Jakarta, Goodcar.id - Mobil listrik sering memiliki bobot lebih berat dibanding mobil bermesin bensin dengan ukuran dan kelas yang sebanding. Penyebab utamanya adalah baterai berkapasitas besar yang digunakan untuk menyimpan energi.
Baterai menjadi komponen penting sekaligus salah satu bagian terberat pada mobil listrik. Semakin besar kapasitas baterai yang dibutuhkan untuk mengejar jarak tempuh, semakin besar pula massa yang harus dibawa kendaraan.
Berbeda dengan mobil bensin yang membawa energi dalam bentuk bahan bakar cair, mobil listrik menyimpan energi di dalam battery pack.
Battery pack sendiri bukan hanya terdiri dari sel baterai. Di dalamnya terdapat modul, sistem manajemen baterai, sistem pendinginan, kabel tegangan tinggi, casing, serta berbagai perangkat keselamatan. Seluruh komponen tersebut menambah bobot kendaraan.
U.S. Department of Energy (DOE) bahkan secara khusus memasukkan pengurangan bobot baterai sebagai salah satu fokus pengembangan kendaraan listrik.
“Reducing the cost, volume, and weight of batteries” menjadi salah satu fokus Transportation Technologies Office dalam pengembangan kendaraan listrik.
Artinya, bobot baterai memang masih menjadi tantangan teknologi EV, bukan sekadar anggapan bahwa mobil listrik terasa lebih berat.
Kenapa Baterainya Tidak Dibuat Lebih Kecil?
Karena kapasitas baterai berhubungan langsung dengan energi yang tersedia dan jarak tempuh kendaraan.
Baterai berkapasitas besar dapat menyimpan lebih banyak energi, sehingga kendaraan berpotensi memiliki jarak tempuh lebih jauh. Konsekuensinya, ukuran dan bobot battery pack juga dapat meningkat.
Di sinilah energy density menjadi penting. Semakin banyak energi yang bisa disimpan dalam setiap satuan berat atau volume baterai, semakin kecil baterai yang dibutuhkan untuk mendapatkan jarak tempuh tertentu.
DOE mencatat peningkatan energy density volumetrik baterai lithium-ion dari sekitar 55 Wh/liter pada 2008 menjadi 450 Wh/liter pada 2020. Peningkatan ini memungkinkan energi lebih besar disimpan dalam ruang yang lebih kecil.
Menariknya, bukan motor listrik yang menjadi penyebab utama mobil listrik lebih berat.
Sistem motor listrik justru relatif sederhana dibanding sistem mesin pembakaran yang membutuhkan berbagai komponen seperti mesin, transmisi, sistem bahan bakar, exhaust, dan sistem pendinginan.
DOE juga terus mengembangkan motor listrik dan sistem penggeraknya agar lebih ringan, efisien, dan kompak. Namun, baterai tetap menjadi salah satu komponen yang paling berpengaruh terhadap bobot EV.
Mobil Berat Belum Tentu Tidak Efisien
Bobot besar memang membutuhkan energi lebih banyak ketika kendaraan berakselerasi. Karena itu, mengurangi bobot tetap penting untuk meningkatkan efisiensi.
DOE menyebut pengurangan bobot kendaraan sebesar 10 persen dapat meningkatkan efisiensi bahan bakar sekitar 6–8 persen pada konteks kendaraan konvensional. Pada kendaraan listrik, penggunaan material ringan juga dapat membantu mengimbangi bobot baterai dan meningkatkan efisiensi serta jarak tempuh.
Karena itu, produsen tidak hanya berlomba meningkatkan kapasitas baterai. Mereka juga mengembangkan material ringan seperti aluminium, magnesium, high-strength steel, hingga material komposit untuk mengurangi bobot kendaraan.
Ada Keuntungan dari Bobot Baterai
Meski berat, penempatan battery pack biasanya berada di bagian bawah lantai kendaraan. Posisi ini membuat pusat gravitasi mobil lebih rendah.
Dampaknya, mobil listrik dapat memiliki karakter berkendara yang stabil, terutama ketika menikung. Jadi, bobot baterai yang besar tidak selalu menjadi kelemahan dari sisi pengendalian kendaraan.
Namun, massa yang lebih tinggi tetap memberikan konsekuensi terhadap ban, suspensi, dan sistem pengereman. Komponen-komponen tersebut harus dirancang untuk menangani bobot kendaraan secara keseluruhan.
Jadi, kenapa mobil listrik lebih berat? Jawaban paling sederhananya adalah karena baterainya.
Mobil listrik membutuhkan battery pack berkapasitas besar untuk menyimpan energi. Semakin jauh jarak tempuh yang ditargetkan, kebutuhan energi umumnya semakin besar sehingga baterai juga dapat menjadi lebih besar dan berat.
Tantangan industri sekarang adalah mendapatkan energy density yang lebih tinggi, sehingga baterai mampu menyimpan lebih banyak energi dengan bobot yang lebih rendah. Pada saat yang sama, penggunaan material ringan terus dikembangkan untuk mengurangi massa bodi dan komponen kendaraan.
Dengan kata lain, masa depan mobil listrik bukan hanya soal baterai yang lebih besar, tetapi juga baterai yang lebih ringan dan mampu menyimpan energi lebih banyak.