Jakarta, Goodcar.id - Bagaimana cara menghitung biaya operasional mobil listrik? Mobil listrik semakin menjadi pilihan masyarakat Indonesia, terutama di kawasan perkotaan.
Selain alasan ramah lingkungan, efisiensi biaya operasional menjadi daya tarik utama dibandingkan mobil berbahan bakar bensin. Namun, masih banyak yang belum memahami bagaimana cara menghitung biaya operasional mobil listrik secara sederhana.
Secara umum, ada tiga komponen utama yang memengaruhi biaya operasional sebuah mobil listrik, yaitu energi untuk pengisian baterai, biaya perawatan, dan pajak kendaraan. Apakah jika dihitung dengan benar, selisihnya bisa sangat signifikan dibandingkan mobil berbahan bakar fosil? Yuk kita buktikan!
Pertama, kita breakdown dulu biaya energi listriknya. Setiap mobil listrik memiliki konsumsi energi berbeda, biasanya dihitung dalam kWh per kilometer. Dengan tarif listrik rumah sekitar Rp1.700 per kWh, biaya charge mobil listrik untuk perjalanan harian bisa sangat rendah.
Kedua, biaya perawatan. Mobil listrik cenderung lebih hemat karena tidak memiliki komponen mesin bensin yang rumit, seperti oli mesin, busi, atau filter udara.
Ketiga, biaya pajak. Sejak adanya regulasi pemerintah yang memberikan insentif untuk kendaraan listrik, pajak tahunan yang dibayarkan jauh lebih ringan.
Untuk memberikan gambaran nyata, GAC Indonesia baru saja memperkenalkan hatchback listrik AION UT. Sebagai mobil EV tentu saja AION UT menunjukkan efisiensi biaya operasional yang signifikan.
Misal dengan jarak tempuh rata-rata masyarakat perkotaan sekitar 50 kilometer per hari, biaya pengisian AION UT hanya sekitar Rp9.690 per hari, dengan hitungan konsumsi listriknya sekitar 8,77 km per 1 kWh, sesuai dengan klaim pabrikan. Jika dikalikan sebulan, totalnya mencapai Rp290.760, atau sekitar Rp3,48 juta per tahun.
Sebagai perbandingan, mobil bensin dengan konsumsi rata-rata 12 km per liter dan harga Pertamax Rp12.200 per liter bisa menghabiskan biaya sekitar Rp18,3 juta per tahun untuk jarak tempuh yang sama.
Selain energi, faktor lain yang membuat biaya operasional mobil listrik lebih rendah adalah perawatan dan pajak. AION UT menawarkan perawatan gratis selama tiga tahun atau 40.000 km. Setelah itu pun, biaya servis hanya sekitar Rp1 juta per tahun, jauh lebih rendah dibanding mobil bensin yang rata-rata mencapai Rp2,5 juta.
Untuk pajak, AION UT hanya membutuhkan sekitar Rp400 ribu per tahun, sedangkan hatchback konvensional rata-rata bisa mencapai Rp3 juta.
Jika semua komponen dihitung, total biaya operasional AION UT hanya sekitar Rp4,88 juta per tahun. Angka ini mencakup biaya pengisian listrik, perawatan, dan pajak.
Sebaliknya, mobil berbahan bakar bensin dengan jarak tempuh sama bisa menelan biaya sekitar Rp23,8 juta per tahun. Artinya, penghematan yang bisa diperoleh pemilik mobil listrik mencapai 80 persen.
Efisiensi biaya ini menunjukkan bahwa mobil listrik bukan hanya sekadar tren gaya hidup modern, tetapi juga pilihan finansial yang rasional. Dengan biaya energi rendah, perawatan sederhana, dan pajak ringan, mobil listrik menghadirkan solusi mobilitas yang hemat sekaligus berkelanjutan.
Contoh perhitungan pada AION UT membuktikan bahwa kendaraan listrik mampu memberikan manfaat nyata, baik bagi konsumen maupun lingkungan. Ke depan, efisiensi biaya operasional bisa menjadi alasan utama semakin banyak masyarakat Indonesia beralih ke mobil listrik.