Jakarta, Goodcar.id - Ketika mobil terintegrasi dengan perangkat digital, perannya tak lagi sebatas alat transportasi. Kendaraan modern mampu menjaring, mengolah, dan mengirim data secara terus-menerus. Dari titik inilah isu keamanan data mengemuka—menjadi taruhan besar bukan hanya bagi pabrikan, tetapi juga bagi negara dan publik.
Kesadaran akan risiko tersebut mendorong berbagai produsen otomotif mulai menata ulang cara mereka mengelola data. GAC Group termasuk yang memilih mengambil langkah formal. Pada 24 Desember 2025, pabrikan asal Tiongkok itu mengumumkan perolehan Sertifikasi Sistem Manajemen Keamanan Data Kendaraan.
Sertifikasi ini disebut sebagai yang pertama di industri otomotif Tiongkok. Namun yang diuji bukan sekadar kecanggihan teknologi. Standar yang digunakan menilai keseluruhan ekosistem perusahaan, mulai dari struktur organisasi, kebijakan internal, hingga relasi GAC dengan mitra di sepanjang rantai industri. Artinya, yang diperiksa adalah tata kelola, bukan hanya sistem.
Penilaian semacam ini tidak hadir dalam ruang hampa. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Tiongkok memperketat regulasi terkait pengelolaan data. Beijing mengesahkan Undang-Undang Keamanan Data serta Undang-Undang Perlindungan Informasi Pribadi, yang secara langsung berdampak pada industri otomotif.
Sektor otomotif menjadi perhatian khusus karena kendaraan pintar dipandang sebagai “sumber data bergerak”. "Mobil bukan hanya merekam kondisi teknis, tetapi juga lokasi, pola berkendara, hingga kebiasaan pengguna. Data semacam ini, jika tidak dikelola dengan ketat, berpotensi menimbulkan risiko yang lebih luas," tulis GAC dalam keterangan resminya dikutip 8 Januari 2026.
Dalam konteks tersebut, sertifikasi yang diraih GAC dapat dibaca sebagai bentuk kepatuhan terhadap regulasi yang kian ketat. Namun, pada saat yang sama, langkah ini juga merupakan strategi. Di tengah persaingan global, citra sebagai produsen yang aman dalam mengelola data menjadi nilai penting, terutama ketika pasar semakin sensitif terhadap isu privasi.
Tekanan terhadap pabrikan pun tidak lagi datang semata dari regulator. Konsumen dan mitra internasional mulai menaruh perhatian pada bagaimana data dikumpulkan dan dilindungi. Keamanan data kini menjadi bagian dari reputasi, bukan sekadar urusan kepatuhan administratif.
GAC menyatakan sistem keamanan data mereka diterapkan sejak tahap perancangan kendaraan hingga layanan purna jual, mencakup merek HYPTEC, GAC, dan AION. Pendekatan menyeluruh ini, jika konsisten dijalankan, berpotensi menekan risiko kebocoran data di sepanjang siklus hidup kendaraan.
Namun di sinilah ruang kritisnya muncul. Sertifikasi menunjukkan kesiapan struktural, tetapi bukan jaminan mutlak. Sejarah industri teknologi memperlihatkan bahwa pelanggaran data kerap terjadi justru pada perusahaan yang telah mengantongi berbagai standar keamanan. Tantangan utama terletak pada implementasi harian dan pengawasan berkelanjutan.
Bagi konsumen, isu ini mungkin terasa jauh dari pengalaman berkendara sehari-hari. Tetapi ketika mobil semakin terhubung dengan ponsel, rumah, dan infrastruktur kota, pertanyaan tentang siapa yang memegang kendali atas data menjadi semakin relevan. Data kendaraan bukan sekadar informasi teknis; ia dapat memetakan pola hidup penggunanya.
Karena itu, langkah GAC setidaknya membuka diskusi yang lebih luas: masa depan mobil pintar tidak bisa dilepaskan dari tata kelola data yang transparan dan dapat diaudit. Sertifikasi bisa menjadi titik awal, tetapi kepercayaan publik hanya akan terbentuk melalui konsistensi dan keterbukaan.
Di tengah euforia teknologi otomotif, GAC memilih menyoroti sisi yang jarang dipamerkan. Apakah langkah ini akan berkembang menjadi standar baru industri atau sekadar keunggulan sesaat, waktu yang akan menjawab.