato di tengah tekanan kompetisi dari produsen mobil China yang bergerak agresif.

Kon dikenal sebagai sosok kepercayaan Akio Toyoda dan pernah menjadi sekretarisnya selama bertahun-tahun. Dengan latar belakang kuat di keuangan, ia kini diberi mandat untuk menjaga stabilitas sekaligus mempercepat adaptasi Toyota di era disrupsi industri.

Di sisi lain, Sato akan resmi mundur pada 1 April setelah menjabat sekitar tiga tahun. Ia tidak benar-benar “keluar”, melainkan bergeser menjadi wakil ketua sekaligus mengisi posisi baru sebagai chief industry officer—peran yang lebih fokus pada arah industri secara luas.

Nama Kenta Kon sendiri bukan orang baru di balik layar strategi Toyota. Ia dikenal disiplin dalam efisiensi biaya dan disebut-sebut sebagai otak di balik rencana akuisisi penuh Toyota Industries. Langkah ini bertujuan memperkuat kendali keluarga Toyoda terhadap grup, meski menuai kritik dari investor minoritas karena dinilai kurang transparan dan undervalued.

Di Toyota Sejak 2009

Perjalanan karier Kon juga cukup panjang. Ia mendampingi Toyoda sejak 2009, saat era kepemimpinan modern Toyota mulai terbentuk, hingga akhirnya naik menjadi kepala divisi akuntansi pada 2017. Sementara Toyoda sendiri memimpin hampir 14 tahun sebelum menyerahkan tongkat estafet ke Sato.

Menariknya, pengumuman pergantian CEO ini datang bersamaan dengan laporan keuangan kuartal ketiga. Toyota bahkan menaikkan proyeksi laba operasional tahunan hampir 12%, didorong pelemahan yen dan strategi efisiensi yang cukup konsisten. 

Di tengah peta persaingan global yang makin dinamis, industri otomotif kini berada dalam fase “reset”. Pabrikan China terus menekan lewat inovasi cepat dan harga kompetitif. Namun Toyota memilih jalur berbeda, tidak terburu-buru ke EV penuh, melainkan tetap mengandalkan hybrid sebagai tulang punggung.

Strategi ini terbukti cukup solid. Saat banyak rival terpukul oleh biaya besar transisi EV, termasuk Stellantis yang mencatat penurunan nilai aset hingga USD 26,5 miliar, Toyota justru mencatat rekor penjualan dan kembali mempertahankan status sebagai produsen mobil terlaris dunia.

Dalam struktur baru ini, peran Kon dan Sato dibuat lebih spesifik. Kon akan fokus ke manajemen internal dan efisiensi perusahaan, sementara Sato menangani isu industri yang lebih luas. Tujuannya jelas mempercepat pengambilan keputusan di tengah perubahan pasar yang sangat cepat, terutama dari tekanan pemain China.

James Hong dari Macquarie melihat perubahan ini sebagai sinyal bahwa Toyota mulai memperkuat sisi non-produk. “Kon punya pengalaman lebih dalam menangani masalah keuangan perusahaan dibanding Sato, yang latar belakangnya dari pengembangan produk,” ujarnya.

Menariknya, Kon sendiri mengaku tidak menyangka akan ditunjuk sebagai CEO. Ia bahkan sempat merasa “blank” saat pertama kali ditawari posisi tersebut. Sementara itu, Sato menegaskan bahwa keputusan ini tidak melibatkan Toyoda secara langsung.

Selain itu, Kon juga memiliki peran penting di Woven by Toyota, anak usaha yang fokus pada teknologi mobilitas dan software. Pengalaman ini dinilai krusial, mengingat Toyota saat ini sedang berupaya mengejar ketertinggalan di sektor software dibanding rival China.

Sato sendiri mulai memimpin sejak April 2023, saat Toyota mendapat tekanan besar karena dianggap terlambat masuk ke kendaraan listrik berbasis baterai. Namun dalam periode singkatnya, performa saham Toyota justru melonjak dengan total return mencapai 111%, termasuk dividen—melampaui indeks Nikkei 225 yang hanya naik sekitar dua kali lipat.

Meski begitu, tantangan tetap nyata. Toyota masih kehilangan sebagian pangsa pasar, terutama di Asia Tenggara, akibat agresivitas pemain China seperti BYD, juga Chery Group.

Di tengah perang harga dan teknologi, keputusan ini bisa jadi penentu apakah Toyota tetap dominan atau mulai tertinggal di era baru otomotif global. Kita lihat saja!

 
Kendaraan Terkait Lihat Semua